Kopiitudashat's Blog

March 15, 2011

sepenggal Surat yang tak Pernah Sampai

Filed under: other — kopiitudashat @ 4:37 pm

Dan aku mulai menulis lagi.
Tidak, bukan sebuah surat. Aku hanya ingin menuliskan sepotong Surat yang Tak Pernah Sampai. Tak pernah sampai karena ia memang tidak pernah terkirim. Terpikir pun tidak.

Suratmu itu takkan pernah terkirim, karna sebenarnya kamu hanya ingin berbicara dengan dirimu sendiri.
Hanya berbicara. Hanya berusaha memaksa diri berpikir dan berpikir untuk kesekian kalinya.

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta

Yang bahkan demi rekaan itu kamu rela menciptakan bayang-bayang yang Cuma ada di kepalamu sendiri. Menguras emosi hanya untuk mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi.
Apa yang ada di kepalanya. Apa yang merebut semua waktunya.
Kamu terobsesi mencari segala hal yang berkaitan dengannya.
Berusaha mengetahui keadaannya dari cerita-cerita yang ia bagi dengan teman-temannya.
Bukan dengan kamu.
Kamu hanya bisa mencari dengan penuh harap.
Deg-degan tentang apa yang akan kamu baca. Dan kemudian kecewa karena tidak satupun dari cerita itu yang berbicara tentang kamu, atau kalian.
Yang pada akhirnya membuatmu lelah dan berhenti untuk berpikir.

Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga menjadi muak, menertawakan segala kebodohannya untuk sampai jatuh padamu.
akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya –dari mulai nota sebaris sampai puisi ber bait-bait.
Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.
Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengenang setiap inci perjalanan, dan inilah tujuan kalian.

Tapi kamu terlalu takut.

Kamu takut untuk sekedar menangisi kepergiannya karena kamu berpikir bahwa dia mungkin akan kembali.
Kamu juga takut.
Takut menantikan kedatangannya karena kamu pikir dia mungkin memang sudah pergi.
Pikiranmu lalu sibuk menerka jawaban yang mungkin dan tak mungkin.
Tanpa menyadari bahwa mungkin ini semua sebenarnya tak ada jawabannya karena mungkin ini hanya imaji yang menari di kepalamu. Mungkin.

Kalau saja hidup tidak ber-evolusi,
kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu,
kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik,

Kalau saja dalam setahun hanya ada satu bulan yang tidak pernah berlalu karena mengabadikan hari-hari kalian bersama.
Kalau saja hidup tidak memaksa orang-orang baru datang dalam kehidupan kalian.
Hanya ada kamu, dia dan segala kenangan tentang kalian.
Desember. Hanya Desember dan segalanya akan baik-baik saja.

maka.. tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan.
Cukup satu.
Satu detik yang segenap kebersamaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya.

Bukan kota itu.
Bukan orang-orang dengan sepatu hak tinggi dan laptop di tangan.
Dan bukan dengan setumpuk diktat tebal yang terus bersaing dengan lampu kota untuk menarik waktumu padanya.
Tidak. Aku hanya ingin satu detik itu hanya untuk aku.

Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah.

Dan satu detik itu harus terbang seperti 1576780000 detik lainnya.

Kamu takut.
Kamu takut karena ingin jujur.
Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.

Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas.
Kata ‘sejarah’ mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian.
Konsep itu menakutkan sekali.

Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas.
Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.

Dan kamu mulai menyadari bahwa dia memang selalu ada di hati dan pikiranmu, tapi tidak di sampingmu.

Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk merekam lalu memainkan ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan.

Karena kamu menganggapnya sempurna. dan kamu yang memuja kesempurnaan rela menunggu dan bersabar demi kesempurnaan itu.

Sementara dalam setiap detik yang berjalan,
kalian seperti musafir yang berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan.
Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tak Boleh Sia-sia.

Berulang-ulang mengulangi proses yang sama hingga kalian menyadari bahwa kalian tidak perlu saling mengerti,
karena memang kalian tidak pernah mengerti.

Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?

Adakah satu saja dari 2592000 detik itu?

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi.

Dan kamu hanya bisa tertegun pada kalimat ini.

Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda.
Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.
Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.

Hingga akhirnya..

(renungan penulis dari “Surat Yang Tak Pernah Sampai”, Filosofi Kopi, Dewi Lestari)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: