Kopiitudashat's Blog

January 15, 2010

MPB TIMUR TENGAH Zionisme Israel dan Pragmatisme Arab : Analisis Akar Konflik Israel-Palestina Oleh Maria Elysabet Mena

Filed under: Uncategorized — kopiitudashat @ 9:51 am


Konflik Israel-Palestina sering disebut sebagai konflik abadi yang tidak akan berakhir, apalagi karena konflik ini juga melibatkan agama dan superpower di dalamnya. Tulisan ini coba melihat bagaimana pembentukan negara Israel dan peranan negara-negara Arab berpengaruh dalam konflik ini.
Dari Zionisme Menuju Nasionalisme
Kedatangan bangsa Yahudi di Palestina dimulai pada tahun 1882 dengan dukungan milyuner Yahudi (Lenczowski 1992). Karena waktu itu jumlah Yahudi di Arab masih sedikit, maka bangsa ini tidak begitu banyak menarik perhatian. Keadaan menjadi berubah ketika zionisme mulai memperluas gerakannya. Gerakan zionisme mengambil nama dari bukit Sion di Yerusalem, bukit dimana Bait Allah dan Kuil Raja Salomo menurut Injil dan Taurat berdiri. Bangsa Israel berpegang pada Taurat yang menyebutkan Israel sebagai bangsa terpilih, dan bahwa akan diberikan tanah perjanjian untuk mereka di tanah Kanaan, yang kini dikenal sebagai Palestina. Akar ideologis ini menjadi kompleks ketika bangsa Yahudi yang terdiaspora menghadapi gerakan anti-Semit di Eropa, khususnya Jerman dan Rusia (Bankier 2007). Karena tekanan ini, Dr.Theodor Herzl pada 1896 menulis buku tentang Judenstaat (negara Yahudi) yang diikuti pembentukan Organisasi Zionis Dunia dan Kongres Zionis pertama di Swiss pada tahun berikutnya (Lenczowski 1992).
Ketika pada 1903 terjadi penganiyaan besar-besaran terhadap orang Yahudi di Rusia, Herzl mengangkat masalah ini pada pemerintah Inggris dan memperoleh Uganda dan Siprus sebagai tawarannya, yang kemudian ditolak karena tidak menginginkan tempat selain Palestina. Ketika Herzl meninggal, gerakan zionisme makin meluas dan mendapat dukungan dari sejumlah jutawan dan organisasi pengumpul dana di Jerman, AS dan Palestina. Walaupun semakin masif, gerakan ini juga mendapat pertentangan dari kalangan Yahudi sendiri. Kelompok Yahudi orthodoks, misalnya, menolak politisasi zionisme karena beranggapan bahwa tanah perjanjian harus kembali dengan campur tangan Tuhan. Hal ini juga didukung oleh rabi Yahudi yang memandang Yudaisme sebagai agama dan bukan nasionalisme. Jumlah Yahudi di Arab pun semakin besar setelah Deklarasi Balfour 1917 memberikan mandat pada orang-orang Yahudi untuk membeli tanah di Palestina. Mandat ini semakin diperkuat oleh holocaust yang dilakukan oleh Nazi selama Perang Dunia II yang membuat gelombang eksodus Yahudi ke Palestina semakin besar.
Jumlah Yahudi yang semakin meningkat menimbulkan gejolak di dunia Arab. Hal ini kemudian membuat Inggris mengajukan masalah Palestina ke PBB pada tahun 1947. Hasil sidang kemudian memutuskan pembagian Palestina berdasarkan kesatuan ekonomi. Palestina dibagi menjadi dua, Palestina Arab dan Palestina Yahudi dimana Yerusalem dan Bethlehem berada di bawah mandat internasional (Lenczowski 1992). Hal ini kemudian menimbulkan kemarahan bagi dunia Arab. Kekecewaan negara-negara Arab semakin besar karena ketika Inggris mengakhiri mandatnya atas Palestina pada 14 Mei 1948. Dewan Nasional di Tel Aviv memproklamasikan berdirinya negara Israel. Segera setelah itu, tentara Arab dari Suriah, Libanon, Yordania, Irak, dan Mesir memasuki Palestina dan perang besar pun berkobar. Perang ini membawa perubahan besar dalam konstelasi politik Timur Tengah, terutama menyangkut kemenangan Israel atas bangsa Arab dan mulai meningkatnya jumlah pengungsi di perbatasan Yordania, Libanon dan Mesir.
Kontak senjata antara Arab dengan Israel tidak berhenti sampai di sini karena pada 1956, Arab (Mesir) dan Israel kembali berhadapan dalam sengketa Terusan Suez. Pada 1967, kedua ras kembali bertemu karena permasalahan aliran air dan tuduhan terorisme pada Yordania, yang pada akhir perang Israel berhasil merebut Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan sehingga secara keseluruhan, wilayah Israel bertambah tiga kali lipat. Enam tahun setelahnya, Israel kembali digempur oleh koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Yom Kippur. Perang tidak lagi mendominasi hubungan Arab-Israel ketika pada 1978, Israel dan Mesir bertemu dalam meja perundingan di Camp David, Amerika Serikat, yang selanjutnya berhasil mengembalikan Sinai pada Mesir (Gettleman 2005).
Situasi Dalam Negeri Israel
Berbeda dengan negara-negara Arab yang mayoritas muncul sebagai akibat dari kolonialisme, embrio terbentuknya Israel merupakan hasil dari nasionalisme etnis, yaitu bagaimana ikatan sebagai bangsa Yahudi memunculkan kesadaran dan keinginan untuk membentuk suatu negara berdasarkan pemahaman ideologis. Keinginan ini diwujudkan oleh eksodus besar-besaran ke tanah Palestina yang selanjutnya membentuk state-building bagi berdirinya entitas negara bernama Israel. Keinginan untuk mendapatkan tanah terjanji kemudian berubah menjadi semangat untuk mempertahankan negaranya dari gempuran negara-negara Arab, suatu semangat yang dapat disebut sebagai nasionalisme negara.
Walaupun berhasil memenangkan sejumlah besar pertempuran, namun sebagai negara yang relatif masih muda, Israel juga menghadapi masalah ekonomi yang kompleks, yaitu berkaitan dengan imigran dan pembangunan pemukiman yang memerlukan dana yang sangat besar. Kesulitan ekonomi ini semakin mengalami defisit karena banyaknya pertempuran yang dihadapi tanpa diimbangi dengan sumber daya alam yang memadai. Hal inilah yang menjadi masalah utama Israel. Negeri ini sangat bergantung pada sumbangan kaum Yahudi di AS. Karena ketergantungan ini, Israel tidak memiliki kekuasaan otonom dan harus mengikuti setiap kebijakan AS. Permasalahan yang tak kalah krusial adalah minimnya pengakuan diplomatik dari negara-negara di dunia, khususnya bagi negara-negara Asia dan Afrika yang semakin mempersempit ruang gerak Israel.
Kebijakan luar negeri Israel, yang dengan demikian erat pengaruhnya terhadap hubungannya dengan negara-negara Arab, sangat ditentukan oleh partai yang menguasai kabinet. Pada pemilu 2001, misalnya, karena kabinet dikuasai oleh Ariel Sharon dari Partai Likud, maka kebijakan yang dijalankan adalah ‘politik keras’, dengan melanjutkan pelebaran pembangunan pemukiman dan kebijakan unilateral terhadap Palestina (Reich 2007). Hal ini berbeda dengan pada pemilu 2006 dimana Ehud Olmert dari Partai Kadima berhasil memperoleh suara mayoritas. Olmert menekankan pada dialog dengan otoritas Palestina pimpinan Mahmud Abbas disertai dengan penarikan pasukan Israel dari Tepi Barat. Penarikan ini kemudian terhalang oleh keengganan Olmert untuk berdialog dengan Hamas sebagai pemenang Pemilu Palestina 2006. Era pemerintahan Olmert juga ditandai dengan invasi Israel Libanon untuk memerangi Hizbullah pada 2006.
Kesimpulan
Konflik Israel-Palestina merupakan salah satu ‘peninggalan’ konflik antar negara superpower, dan penyelesaiannya pun juga bergantung pada kebijakan sang superpower. Mengapa Inggris dan AS begitu bersikeras mendukung zionis? Selain karena lobi Yahudi di AS yang kuat, pada mulanya dukungan ini berkaitan dengan konflik Sekutu-Soviet pada PD I. Gerakan zionisme berasal dari Rusia yang lalu mendapatkan pelarangan di Rusia pula (Lenczowski 1992) sehingga membuat zionis menjadi anti-Rusia. Sikap zionis ini kemudian dimanfaatkan oleh sekutu sebagai salah satu senjata menghadapi Rusia. Pada era pasca Perang Dingin saat ini, upaya peace-making juga bergantung pada AS sebagai superpower dengan sesekali mendapat pengaruh dari Rusia. Karena itulah, penulis berpendapat bahwa selama ‘tangan-tangan di luar’ ini terus ikut campur, konflik Israel-Palestina tidak akan pernah berakhir.
Poin kedua yang penulis cermati adalah mengenai kekalahan Arab dalam Perang Arab-Israel 1948. Kekalahan ini merupakan ironi bagi dunia Arab karena gabungan beberapa negara yang memiliki armada terkuat di Arab ternyata dapat dikalahkan oleh satu negara baru. Penyebabnya antara lain adalah buruknya kepemimpinan dan perselisihan antar negara Arab. Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa persatuan untuk menghadapi musuh bersama tidak akan behasil bila antar negara masih ingin menguasai satu sama lain. Bila ditarik ke belakang, kekalahan Arab ini sebenarnya erat kaitannya dengan nasionalisme yang dibawanya. Nasionalisme Arab dan Israel sama-sama berawal dari nasionalisme etnis. Bedanya, nasionalisme negara Arab terbentuk atas campur tangan kolonial yang membagi-bagi garis batas negara berdasarkan daerah kekuasannya, sehingga kemudian nasionalisme ini tak ubahnya dengan pragmatisme. Berbeda dengan Israel yang sejak awal sudah mempunyai keinginan untuk memiliki dan mempertahankan negara terjanji. Nasionalisme inilah yang menjadi salah satu kekuatan Israel, di samping dukungan dana dan militer dari Barat. Kerapuhan nasionalisme Arab terlihat ketika Mesir, Yordania dan Libanon menghentikan perlawanan ketika telah mendapatkan wilayah yang diinginkan.
Referensi
Bankier, David.2007.”Holocaust” dalam Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation.
Gettleman, Marvin E. and Stuart Schaar. 2005. The Middle East and Islamic World Reader. New York: Groove.
Lenczowski, George.1992.Timur Tengah di Kancah Dunia.Bandung:Sinar Baru Algensindo.
Reich, Bernard. 2007.”Israel (country)” dalam Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.