Kopiitudashat's Blog

January 15, 2010

MBP TIMUR TENGAH Pengaruh Perpecahan Internal Palestina dalam Konflik Israel-Palestina Oleh Maria Elysabet Mena

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 9:57 am

Dinamika internal Palestina merupakan salah satu pemantik utama berbagai gejolak di Timur Tengah. Beberapa poin penting dari konstelasi internal Palestina adalah Palestine Liberation Organization (PLO), Hamas, dan intifadah. Poin-poin ini kemudian menjadi istimewa karena elemen-elemen ini selalu berhubungan dengan konflik Israel-Palestina. Walaupun tidak dapat mengupas keseluruhan konflik dan elemen konflik secara menyeluruh, tulisan ini akan coba melihat bagaimana elemen-elemen yang telah disebutkan di atas mempengaruhi dinamika politik internal Palestina dan hubungannya dengan negara lain.


Palestine Liberation Organization (PLO)
Palestine Liberation Organization (PLO) merupakan salah satu wadah perjuangan rakyat Palestina bentukan Yasir Arafat untuk mendapatkan status legal sebagai negara berdaulat, bukan hanya status ‘bangsa’ seperti yang selama ini diberikan oleh PBB. Selain dilatarbelakangi oleh penindasan dan perebutan tanah Palestina oleh Israel, kemunculan organisasi ini juga dipicu oleh klaim otoritas atas wilayah Palestina yang dilakukan oleh Yordania. Karena itulah, pada awal pembentukannya, PLO memilih cara-cara militer untuk melancarkan perjuangannya. Kebutuhan untuk mewujudkan wakil sah perjuangan Palestina di tanah pengungsian kemudian membuat Arafat mengadopsi strategi pragmatisme dan mengubah haluan kearah diplomasi pada dekade 1980an. Perubahan ini dimanifestasikan dalam Deklarasi Kemerdekaan Palestina tahun 1988 dimana Arafat menyebutkan tujuan eksistensi dua negara (Israel dan Palestina) yang berdampingan secara damai sebagai land for peace (Gettleman and Schaar 2005). Pernyataan ini merupakan kebalikan dari tuntutan sebelumnya yang bertujuan untuk melenyapkan Israel dan membentuk pemerintahan Palestina yang berdaulat. Oleh karena itu, deklarasi ini ditolak oleh organisasi perjuangan Palestina berhaluan radikal seperti The Popular Front for the Liberation of Palestine dan Hamas. Selain pendirian akan land for peace, yang membedakan PLO dengan organisasi Palestina lainnya adalah sifatnya yang lebih sekuler dan mengizinkan keanggotaan dari semua golongan, tak terkecuali Kristen.

Harakat al-Muqawama al-Islamiya (Hamas)
Sikap PLO yang dinilai terlalu lembek pada Israel membuat Harakat al-Muqawama al-Islamiya (Hamas) memilih mengambil sikap ekstrim untuk menekan Israel. Hamas yang berarti ‘Gerakan Pertahanan Islam’, didirikan oleh Syekh Ahmad Yassin – alumnus Al Azhar – pada tahun 1987 dengan mengacu pada gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir sebagai modelnya (www.mideastweb.org). Semula, organisasi ini merupakan sebuah organisasi sosial yang bertujuan untuk memberikan kesejahteraan, pendidikan dan pelatihan militer bagi rakyat Palestina yang menjadi korban tentara Israel. Gerakan sosial ini berubah menjadi gerakan politik dan militer karena sikap Israel yang selalu mengingkari hasil perundingan.
Tujuan pendirian Hamas sebagaimana yang tercantum dalam piagamnya adalah “mengibarkan panji-panji Allah di setiap inci bumi Palestina”. Tujuan inilah yang membedakannya dengan PLO. Hamas menginginkan pelenyapan bangsa Israel dari Palestina dan menggantinya dengan negara Islam. Karena itulah, Hamas menempuh cara-cara radikal dan militer dalam menghadapi Israel, terutama melalui bom bunuh diri dan peluncuran roket melalui Gaza. Peran penting Hamas terlihat dalam intifadah II pada tahun 2000 dan peranannya dalam menentang Perjanjian Oslo . Melalui serangannya pada Israel, Hamas berhasil merebut simpati dan perhatian dari masyarakat dunia, terutama dalam agresi Israel ke Gaza pada pertengahan 2009 lalu.
Walaupun berhasil membunuh pemimpin Hamas – Yassin – Israel tidak dapat membendung pengaruh kuat Hamas di Palestina. Karena itu kemudian Israel dan sekutunya memanfaatkan konflik internal Hamas-Fatah sebagai senjata pemecah perjuangan Palestina. Fatah (Harakat al-Tahrir al-Watania al-Filastani:Gerakan Nasional Pembebesan Palestina) adalah partai yang dibentuk pada 1958 dengan Yasir Arafat sebagai salah satu penggagasnya. Partai ini berhasil mendominasi parlemen Palestina sejak Perang Enam Hari pada 1967, terutama karena kemampuan partai ini untuk menggalang sejumlah bantuan luar negeri. Dengan pengaruh Arafat di dalamnya, Fatah menjalankan kebijakan luar negerinya dengan moderat, termasuk dalam menghadapi Israel. Hal inilah yang membuat Fatah dan Hamas selalu berseberangan. Konflik semakin menguat ketika pada pemilu 2006 Hamas berhasil meraih 76 kursi dari 132 kursi dalam pemilihan anggota parlemen (www.voanews.com). Kemenangan ini menjadi awal terbentuknya kabinet Hamas dan diikuti oleh pendudukan Hamas atas markas Fatah di Gaza. Hasil pemilu ini mendapat penolakan dari AS dan negara-negara Barat lainnya sehingga kemudian Mahmud Abbas membubarkan kabinet dan memecat perdana menteri serta memberlakukan keadaan darurat karena konflik telah mengarah pada pertempuran fisik.
Walaupun mendapat legitimasi dari rakyat melalui pemilu, rakyat Palestina tidak dapat memberikan dukungan yang lebih besar pada Hamas karena penderitaan yang lebih berat dirasakan saat pemerintahan Hamas. Hal ini terjadi karena sebagai penolakan atas pemerintahan Hamas, berbagai lembaga donor terutama dari Barat dan PBB, menarik bantuannya atas Palestina sehingga negara ini mengalami kesulitan dalam pembiayaan pegawai dan kesejahteraan rakyat. Akibatnya, walaupun secara de jure Palestina dipimpin oleh Mahmud Abbas yang seorang Fatah, secara de facto Gaza diperintah oleh Hamas.

Intifadah
Intifadah berarti pemberontakan. Aksi ini berhasil menarik perhatian dunia karena memperlihatkan bagaimana kebrutalan negara dengan persenjataan modern menghadapi perlawanan langsung dari pemuda, wanita, dan anak-anak bersenjatakan lemparan batu. Intifadah pertama terjadi pada 1987 yang dipicu oleh pelindasan truk Israel atas enam anak Palestina (www.tragedipalestina.com). Terakumulasi oleh penderitaan dan kekecewaan yang dialami puluhan tahun karena kekejaman Israel, ratusan rakyat Palestina tanpa mengenal agama, jenis kelamin dan afiliasi politik melempari tentara Israel dengan batu yang kemudian dibalas dengan peluru dan roket Israel. Aksi ini ditanggapi positif oleh Arafat yang sedang berada dalam pengasingan di Tunisia dengan menganggap intifada sebagai proses kebangkitan Palestina menuju berdirinya negara Palestina yang berdaulat. Pandangan yang sedikit berbeda diberikan oleh Hamas yang Ashrawi memandang intifada sebagai akibat dari ketidakmampuan PLO untuk merespon krisis yang ditimbulkan oleh perjanjian Camp David dan kerusuhan di Lebanon.
Setelah sempat melalui perjanjian damai melalui Perjanjian Oslo 1993, intifadah kedua meletus pada 2000 ketika perdana menteri Israel, Ariel Sharon, melakukan kunjungan ke Masjid al-Aqsa bersama ribuan polisi Israel. Masjid al-Aqsa adalah salah satu tempat suci muslim, merupakan kiblat pertama umat Islam. Selain sebagai tempat penting agama Islam, masjid ini juga memiliki nilai tersendiri bagai Yahudi karena bangunan ini berdiri tepat di atas kuil raja Salomo sehingga untuk membangun kembali kuil tersebut, mereka harus menghancurkan masjid itu.

Kesimpulan
Konflik internal antar partai di Palestina menjadi salah satu faktor penghambat perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan tanahnya kembali. Walaupun berseberangan, namun PLO, Fatah, maupun Hamas memiliki peranan tersendiri bagi masa depan Palestina. PLO dan Fatah yang moderat dapat menghimpun bantuan dalam jumlah besar dari negara pendonor sehingga dapat menyelamatkan rakyat Palestina yang kelaparan karena tertutupnya gerbang Rafah. Di sisi lain, Hamas dengan militernya juga dapat menjadi penjamin keamanan yang baik bagi Palestina. Karena itu, daripada menyelenggarakan dualisme kepemimpinan seperti yang terjadi saat ini, penulis beranggapan bahwa akan lebih baik bila kedua kubu bersatu dan mengenyampingkan perbedaan yang ada agar tidak mudah dipecahbelah oleh Israel dan AS. Hamas juga harus lebih melibatkan umat non muslim dalam perjuangannya sehingga perjuangan akan lebih kokoh, seperti yang terlihat dalam intifadah I dan II. Terakhir, dalam hubungannya dengan konflik internal, diperlukan juga pengkajian ulang penerapan model Ikhwanul Muslimin (IM) dalam Hamas. Apakah ada elemen-elemen yang harus disesuaikan, mengingat perbedaan karakteristik kedua negara. IM mungkin akan tepat diterapkan di Mesir karena yang harus dilawan adalah pemerintah, sedangkan di Palestina yang harus dilawan adalah negara penjajah, Israel.

Referensi
Buku
‘Transformation of Palestinian Politics’ dalam Gettleman, Marvin E. dan Stuart Schaar (eds).2005.The Middle East and Islamic World Reader. New York: Groove Press.hlm.203-210.

Internet
Anonim.Intifadah.Diakses pada 2 Desember 2009.(http://www.tragedipalestina.com/intifada01.html)
‘Hamas Menang Besar Dalam Pemilu Palestina’ dalam Newsvoacom edisi 27 Januari 2006.Diakses pada 2 Desember 2009.(http://www.voanews.com/indonesian/archive/2006-01/2006-01-27-voa1.cfm)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: