Kopiitudashat's Blog

January 15, 2010

MBP TIMUR TENGAH Konflik Arab – Israel : Sebuah Model Tentang Pragmatisme Kewilayahan Berbungkus Nasionalisme Oleh Maria Elysabet M

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 9:47 am

Jika banyak orang menganggap bahwa konflik Israel-Palestina yang tak berkesudahan merupakan konflik ras, bahkan agama, maka penulis mempunyai anggapan yang berbeda. Penulis lebih memandang bahwa konflik antar dunia Arab dengan Israel sebenarnya bersumber pada perebutan wilayah. Permasalahan Arab-Israel mulanya berawal dari penunjukan Inggris sebagai pemegang mandat Palestina oleh LBB pada 22 Juli 1920 (Lenczowski 1992). Mandat ini secara eksplisit menyediakan tempat tinggal nasional bagi Yahudi di Palestina. Hal inilah yang ditentang oleh dunia Arab dan menimbulkan gerakan anti Yahudi. Pertentangan semakin kuat ketika organisasi Yahudi mulai menunjukkan efisiensi dan kesejahteraan yang tidak dimiliki oleh negara-negara Arab. Arab sebagai ‘tuan rumah’ pun merasa ‘tersaingi di rumah sendiri’. Kecemburuan ini diperkuat oleh kehadiran zionis yang merupakan representasi kehadiran tentara kolonial di Timur Tengah yang semakin menambah kebencian Arab pada Yahudi. Kecemburuan negara-negara Arab ini dapat dipahami mengingat ambisi Mesir, Irak, Yordania dan Suriah untuk menjadi penguasa Arab sehingga kehadiran Israel yang kuat pun dilihat sebagai ancaman. Ambisi ini pulalah yang menjelaskan alasan keterlibatan empat negara besar tersebut dalam hampir setiap gejolak di Timur Tengah.
Konflik Arab-Israel memasuki babak baru ketika dalam sidang PBB pada November 1947 memutuskan bahwa Palestina akan dibagi menurut kesatuan ekonomi menjadi negara Palestina Arab dan Palestina Yahudi. Negara Arab meliputi bagian tengah dan timur Palestina, meliputi Lembah Esdraelon ke Beersheba, Galilea Barat dan sepanjang pantai Mediterania dari Gaza Selatan serta sepanjang perbatasan Mesir sampai Laut Merah (Lenczowski 1992). Sementara negara Yahudi terbentang dari Galilea Timur sampai Lembah Esdraelon, daerah pantai dari Haifa hingga ke selatan Yaffa dan sebagian besar Negeb (Lenczowski 1992). Dalam perjanjian ini, Yerusalem dan Bethlehem masuk wilayah internasional. Terlihat jelas bahwa dari pembagian ini luas wilayah Yahudi jauh lebih besar daripada wilayah Arab, bahkan dapat dikatakan bila wilayah Yahudi mengelilingi wilayah Arab. Pembagian ini sangat tidak seimbang jika dibandingkan dengan populasi Yahudi yang hanya 10% dari keseluruhan populasi Palestina.
Kekecewaan terhadap pembagian ini berujung pada Perang Arab-Israel 1948 dimana Suriah, Libanon, Yordania, Irak, dan Mesir memasuki Palestina dan menyerang perkampungan Yahudi. Perang ini menandai jatuhnya ¾ wilayah Palestina ke Israel serta terusirnya 70% warga Arab dari rumahnya. Perang kembali berkobar delapan tahun kemudian. Kali ini, permasalahanya bukan lagi untuk mempertahankan wilayah Palestina melainkan untuk mempertahankan akses ke Terusan Suez. Karena itulah perang ini lebih banyak melibatkan kontak antara Mesir dan Israel. Secara umum, konflik Suez ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Pertama, pada Juli 1956 Nasser menasionalisasi Terusan Suez sehingga menimbulkan krisis serius dengan Perancis dan Inggris (Lenczowski 1992). Konflik semakin meruncing ketika Suriah, Mesir, dan Arab sepakat untuk menggabungkan kekuatan militer bersama di bawah komando Mesir. Ketika konflik memanas, AS tidak dapat berbuat banyak karena pada saat itu AS sedang disibukkan dengan pelaksanaan pemilu (www.hamline.edu). Faktor-faktor ini semakin disulut oleh konfrontasi Israel dengan negara-negara Arab yang tak kunjung berhenti, ditandai oleh serangan terus-menerus di daerah perbatasan. Keadaan semakin diperparah oleh penolakan Mesir untuk membuka Terusan Suez untuk Israel serta bantuan senjata dari Soviet kepada Mesir. Bantuan ini membuat Israel mengklaim bahwa perjanjian Tiga Pihak (Mei 1950) antara Inggris – AS – Perancis sudah dirusak oleh Pakta Soviet – Mesir. Arti penting perang ini terletak pada kemenangan yang berhasil diraih oleh Israel walaupun diiringi dengan ketegangan pada hubungan AS – Israel.
Hasrat ekspansionisme Israel paling jelas terlihat saat Perang Enam Hari. Perang yang terjadi pada 1967 ini merupakan peperangan antara Israel menghadapi Mesir, Yordania, dan Suriah. Walaupun sempat kewalahan, Israel tetap menunjukkan keperkasaannya dengan merebut Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan sehingga secara keseluruhan, wilayah Israel bertambah tiga kali lipat (Stein 2007). Banyak faktor yang dipertimbangkan sebagai penyebab perang ini, salah satunya adalah akses ke Terusan Suez dan tuduhan terorisme pada Yordania. Tujuh tahun setelahnya, Israel kembali mendapat gempuran pada hari yang paling suci dalam kalender Yahudi, hari raya Yom Kippur. Walaupun secara geografis tidak menimbulkan perubahan yang berarti, perang ini memiliki arti penting bagi Mesir, yaitu bagaimana Mesir berhasil membangun kepercayaan dirinya kembali setelah kalah pada perang-perang sebelumnya.
Perang Yom Kippur menandai babak baru dalam hubungan Arab-Israel. Hal ini disebabkan karena senjata baru yang digunakan Arab untuk melawan AS-Israel, minyak. Karena embargo minyak yang diberlakukan oleh Arab pada Israel dan sekutunya, maka AS menginisiatif perjanjian di Camp David pada 1978. Dalam perjanjian ini, Israel berjanji akan mengundurkan diri sampai ke perbatasan internasional dan menyerahkan Sinai pada Mesir. Dari sinilah perubahan geopolitik di Timur Tengah dimulai. Mesir merupakan salah satu negara Arab yang pertama kali mengadakan hubungan perdagangan dengan Israel. Suatu keputusan yang kemudian membuat Mesir harus dikucilkan dari dunia Arab. Ironi kemudian muncul karena tak lama setelahnya, Aljazair, Maroko dan Tunisia diketahui mengikuti jejak Mesir.
Dari serangkaian konflik yang melibatkan Arab-Israel, terlihat jelas kepentingan nasional masing-masing negara Arab yang dibungkus dalam rangka ‘nasionalisme Arab’. Yordania, misalnya, keterlibatannya dalam Perang Arab-Israel 1948, menurut penulis, tidak lebih dari bentuk kekhawatirannya melihat wilayah yang selama ini menjadi ‘anak asuhnya’, kini menjadi ancaman penaklukkan oleh negara baru. Jadi, dalam perang yang berperan adalah terusiknya perasaan Yordania sebagai wali dari holy land, bukan solidaritas atas penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina. Buktinya dapat dilihat dari mundurnya Yordania dari garis depan melawan Israel setelah berhasil mendapatkan kembali Dataran Tinggi Golan. Ia bahkan sempat mengusir PLO ke Tunisia, satu hal yang menggarisbawahi kepentingan akan wilayah yang dimilikinya.
Mesir juga melakukan hal yang serupa. Walaupun tak henti-hentinya mendukung Palestina, ia langsung melunak ketika Israel menawarkan pengembalian Gurun Sinai. Sebuah pragmatisme geopolitik yang menandai suatu bangunan rapuh berpondasikan ‘nasionalisme Arab’. Dalam invasi Israel ke Gaza 2009 juga dapat dilihat bentuk pragmatisme Mesir dengan menutup gerbang Rafah sehingga semakin mempersulit ruang gerak rakyat Palestina. Fakta-fakta di atas kemudian semakin memperkuat argumen penulis bahwa konflik Timur Tengah merupakan konflik wilayah dan hanya dapat diselesaikan melalui analisisis wilayah kekuasaan, bukan analsisis agama dan ideologis.

Referensi
Buku
Lenczowski, George.1992.Timur Tengah di Kancah Dunia.Bandung:Sinar Baru Algensindo.
Stein, Kenneth W.2007.”Arab-Israeli War of 1973″ in Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation.

Internet
Hazael, Piter.2009.Hambatan-hambatan dalam Perdamaian Israel-Palestina.Diakses pada 20 November 2009 (http://www.hamline.edu/apakabar/).

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: