Kopiitudashat's Blog

January 15, 2010

MBP Timur Tengah Kebangkitan Dua Kelompok Radikal Islam Mesir : Suatu Komparasi Oleh Maria Elysabet M

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 9:54 am

Salah satu elemen pengaruh dalam konstelasi politik Timur Tengah adalah politik dalam negeri Mesir mengingat posisinya sebagai pemain kunci di Timur Tengah. Dinamika politik dalam negeri Mesir ditandai dengan kebangkitan kelompok-kelompok Islam radikal yang aksinya mempengaruhi kelahiran kelompok militan di negara lain. Kelompok Islam radikal yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Takfir wal-Hijra (Masyarakat Muslim) dan Jama’at al-Jihad (Masyarakat Pejuang) dimana keduanya mempunyai perbedaan sekaligus persamaan yang saling bersinggungan. Kemunculan kedua kelompok ini berawal dari kebangkitan Islam di Mesir yang secara historis selalu berulang pada masa-masa krisis. Kebangkitan ini dipicu pula oleh kekecewaan dan ketimpangan sosial yang diakibatkan oleh kolonialisme dan westernisasi.
Gerakan radikalisme Islam di Mesir berawal dari gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) yang menguat pada era Anwar Sadat sebagai bentuk partisipasi politik non kekerasan (David 1999). IM berdiri atas prakarsa Sayyid Qutb yang menginterpretasikan beberapa ajaran Islam yang membuatnya berkesimpulan bahwa pemerintahan saat itu adalah pemerintahan jahiliyya dan oleh karenanya harus ditegakkan jihad untuk melawannya. Meluasnya radikalisasi Islam pada dekade 1970an dipicu oleh terguncangnya Arab oleh modernisasi dan westernisasi yang mengakibatkan pemerintahan yang korup dan dislokasi sosial. Kondisi ini diperparah oleh tindakan represif rezim militer sehingga perlawanan menggunakan doktrin agama dianggap sebagai cara yang paling tepat (www.mzuhdijasser.com). Apalagi pada masa itu, muncul banyak ahli masjid yang tidak mendapat kontrol pemerintah sehingga rekruitmen militansi berjalan dengan lancar. Kemunculan kelompok ini juga didukung oleh tingginya pendapatan negara-negara Arab dari minyak yang kemudian menjadi sumber pendanaan kelompok militan. Kondisi ini diikuti oleh perang Arab – Israel 1973, revolusi Iran 1979, dan embargo terhadap Barat yang menandai power hubungan Arab – Barat. Tak jarang pemerintah menggunakan kelompok ini untuk kepentingannya, misalnya ketika Anwar Sadat menggunakan Jama`at Islamiyya sebagai senjata melawan kelompok mahasiswa bentukan Nasser.

Jama’at Al-Muslimin
Kelompok radikal yang lebih dikenal dengan nama Takfir ini didirikan oleh Shukri Mustafa, pemimpin IM yang menganut pemikiran-pemikiran Qutb dan memposisikan diri sebagai mahdi sehingga menuntut pengabdian penuh dari pengikutnya (David 1999). Organisasi ini merupakan satu-satunya kelompok yang secara aktif juga merekrut wanita dan lebih bersifat separatis pasif dengan ideologi pembebasannya. Jadi, perlawanannya lebih bersifat laten.

Jama`at Al-Jihad
Kelompok ini dibentuk oleh Muhammad Abd al-Salam Faraj yang kecewa terhadap kepasifan IM. Ia terlibat dalam banyak konflik internal Mesir seperti pada Upper Egypt and Kairo yang pada puncaknya aksi pembunuhan Sadat dalam sebuah parade pada Oktober 1981. Berbeda dengan Takfir yang mengandalkan satu pemimpin absolut, kepemimpinan Al Jihad lebih bersifat collective leadership.

Perbandingan Dua Kelompok Islam Radikal
Walaupun memiliki sejumlah perbedaan dalam operasionalnya, kedua kelompok sepakat mengenai ide tentang pemurnian ajaran Islam. Tujuan jangka panjangnya adalah mewujudkan negara universal Islam (umma) dibawah pemerintahan kalifah dan menegakkan syariah Islam. Dalam perkembangannya, tujuan jangka panjang ini mengalami percabangan. Takfir menekankan kepemimpinan yang karismatik dan pendirian negara Islam yang akan menjadi superpower ketiga, sementara al Jihad lebih menekankan pada penegakan syariah. Persamaan kedua kelompok juga terletak pada strategi perekrutan yang digunakan, yaitu dengan memanfaatkan ikatan kekeluargaan dan pertemanan. Target mereka adalah pelajar dari daerah yang berasal dari golongan menengah ke bawah yang baru pindah ke kota dan merasa teralienasi dengan lingkungan barunya. Karena itu, umumnya anggota yang direkrut dibekali keahlian ilmu dan teknologi yang tinggi.
Kedua kelompok juga sepakat dengan dilaksanakannya revolusi Islam nasional sebagai langkah awal dari gerakan pembaharuan. Perbedaan hanya terletak pada targetnya. Tafkir menganggap kaum jahiliyah tidak hanya terdiri dari pemerintah tetapi juga masyarakat sehingga strateginya adalah menarik sejumlah kecil pengikut untuk keluar dari masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan sifat perjuangan menjadi kurang militan. Tafkir juga memerintahkan pengikutnya untuk tidak mengikuti hukum apapun yang berlaku di Mesir, termasuk untuk bekerja pada pemerintah Mesir. Karena kepasifannya, kelompok ini tidak terlalu dipandang sebagai ancaman bagi pemerintah Mesir. Tafkir menemuin kejatuhannya karena intervensi polisi atas kekerasan yang dilakukan Tafkir pada pengikutnya yang dianggap membangkang. Hal ini berbeda dengan Al Jihad yang lebih memilih untuk menyusup ke pemerintahan dan militer guna melancarkan serangan. Mereka juga mendoktrinasi seluruh pelajar Mesir dengan ajakan untuk jihad. Kedua kelompok juga mendeklarasikan perang melawan Kristen dan Yahudi yang dianggap akan menghancurkan tatanan Islam. Keduanya juga menganggap dirinya sebagai mahdi atau pasukan mahdi.
Perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian membuat perbedaan pada nasib akhir kedua kelompok ini. Pada akhirnya, selepas kematian Mustafa, Tafkir mulai pecah dan anggotanya bergabung dengan gerakan radikal lainnya. Hal ini disebabkan karena operasionalisasi yang hanya bertumpu pada satu pemimpin seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebaliknya, Al Jihad lebih bertahan dan berhasil memperluas pengaruhnya ke negara lain seperti Suriah, Lebanon dan Iran, serta mendeklarasikan perangnya melawan Hosni Mubarak. Kelompok ini kemudian terkenal di percaturan politik internasional karena beberapa anggotanya termasuk Sheikh Abd al-Rahman terlibat dalam pengeboman WTC.

Kesimpulan
Salah satu elemen kunci dalam menganalisis dinamika politik luar negeri Mesir adalah pemahaman mengenai dua kelompok Islam radikal di dalamnya, Tafkir dan Al Jihad. Pemahaman mengenai kelompok ini diperlukan untuk mengetahui proses ideologisasi Islam modern ini. Pemahaman mengenai ideologi radikal ini memberi jawaban atas terbatasnya dukungan rakyat Mesir terhadap kelompok ini, terutama akibat dari dirombaknya pemahaman Islam tradisional sehingga ideologi kelompok ini kurang terinternalisasi bagi masyarakat Mesir. Terakhir, banyak masyarakat Mesir yang tidak menganggap syariah sebagai jalan keluar dari seluruh permasalahan di Mesir. Mereka menggunakan Iran sebagai contoh dimana revolusi Iran tidak lantas memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Walaupun tidak merepresentasikan ideologi Mesir secara keseluruhan, menurut penulis, analisis terhadap dua kelompok ini memberikan pemahaman bagaimana perang dewasa ini telah mengalami pergeseran. Bagaimana perang bukan hanya berlangsung antar negara, melainkan juga antara negara dan kelompok perlawanan. Selain itu, analisis ini juga memberikan gambaran bagaimana ideologi kini dijadikan senjata utama bagi mobilisasi serangan untuk kepentingan tertentu. Bukan ideologi yang menjadi sumber permasalahan, tetapi bagaimana permasalahan timbul terlebih dahulu kemudian pihak-pihak yang berkepentingan memanfaatkan ideologi – agama khususnya – sebagai strategi untuk memperoleh dukungan. Kasus Sadat yang menggunakan Jama’at Islamiya untuk menumbangkan lawan politiknya adalah salah satu contohnya. Terakhir, proses kebangkitan kelompok radikal yang lahir dari kekerasan dan ketertindasan seharusnya menjadi pelajaran bagi para negarawan dan scholar bahwa untuk mewujudkan keamanan dan toleransi antar umat beragama, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memberikan kesejahteraan dan keadilan yang merata bagi rakyatnya sehingga dapat mencegah munculnya terorisme dan radikalisme, jadi bukan melalui penggunaan senjata dan pemberantasan secara militer.

Referensi
Zeidan, David. 1999. ‘Radical Islam in Egypt : A Comparison of Two Groups’ dalam Meria Journal Vol.3 No.3.
Jasser, Zuhdi.2009.’ While in Egypt, Obama Must Address Radical Islam’ dalam Pundicity.Diakses pada 1 Desember 2009.(www.mzuhdijasser.com)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: