Kopiitudashat's Blog

November 6, 2009

Elemen-Elemen Riset Kualitatif sebagai Riset Antipositivisme

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 7:06 am

Kemunculan riset kualitatif sebagai kritik terhadap kepositivisan riset kuantitatif menimbulkan pertanyaan apakah riset kualitatif dapat disebut sebagai riset yang pospositivis, mengingat kemunculannya setelah kemunculan positivis. Di satu sisi, terminologi ‘post’ mengindikasikan adanya perubahan dari mahzab yang sebelumnya. Mahzab pospositivis mengisyaratkan penolakan satu atau lebih elemen-elemen positivis. Menurut pospositivis, area kajian HI tidak benar-benar murni berdasarkan konstruksi pemikiran tentangnya . Karena penulis beranggapan bahwa pembentukan teori pada riset kualitatif adalah berdasarkan konstruksi subjektif observer, maka penulis menyimpulkan bahwa riset kualitatif tidak berdasarkan mahzab pospositivis, tetapi lebih merupakan antipositivis. Antipositivis inilah yang oleh penulis disebutkan sebagai interpretivisme.
Terdapat beberapa variabel yang lebih menunjukkan kemiripan kualitatif dengan paradigma interpretivisme ketimbang pospotivisme. Pertama, tujuan diadakannya riset kualitatif adalah untuk memahami suatu fenomena. Tujuan ini dapat diakomodasi oleh interpretivisme yang mempunyai tujuan yang sama, bukan pospositivisme yang bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena. Kedua, logika yang digunakan dalam riset kualitatif adalah logika induksi, bukan logika deduksi yang digunakan oleh paradigma interpretivisme. Ketiga, karena bertujuan untuk memahami, bukan menjelaskan pada individu lain, maka di sini subjektivitas menjadi relevan. Hal ini bertentangan dengan sifat critical realism pada pospositivis yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang nyata. Dapat dilihat bahwa pospositivis masih memiliki elemen-elemen materialistis dan positivis yang tidak dikenal dalam riset kualitatif. Selanjutnya, riset kualitatif tidak menggunakan metode modified experimental manipulative ala pospositivisme, tetapi melibatkan interaksi antara observer dan subjek riset yang menjadi metode utama interpretivisme.
Data-data kualitatif membutuhkan perangkat dan metode analisis yang berbeda dengan data kuantitatif, karena kekuatan yang dimiliki oleh bahasa itu sendiri. Dapat dilihat dari sejarah yang umumnya hanya menonjolkan aktor tertentu dan memarjinalkan aktor lain. Penggunaan bahasa dalam sebuah narasi akan menjadi sumber power bagi narasi itu karena sebuah kata hanya dapat bermakna jika dibandingkan dengan kata lain . Oleh karena itu, studi tentang semiotik – arti dari sesuatu melalui sistem dan kode yang menjadikan mereka memiliki arti – menjadi sangat penting. Hal pertama yang harus diperhatikan dalam analisis simbol (bahasa) adalah pembedaan antara denotasi (apa yang dirasakan) dan konotasi (apa yang dibaca). Denotasi ini kemudian melahirkan sign – objek yang akan dikaji , terdiri dari signified dan signifier sebagai elemen utamanya- .
Signifier dapat dianalogikan sebagai kendaraan yang membawa makna tersendiri untuk sebuah tanda (sign). Oleh karena itu, signifier yang berbeda akan menghasilkan makna yang berbeda pula bagi sebuah sign. Bagaimana signifier diinterpretasikan atau makna yang diturunkan oleh observer dari signifier itulah yang kemudian disebut sebagai signified. Dalam ilmu pengetahuan, penulis lebih memandang signifier sebagai paradigma (perspektif) yang akan mendasari pandangan aktor terhadap fenomena. Aktor dan sign yang sama dengan signifier berbeda akan menghasilkan signified yang berbeda pula. Misalnya neorealis yang sedang mengkaji struktur internasional.
Dalam hal ini paradigma neorealisme bertindak sebagai signifier yang sedang mengkaji sign berupa struktur internasional. Signified yang dihasilkan adalah sistem anarki dengan perimbangan kekuatan dua hegemon yang saling berupaya memperluas pengaruhnya yang pada akhirnya menimbulkan perpetual peace. Signifier yang berbeda, neoliberalisme misalnya, lebih melihat struktur internasional sebagai area kerjasama dengan antar negara dan aktor selain negara.
Jarak yang nyaris dihilangkan pada riset kualitatif lantas menimbulkan pertanyaan tentang subjektivitas riset ini. Penulis menganggap bahwa subjektivitas kualitatif bukan merupakan suatu distorsi karena riset kualitatif juga menggunakan mediasi berupa data-data sekunder sehingga validitasnya terjaga. Subjektivitas tidak boleh diartikan ‘lebih rendah’ daripada objektivitas karena hakikat epistemologis objektivitas adalah pemaparan yang sama seperti objek (realitas empiris). Bila realitas dunia adalah interaksi antar subjek dengan kepentingannya, dimulai dari individu hingga manifestasi kumpulan individu (organisasi dan negara), maka objektivitas yang sebenarnya adalah subjektivitas itu sendiri. Subjektivitas adalah gambaran utama realitas. Kemudian, teori antipositivis dan pospositivis yang melandasi riset kualitatif menggunakan intersubjektivitas sebagai jalan tengah antara subjektivitas dan objektivitas.
Selama dan sebelum Perang Dingin, riset kuantitatif lebih relevan diterapkan dalam kajian HI karena saat itu teori positivis sedang mendominasi studi HI. Politik internasional selama Perang Dingin merupakan perwujudan dari teori positivis, dalam hal ini neorealisme, yang menekankan adanya balance of power dan stabilitas hegemoni. Ketika Perang Dingin berakhir, konstelasi internasional kemudian mengalami pergeseran, dari yang high politics menuju ke low politics. Dari yang mengutamakan negara, menjadi pendekonstruksian signifikansi eksistensi negara. Muncul teori-teori HI yang antipositivis seperti konstruktivisme, feminisme, posmodernisme, dan sebagainya. Riset kuantitatif yang mengandalkan teori pun kemudian tidak lagi relevan karena teori-teori itu bukan lagi teori positivis. Oleh karena itu, dalam hal ini riset kualitatif memiliki tingkat relevansi lebih tinggi daripada riset kuantitatif.
Keunggulan lainnya terletak dari luasnya kapabilitas kualitatif untuk menyediakan penjelasan dan pemahaman dari berbagai faktor determinan, satu hal yang tidak dapat disediakan oleh riset kuantitatif. Namun di sisi lain, masalah muncul pada hakikat riset kualitatif yang mengutamakan observasi mendalam, yang di banyak kesempatan tidak dapat dipenuhi oleh observer karena kendala jarak, waktu dan biaya. Masalah ini sebenarnya dapat diatasi melalui data sekunder dan pengumpulan data secara kuantitatif untuk kemudian data tersebut dianalisis secara kualitatif karena penelitian kualitatif tidak berarti harus mendapatkan data primer.
Berbagai metode pendekatan yang baru kemudian dikenal dalam riset kualitatif, salah satunya adalah metode dekonstruksi. Metode ini diperkenalkan oleh Post-structuralism yang dipelopori oleh Derrida dan Foucault. Asumsi dasarnya adalah bahwa narasi bukanlah sesuatu yang tegas dan absolut, tetapi merupakan kerelativitasan. Melalui metode dekonstruksi, klaim atas otoritas atas narasi dan diskursus kemudian dihilangkan. Bila narasi ilmu pengetahuan merupakan hal yang relatif, maka pengetahuan yang diwacanakannya juga merupakan hal yang relatif pula. Akibatnya, tidak ada universalitas, bahkan penggunaan metode riset yang berbeda merupakan suatu universalitas tersendiri. Dekonstruksi dilaksanakan dengan cara meruntuhkan (mempertanyakan kembali) konsep yang telah mapan, walaupun kemudian tidak lantas membangun teori yang baru.
Misalnya, narasi bahwa negara adalah faktor utama dalam HI. Untuk menguji kebenarannya, pernyataan ini dapat didekonstruksi menjadi apakah ada entitas bernama negara memang benar dan ada dan memiliki peranan signifikan ataukah hanya mitos dan konstruksi aktor dominan untuk melegalkan kekuasaannya.
Referensi:
Bryman in Nicholas Walliman, Social Research Methods, Sage Publications, London, 2006
Slater in Matt Henn, et al, A Short Introduction to Social Research, Sage Publications, London, 2006
Walliman, Nicholas Your Research Project ; A Step by Step Guide For The First-Time Reseacher, Sage Publications, London, 2001

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: