Kopiitudashat's Blog

October 15, 2009

Pengaruh Ideologi Juche Terhadap Regionalisme Asia Timur : Studi Tentang Hambatan Identitas dalam Regionalisasi

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 7:20 am

Abstract:
This article evaluates the influence given by North Korea’s ideology, “juche” in East Asia regionalization, especially how both North Korean nuclear crisis and isolated foreign policy play a role in East Asia regionalism. The article develops some interdisciplinary frameworks for the issue, included security threat theory by Hettne and national identity theory by Bruce Hall that is based on some concepts like BoP contest, grass fire conflict, intrastate conflicts, identity and foreign policy. The objective of the article is to find the implications of North Korean foreign policy as a part of East Asia region for the regionalization constructed. Implications of the frameworks are discussed to emerging any solution to the future of the region.

Keywords: East Asia region, national identity, juche, nuclear crisis, isolated economy, regionalization

Pendahuluan

Berakhirnya Perang Dingin (Cold War) memunculkan perubahan besar bagi dunia internasional, antara lain meluasnya regionalisme, perubahan tata ekonomi global serta transformasi sistem internasional. Regionalisme berakar dari kata region yang oleh Ravenhill disebut sebagai konstruksi sosial yang mempunyai anggota resmi dan definisi batas yang jelas . Region ini kemudian ter-regionalisasi, ditunjukkan oleh peningkatan tingkat ketergantungan ekonomi dengan batas-batas geografis yang jelas, dan menjadi suatu entitas yang disebut regionalisme. Regionalisme identik dengan kerjasama, perdamaian, integrasi yang umumnya dibungkus dalam kerangka geografis. Kerjasama, integrasi dan perdamaian yang merupakan kata kunci dari regionalisme ini merupakan buah pikir kalangan liberalis yang dikembangkan dalam kerangka liberal institusionalis dimana insitusi regional merupakan prasyarat untuk mewujudkan integrasi yang komprehensif. Dengan kerangka liberalisasi ini maka bisa dipahami bahwa negara yang menganut sosialisme akan mengalami kesulitan dengan proses regionalisasi.
Asia Timur adalah kawasan yang unik. Yang dimaksudkan oleh penulis dengan Asia Timur adalah suatu entitas geografis yang meliputi negara Jepang, China, Mongolia, Korea Utara (Korut ), Korea Selatan (Korsel) dan Taiwan.

Peta Asia Timur

Sumber: http://www.geology.com
Yang unik di sini adalah bagaimana Korea Utara sebagai negara sosialis dikelilingi oleh negara dengan ekonomi liberal yang berpendapatan tinggi, namun Korut sendiri tidak terpengaruh oleh liberalisasi negara-negara tetangganya.Salah satu elemen substansial yang dimiliki Korut adalah ideologi juche yang dalam tulisan ini menjadi argumen utama yang menghambat regionalisasi Asia Timur karena juche adalah kunci berbagai kebijakan luar negeri Korut, khususnya isolasi perdagangan dan proliferasi nuklir.
Juche adalah panduan utama Democratic People’s Republic of Korea (DPRK: Korea Utara) yang diciptakan oleh Kim Il Sung dengan dasarnya bahwa pemilik revolusi dan pembangunan adalah rakyat. Dalam situs resminya, pemerintah Korut menekankan pentingnya Chajusong (kemerdekaan) dalam hal berpolitik. Ideologi inilah yang membentuk sistem ekonomi Korut yang self reliance dan pertahanan yang self defence. Dengan juchenya ini, Korut hanya akan melakukan perdagangan secara terbatas, walaupun bukan tidak sama sekali, serta berusaha senantiasa memperkuat pertahanannya dengan cara-cara yang oleh dunia internasional dianggap sebagai cara yang provokatif.
Walaupun secara analisis nasional Korut merupakan negara sosialis yang tertutup, namun dalam analisis regional, Asia Timur beranggotakan negara-negara yang memegang skor tinggi dalam bidang industri dan perdagangan. Secara substansial, Asia Timur telah memenuhi syarat-syarat munculnya regionalisme, syarat-syarat ini dapat dilihat dalam berbagai perspektif.
Dalam perspektif neorealisme, sistem internasional dipandang sebagai sistem yang anarki, dimana negara adalah entitas berdaulat tertinggi yang mempunyai rasionalitas tersendiri dalam mengembangkan kebijakan luar negerinya . Karena kepentingan dan pertimbangan yang berbeda, tiap negara memutuskan bahwa self help adalah solusi terbaik sehingga regionalisme dan kerjasama regional tidak akan tercapai walaupun ada persamaan kepentingan. Oleh karena itulah diperlukan hegemon atau stabilizer untuk menstimulasi munculnya institusi dan kerjasama regional. Keberadaan great power inilah yang ditekankan oleh perspektif neorealisme. Dengan munculnya satu kekuatan besar, maka kekuatan itu akan mampu mengimposed terbentuknya institusi maupun kooperasi yang saling menguntungkan.
Jika berdasar pada perspektif yang telah disebutkan sebelumnya, maka seharusnya keberadaan Jepang dan China di Asia Timur akan membawa pada integrasi dan kemunculan institusi yang kuat, mengingat kekuatan ekonomi China dan Jepang yang akan dan bahkan diperhitungkan telah menyaingi Barat. Jika dilihat dari daya beli masyarakatnya, pada tahun 2006 China dapat dikatakan sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah AS, apalagi pada tahun yang sama surplus neraca pembayaran yang diperoleh China mencapai 180 milyar dolar yang merupakan nilai tertinggi di dunia . Selain itu, China telah menjadi exportir terbesar ketujuh dan importir terbesar kedelapan untuk perdagangan barang, serta termasuk dalam 12 eksportir dan importir terbesar untuk bidang jasa . Demikian halnya dengan Jepang, pada 2005 GDP Jepang mencapai 4,52 trilyun dan merupakan pendapatan terbesar kedua setelah Amerika Serikat (AS) . Tetapi pada kenyataannya, integrasi dan kerjasama regional yang mapan belum terwujud secara konkret, jikalau ada itu hanya mencakup Jepang, China dan Korsel dan bukan Asia Timur secara keseluruhan.
Kegagalan integrasi ini pun berlawanan dengan teori fungsionalis yang menyebutkan bahwa kawasan yang dapat memulai interaksi antar negara di dalamnya akan terus berkembang karena efek kerjasama spillovers hingga akhirnya tercipta integrasi kawasan . Interaksi perdagangan China-Jepang-Korsel yang mencapai 7 juta dolar ternyata gagal mengembangkan Mongolia dan Korea Utara ke dalam integrasi suatu institusi regional yang mapan. Jika dilihat dari pemerataan pendapatan, seharusnya asia Timur mempunyai modal yang cukup untuk pelaksanaan regionalisasi karena kesenjangan antar negara Asia Timur relatif lebih kecil dari kawasan lainnya, seperti yang dijelaskan dalam tabel berikut.

Pertanyaan yang muncul dari kegagalan beberapa perspektif di atas dalam menjelaskan regionalisasi di Asia Timur adalah apakah juche yang mengendalikan perilaku Korut adalah salah satu faktor yang berperan dalam ketiadaan institusi regional di Asia Timur. Dalam menjelaskan permasalahan ini, penulis berdasarkan pada teori ancaman keamanan regional yang diungkapkan oleh Hettne. Ancaman pertama adalah balance of power contest dimana kekuatan besar dalam kawasan terlibat dalam kompetisi untuk menguasai aspek-aspek tertentu sehingga kerjasama pun terabaikan . Ancaman yang kedua adalah grass fire conflicts dimana ancaman keamanan berasal dari permasalahan lokal antar negara dalam kawasan . Ancaman yang terakhir adalah konflik internal dalam satu negara anggota yang memiliki potensi untuk mempengaruhi hubungan dengan negara lain yang memiliki hubungan tidak langsung terhadap konflik, ancaman ini disebut intrastate conflicts .
Selain pembahasan dalam kerangka teori Hettne, kajian tentang juche juga akan diperkuat oleh pandangan tentang pentingnya ideologi dan identitas nasional dalam kebijakan luar negeri. Berdasarkan pandangan sosiologis, individu dan kelompok mengekspresikan kebutuhan mereka terhadap afiliasi melalui identitas sosial. Identitas sosial inilah yang menentukan bagaimana suatu objek memperlakukan dirinya sendiri dan memperlakukan objek lain dalam hubungan ke luar. Berdasarkan ahli politik University Oxford, Rodney Bruce Hall, identitas nasional akan menentukan kepentingan nasional yang kemudian akan memproduksi kebijakan-kebijakan luar negeri . Berdasarkan teori ini maka penulis berargumen bahwa juche adalah salah satu penghambat munculnya regionalisme Asia Timur.

Juche Sebagai Identitas Nasional Korea Utara dan Implikasinya
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa identitas nasional akan sangat berpengaruh pada kebijakan luar negeri suatu negara. Korut membentuk identitas nasionalnya sebagai negara sosialis yang mengutamakan pemenuhan kebutuhannya sendiri. Identitas ini, juche, merupakan manifestasi dari karakter individu pemimpinnya, Kim Il Sung, yang trauma atas segala intervensi asing semasa Perang Korea dan kependudukan Jepang. Karena dibentuk demikian, maka untuk jangka waktu yang lama Korut akan tetap berdiri sebagai negara sosialis dan tidak menerima internalisasi nilai-nilai liberalisasi yang berusaha disebarkan oleh pihak asing.
Identitas nasional ini pula yang membuat Korut menempatkan dirinya sebagai musuh dari imperialisme Jepang, ‘negara boneka’ Korsel, dan ‘pihak yang selalu campur tangan’ AS . Juche dibentuk Kim Il Sung dengan tujuan awal untuk mendirikan Korut yang tangguh dan mampu memenuhi kebutuhan ekonomi maupun militer sendiri sehingga tidak memerlukan campur tangan ketiga negara yang telah disebutkan di atas. Isolasi ekonomi dan proliferasi nuklir Korut sebenarnya berawal dari identitas nasional -juche- ini. Identitas nasional ini, yang oleh penulis digambarkan sebagai kebencian Korut terhadap trio Jepang-Korsel-AS, akan menutup pintu kerjasama Korut dengan ketiga negara tersebut. Tanpa adanya kerjasama, mustahil regionalisasi dapat terwujud.
Juche yang dilahirkan oleh kebencian Korut terhadap negara tetangganya, juga berimplikasi pada keisolasian Korut terhadap dunia luar. Korut tidak memperkenankan adanya penerimaan tenaga kerja dari negara lain, kalaupun ada kunjungan, kunjungan itu sifatnya hanya wisata sementara dan harus melalui serangkaian prosedur yang ketat, diantaranya tidak boleh bepergian seorang diri dan sebagainya. Praktek-praktek ini tentu sangat bertentangan dengan prinsip integrasi dimana hambatan –geografis maupun tarif perdagangan- diupayakan untuk seminim mungkin.
Identitas nasional Korut sebagai negara sosialis yang tidak mengenal adanya Multinational Corporation (MNC) juga salah satu hal yang menghambat liberalisasi di kawasan itu.
Bagan Hubungan Investasi MNC dengan Pemerintah

Dari bagan di atas, tampak bahwa aliran investasi hanya dapat dijalankan dengan keberadaan MNC, sementara aktivitas ekonomi yang dijalankan Korut tidak membuka jalan bagi adanya MNC, yang ada hanya pemerintah 1 dengan pemerintah lainnya. Hal ini tidak akan menjadi masalah berarti bila hubungan Korut dengan pemerintah sekitarnya adalah hubungan yang harmonis. Namun yang menjadi masalah adalah, karena identitas nasional Korut menempatkan negaranya sebagai musuh Jepang dan Korsel, maka perdagangan yang diharapkan dalam regionalisasi akan jauh dari kenyataan.

Dampak Proliferasi Nuklir Korut Terhadap Perekonomian Asia Timur
Berdasar teori Hettne yang telah disebutkan salah satu hal yang menghambat regionalisasi adalah adanya grass fire conflict. Bila ditelusuri ke belakang, tindakan provokatif Korut ini disebabkan konflik lama yang tak kunjung berakhir antara Korut dan Korsel dalam Perang Korea 1950-1953. Secara teknis, perang ini belum berakhir karena terhentinya perang hanya difasilitasi oleh gencatan senjata dan terbentuknya Demilitarized Zone (DMZ) . Konflik inilah yang lalu melahirkan terbentuknya juche oleh Kim Il Sung. Dengan latar belakang ini, maka dapat dilihat bahwa proliferasi nuklir Korut merupakan bagian dari cara Korut untuk berkonfrontasi dengan tetangganya, Korsel.
Integrasi kawasan, sesuai dengan teori Hettne di atas, terhambat karena adanya konflik antara Korsel-Korut yang kemudian disuburkan dengan juche milik Korut yang berupaya menggoncang kestabilan Asia Timur. Terutama karena konflik dua negara ini menyeret keterlibatan Jepang, China dan AS. Jepang dan AS yang membantu Korsel berupaya keras untuk menghentikan nuklir Korut, terutama karena ancaman yang diberikan oleh nuklir Korut dimana pada April lalu rudal Korut telah mencapai perairan Jepang. Sanksi yang berusaha diberikan ketiga negara ini tidak didukung oleh China yang mempunyai kepentingan dagang dengan Korut. Konflik Korut-Korsel, yang tidak akan selesai jika Korut bersikukuh mempertahankan juchenya, telah menjadi area tarik-menarik kekuatan besar Asia Timur, Jepang dan China, yang bila kedua negara ini tetap berseberangan paham, integrasi dan regionalisasi kawasan secara utuh tidak akan terwujud.
Unifikasi kedua Korea merupakan bagian penting dari integrasi kawasan karena integrasi tidak akan terwujud bila anggotanya tetap berselisih. Pentingnya integrasi terhadap interaksi perdagangan yang merupakan prasyarat munculnya regionalisme dapat dilihat dalam grafik berikut:

Dari grafik di atas, terlihat bahwa volume perdagangan antar kedua Korea semakin meningkat dalam tiap tahunnya. Perdagangan yang meningkat ini merupakan hasil dari kawasan industri Gaesung yang terletak di perbatasan kedua negara. Perdagangan antar negara dalam kawasan oleh Hurrel dipandang sebagai langkah awal dalam regionalisasi . Pentingnya kestabilan politik dalam perekonomian kedua negara terlihat ketika hubungan kedua Korea memanas karena propaganda HAM Korsel pada awal Desember 2008, kawasan industri Gaesong ditutup secara sepihak oleh pemerintah Korut sehingga ratusan ribu tenaga kerja terjebak dalam kawasan itu .
Interaksi yang sudah bagus ini bisa goyah jika Korut tetap mengembangkan nuklir yang dipandang Korsel sebagai ancaman. Dan karena nuklir yang dikembangkan Korut adalah manifestasi dari ideologi juchenya, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa integrasi dan regionalisme kawasan dapat terwujud bila Korut menanggalkan juchenya. Karena juche lahir dari konflik kedua Korea, maka solusi utama bagi kedua negara sesuai teori Hettne adalah menghilangkan grass fire conflict yang menjadi akar bagi semua permasalahan. Bila kedua Korea dapat menyepakati adanya rekonsilisasi damai, maka juche yang dipakai Korut sebagai pedoman bisa diruntuhkan, dan bila juche ini diruntuhkan maka tidak akan ada lagi proliferasi nuklir dan isolasi ekonomi yang dilakukan Korut sehingga integrasi kawasan akan lebih mudah terealisasi.
Bagaimana proliferasi nuklir Korut mempunyai dampak yang signifikan terhadap perekonomian Asia Timur dapat dilihat dari salah satu indikatornya yaitu pergerakan saham dan harga minyak. Ketika misalnya peluncuran rudal Korut pada 4 Juli 2008 lalu, harga emas dan minyak melonjak hingga di atas 75 dolar per barel meskipun pada hari itu pasaran saham Asia termasuk Korsel tidak menunjukkan penurunan tajam . Analis pasar berpendapat, kalau investor beralih menginvestasi emas dan konsumen mengambil sikap menunggu terhadap pembelanjaan berjumlah besar, ini mungkin akan mempengaruhi laju ekonomi regional . Kalau krisis ini tidak bisa segera diatasi bahkan lebih lanjut memburuk, akan memberikan pengaruh lebih besar bagi pasaran moneter Asia.
Dampak yang lebih signifikan ditunjukkan oleh bursa Jepang, khususnya Nikkei dan Tokyo Elektron, yang pada akhir Mei 2009 mengalami penurunan karena dampak dari meningkatnya kekhawatiran mengenai perkembangan kondisi keamanan di wilayah Asia Timur setelah Korut meluncurkan roketnya dalam rangkaian uji coba militer . Begitu juga dengan indeks Kospi Korsel dan Shanghai China .
Dari data-data di atas, dapat dilihat bahwa proliferasi maupun peluncuran rudal Korut ternyata berdampak pada instabilitas ekonomi Asia Timur. Walaupun dampak yang ditimbulkan tidak serta merta melumpuhkan roda perekonomian karena adanya kekuatan besar yang menstabilkan, Jepang dan China, namun jika hal ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin bila stabilitas ekonomi Asia Timur akan semakin labil dan roda perekonomian akan terhambat. Berbagai tindakan provokatif yang dilakukan Korut ini merupakan manifestasi dari juche yang dipegang Korut. Korut ingin menunjukkan pada dunia bahwa negaranya memiliki pertahanan yang kuat dan tidak bisa diintervensi oleh pihak asing, dalam hal ini Jepang, Korsel dan AS. Selain itu, peluncuran rudal ini juga merupakan salah satu cara Korut untuk menghidupkan kekuatan ekonominya yang hancur akibat isolasi dan pengembangan nuklir yang memakan biaya yang tidak sedikit. Karena juchenya menekankan self reliance dalam bidang ekonomi, Korut tidak bisa terang-terangan meminta bantuan ekonomi ataupun membuka perdagangannya dengan bebas. Oleh karena itulah ia mempergunakan nuklir ini sebagai bargaining power untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya tanpa harus ‘menengadahkan tangan’.
Hal inilah yang dimaksudkan penulis dengan juche sebagai penghambat regionalisme Asia Timur karena juche yang dipegang Korut membawa pada proliferasi nuklir yang mengancam kestabilan keamanan maupun ekonomi regional. Juche juga menutup pintu perdagangan antara Korut dengan negara sekawasan, baik karena isolasi Korut maupun karena embargo yang diberikan pihak luar, sehingga integrasi yang diharapkan dalam kawasan juga nyaris tidak mungkin untuk terwujud.
Tentu saja jika merujuk pada teori Hettne yang telah disampaikan disebelumnya, tidak terwujudnya regionalisme Asia Timur bukan 100% kesalahan konflik Korea, tetapi juga ada faktor BoP contest, yaitu kompetisi antara Jepang dan China untuk ‘menguasai’ Asia dan bahkan dunia. Apalagi jika dirunut sejarah, maka akan banyak ditemukan konflik historis antara Jepang dan China, terutama terkait dengan kependudukan Jepang di China dan perebutan pulau Spratley. Namun yang menjadi fokus tulisan ini lebih ke bagaimana elemen-elemen dalam Korea Utara mempengaruhi kegagalan regionalisme Asia Timur.
Faktor ketiga yang disampaikan Hettne dan juga ada pada Korut adalah intrastate conflicts. Juche tidak hanya mempengaruhi kebijakan Korut keluar, tetapi juga membentuk kebijakan Korut ke dalam negerinya. Manifestasi karakter Kim Il Sung tidak menyediakan ruang gerak yang cukup untuk kepemilikan privat di Korut. Segala properti adalah hak milik negara dan aktivitas perekonomian diatur secara tersentral oleh negara. Sementara regionalisme ditandai dengan pergerakan bebas faktor produksi, dimana di dalamnya manusia, satu hal yang bertentangan dengan kebijakan dalam negeri Korut yang tidak memperbolehkan warga negaranya bermigrasi secara bebas.
Selain itu, juche juga tidak menyediakan penerapan demokrasi yang memadai padahal demokrasi meningkatkan interdependensi di level regional dan global walaupun demokrasi bukan syarat mutlak terciptanya regionalisme itu sendiri . Kemiskinan dan ketertindasan yang dialami rakyat Korut (grassroot) juga menjauhkan mereka dari keinginan dan pemikiran untuk mengadakan kerjasama dengan negara lain. Ketidakbebasan yang dialami rakyat Korut, sesuai asumsi terakhir Hettne, juga memberi dampak bagi pergerakan di negara lain sekawasan, terlihat dalam propaganda HAM yang dilakukan aktivis Korsel untuk mendorong rakyat Korut menggulingkan rezim Kim Il Sung tahun lalu. Pemaparan ini semakin menjelaskan bahwa konflik internal dalam negeri Korut juga merupakan salah satu penghambat regionalisme Asia Timur.

Kesimpulan
Identitas nasional Korut, juche, adalah faktor penting yang mempengaruhi kebijakan Korut bagi keluar maupun ke dalam. Juche ini selain menempatkan Jepang dan Korsel sebagai musuh utama Korut, juga merupakan batu landasan untuk provokasi proliferasi maupun peluncuran rudal Korut, serta alasan utama isolasi ekonomi yang diterapkan Korut. Berdasarkan teori Hettne tentang hambatan munculnya regionalisme, konstelasi politik Korut ternyata memenuhi 2 dari 3 asumsi Hettne tentang penghambat regionalisme kawasan, yaitu grass fire conflicts dan intrastate conflicts.
Untuk menyelesaikan permasalahan ini, penulis menawarkan beberapa skenario. Grass fire conflicts Asia Timur, dalam hal ini konflik Korut-Korsel, harus dapat diselesaikan untuk mewujudkan integrasi kawasan. Skenario pertama adalah reunifikasi Korea yang bisa diwujudkan dengan optimalisasi pendayagunaan kawasan industri Gaesong. Dengan optimalisasi itu, pengusaha kedua Korea mendapatkan manfaat yang besar dari Gaesong sehingga mereka dapat menekan pemerintah kedua negara untuk mengakhiri perselisihan. Jika Gaesong memberikan kontribusi yang signifikan terhadap GDP kedua negara, maka pemerintah juga akan mempertimbangkan hal yang sama, yaitu rekonsiliasi atau bahkan reunifikasi kedua Korea. Jika kedua Korea tidak bisa berganung sebagai 1 negara, setidak-tidaknya kedua Korea dapat hidup berdampingan sebagai tetangga yang damai.
Skenario kedua untuk mewujudkan perdamaian Korea demi integrasi kawasan adalah pengurangan pengaruh AS di Korsel. Salah satu hal yang ditonjolkan juche adalah Korea yang mandiri tanpa intervensi AS. Jika Korsel bersedia mengurangi porsi AS di negaranya, bukan tidak mungkin rekonsiliasi dan bahkan reunifikasi kedua Korea dapat terwujud. Sebagai ganti AS, Korsel dapat meningkatkan perdagangan dengan negara lain sekawasan. Di sini peran Jepang dan China sebagai raksasa perdagangan sangat diperlukan. Skenario ketiga adalah dihapuskannya juche sebagai identitas nasional Korut agar Korut bersedia menerima liberalisasi ekonomi dan berhenti mengancam keamanan Jepang dan Korsel sebagai negara tetangganya. Skenario ketiga ini hanya bisa berhasil bila salah satu dari dua skenario sebelumnya telah berhasil dilaksanakan.
Dengan bukti-bukti dan pemaparan yang disampaikan penulis, dan diperkuat oleh teori Hettne dan beberapa skenario di atas, maka dengan demikian tesis penulis bahwa juche merupakan salah satu faktor penghambat regionalisme Asia Timur terbukti.

Daftar Pustaka :
Anonim.’Ujicoba Peluncuran Peluru Kendali Korea Utara’. Radio Taiwan International. diakes pada 26 Juni 2009
Anonim.’Nikkei Mengalami Pelemahan; Kekhawatiran Kondisi Keamanan di Asia Timur’.Vibiznews 26 Mei 2009. diakses pada 26 Juni 2009
CIA – The World Factbook
Fawcett, Louise and Andrew Hurrell. 2002. Regionalism in World Politics. Oxford University Press
Fawcett, Louise. Regionalism in Historical Perspective
Hettne, B. 2000.’The New Regionalism : A Prologue’ In B Hettne. (ed), The New Regionalism and the Future of Security Development, Vol.4. London : Macmillan
Istiana Ihsan, Astri.‘Korut Minta Korsel Hentikan Propaganda’.Harian Jurnal Nasional. diakses pada 14 Desember 2008
Official webpage of the Democratic People’s Republic of Korea (DPRK). http://www.korea-dpr.com/ diakses pada 27 Juni 2009
R.A Kawilarang, Renne. ‘Krisis Nuklir Korut Turut Jungkalkan Indek’.Vivanews 26 Mei 2009. diakses pada 26 Juni 2009
Ravenhill, John.Regionalism.www.oxfordtextbooks.co.uk/orc/ravenhill2e/
Roehrig, Terence et al (eds).2007.Korean Security in a Changing East Asia.Westport: Greenwood Publishing Group Inc
Söderbaum, Fredrik.2004.The Political Economy of Regionalism : The Case of Southern Africa.New York: Palgrave Macmillan
Thea, Ady.’Korea Selatan memprovokasi Korea Utara’.Harian Media Bersama diakses pada 11 Januari 2009.
World Bank and Organization for Economic Cooperation and development (OECD) in Microsoft ® Encarta ® 2008
Z.Cass, Deborah et al (eds).2003.China and The World Trade System: Entering the New Millennium. New York: Cambridge University Press

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: