Kopiitudashat's Blog

October 15, 2009

Etika Riset : Antara Kemenangan Relativisme dan Instrumen Kekuasaan

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 7:52 am

Selain sebagai animal rationale (hewan berpikir), manusia juga adalah political animal (hewan politik ; makhluk sosial). Oleh karena itu, dibutuhkan suatu rules of conduct untuk menjamin keselarasan antara proses berpikir dan hubungan antar manusia dalam hakikatnya sebagai makhluk sosial. Rules of conduct ini selanjutnya disebut sebagai etika riset. Barnes mengartikan etika riset sebagai keadaan dimana keputusan yang dibuat observer bukan berdasarkan pertimbangan efisiensi melainkan berdasarkan standar moral tentang benar dan salah . Definisi ini membuat perbedaan yang fundamental antara hal yang mendasar (principle) dan hal yang layak dilakukan (expediency) karena etika melibatkan nilai-nilai personal observer untuk menentukan aksi yang layak dilakukan dengan cara menempatkan subjek sebagai pusat desain riset.
Etika riset bukanlah hal yang menonjol pada revolusi behavioral. Hal ini dipertegas oleh Barnes yang melihat munculnya pertimbangan mengenai etika riset sebagai akibat dari pergeseran balance of power penyelenggaraan riset . Jika sebelumnya power untuk menyelenggarakan riset hanya dimiliki oleh lembaga formal, maka dewasa ini pihak swasta juga mempunyai kesempatan yang sama. Lebih lanjut, M. Punch menambahkan pengaruh metodologi feminis dan standar-standar etis yang dijadikan syarat pemberian dana oleh lembaga publik sebagai penguat posisi etika dewasa ini .
Pada dasarnya standar etis bergantung pada nilai-nilai personal observer yang disesuaikan dengan subjek dan isu yang diteliti. Walaupun demikian, hal yang paling mendasar dalam sebuah riset adalah kejujuran dan tanggung jawab etis terhadap subjek penelitian karena kedua syarat ini menunjukkan integritas dan reliabilitas riset.

A. Kejujuran
Kejujuran yang harus diterapkan meliputi aksi yang telah dilakukan, informasi yang didapatkan, teknik yang digunakan, analisis yang dihasilkan, dan hasil riset. Metode analisis data bukan merupakan aksi yang netral karena dibangun dalam kerangka asumsi ontologi dan epistemologi . Karena itu, secara etis observer terlebih dahulu harus menjelaskan asumsi dasar perspektif teori (epistemologi) dalam proposal riset, terlepas dari apakah epistemologi itu dapat diterima oleh pembaca atau tidak. Selain kejelasan epistemologi, hal lain yang berkaitan dengan kejujuran adalah pencantuman karya pihak lain – dapat diwujudkan dalam bentuk kutipan langsung, catatan kaki maupun catatan akhir yang nantinya didikotomikan dalam daftar pustaka – yang penting untuk menghindari plagiatisme.
Hal-hal yang termasuk dalam plagiatisme antara lain menyalin karya pihak lain secara langsung tanpa menyertakan sumber penulis asli. Lebih lanjut, menggunakan ide maupun pemikiran pihak lain tanpa menyertakan sumber, walaupun telah diparafrase juga merupakan plagiatisme. Sama halnya dengan pengklaiman atas sebuah karya kolaborasi sebagai karya individu ataupun kelalaian dengan tidak menyebutkan bantuan yang diberikan pihak lain. Selain itu, kejujuran terhadap diri sendiri juga harus diterapkan dengan tidak menyepelekan suatu fakta karena dapat merusak pengembangan teori.

B. Tanggung Jawab Terhadap Subjek Riset
Tanggung jawab etis berkaitan dengan ijin, kerahasiaan dan kesopanan yang prosesnya meliputi seluruh pelaksanaan riset dimulai dari penentuan tujuan hingga pemilihan dan perlakuan terhadap subjek. Pada saat penentuan tujuan, pertimbangan etis yang tidak boleh terlewatkan adalah kerealistisan tujuan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah memilih subjek sebagai informan penelitian. Setiap pihak harus terlibat secara sukarela dan bebas dari segala ancaman. Subjek yang terpilih kemudian harus diperlakukan secara etis, terutama tentang penggunaan bahasa dan terminologi yang harus didasarkan pada prinsip kesopanan. Menurut Panduan Bahasa dan Gambar dari Universitas Terbuka, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan bahasa adalah menghindari pemberian dukungan ataupun penolakan terhadap opini subjek, penggunaan bahasa yang bias, kelalaian pencantuman informasi, diskriminasi, marjinalisasi dan prasangka terhadap subjek . Pemberian hadiah kepada subjek sedapatnya dihindari kecuali pada kondisi dan waktu tertentu. Di akhir proses, hal yang tidak boleh diabaikan adalah pemberian ucapan terima kasih kepada subjek.
Lebih lanjut, The British Psychological Society mengembangkan prinsip-prinsip etika riset antara lain :
1. Semua investigasi harus dipertimbangkan dari sudut pandang semua yang terlibat. Pertimbangan ini meliputi ancaman yang dapat timbul dan pengabaian nilai kemanusiaan karena kondisi yang multietnis dan multinilai.
2. Jika memungkinkan, pihak yang terlibat harus mendapatkan informasi yang jelas tentang tujuan penelitian dimana subjek tidak boleh mendapat paksaan dalam partisipasinya.
3. Observer harus melindungi hak subjek untuk menjawab ataupun tidak menjawab informasi yang ada.
4. Jika kerahasiaan tidak dapat terjaga, subjek harus diperingatkan dampaknya terlebih dahulu.
5. Observasi hanya dapat dilakukan bila kedua pihak tidak saling mengenal kecuali partisipan memang sengaja berpartisipasi .

Walaupun etika riset telah menjadi salah satu pertimbangan utama pelaksanaan riset dewasa ini, namun penganut perspektif kritis seperti Douglas berpendapat bahwa kode etik hanya merupakan instrumen kekuasaan bagi powerful researcher karena menjadi hal yang mudah untuk mendiskreditkan hasil riset suatu pihak dengan alasan tidak memenuhi kaidah etis. Kritik yang lain datang dari pihak yang menganggap riset tak lebih sebagai eksplorasi terhadap kaum yang termajinalkan karena pada umumnya riset selalu menitikberatkan pada penyimpangan dan subjek dengan keterbatasan power. Lebih lanjut, tak jarang riset diselenggarakan berdasarkan permintaan untuk kepentingan sponsor (sumber dana). Oleh karena itu, secara etis pembuatan kesepakatan tentang bentuk penyebaran hasil riset dengan tidak menyertakan nama sponsor adalah hal yang penting.
Yang menarik dari menguatnya etika dalam proses riset adalah apa yang disebut penulis sebagai kemenangan paradigma relativisme, kemenangan bagi para penganut riset yang sarat akan nilai-nilai personal. Nilai-nilai yang subjektif kemudian menjadikan pengetahuan sebagai entitas yang historis dan partikular. Dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang terbentuk cenderung hanya berputar di tempat dengan berbagai percabangannya (percabangan paradigma) tanpa bisa maju dan berkembang karena berbagai fakta dan penemuan yang harus diabaikan karena pertimbangan etis. Selama batasan etis masih sama, maka isu yang diangkat dalam suatu riset juga tidak akan berbeda dari sebelumnya, hal yang kita lihat dalam perdebatan mengenai teknologi bayi tabung dan kloning.
Lebih lanjut, karena subjek ditempatkan sebagai pusat desain riset maka riset yang sama namun dengan subjek dan waktu yang berbeda (time series research), akan menghasilkan batasan etika yang berbeda sehingga analisis datanya juga berbeda. Dengan demikian, maka reliabilitas riset menjadi dipertanyakan. Hal lain yang perlu dicermati adalah penggunaan riset sebagai instrumen kekuasaan karena lembaga penyandang dana berhak menentukan standar-standar etis dalam riset yang akan dilakukan sehingga walaupun nama sponsor tidak dipublikasikan, hasil riset akan tetap sesuai dengan keinginan sponsor yang jauh dari kebenaran, seperti yang terjadi dalam beberapa survei pemilihan umum beberapa waktu lalu.
Akhirnya, bagaimana ‘kemasan’ etika riset akan bergantung pada konstruksi observer yang memandangnya. Apakah merupakan kemajuan bagi kemanusiaan dan ilmu pengetahuan, kemenangan paradigma relativisme, ataupun merupakan kemunduran dan instrumen kekuasaan.

Referensi :
Henn, Matt, et al, A Short Introduction to Social Research, Sage Publications, London, 2006
M de Torre, Joseph, Person, Family and State : An Outline of Social Ethics , Southeast Asian Science Foundation Inc, Manila, 1991
Naya Sujana, Nyoman, ‘Berpikir Ilmiah’ dalam Bagong Suyanto & Sutinah (eds), Metode Penelitian Sosial ; Berbagai Alternatif Pendekatan, Prenada Media Group, Jakarta, 2004, p.1
Walliman, Nicholas, Social Research Methods, Sage Publications, London, 2006

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: