Kopiitudashat's Blog

October 8, 2009

Paradigma Ilmu Sosial ; Konsep dan Perdebatan

Filed under: Uncategorized — kopiitudashat @ 6:32 am

Hakikat manusia sebagai ‘animal rationale’ , memunculkan kebutuhan akan kebenaran dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sendiri dapat dipahami sebagai pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan , yang disusun oleh tiga aspek utama yaitu aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi. Secara ontologis ilmu dibangun berdasarkan konstruksi ilmu pengetahuan, yaitu berdasarkan keyakinan filosofis (worldview) tentang hakikat utama dari suatu realitas . Jadi pertanyaan utama ontologi adalah ilmu pengetahuan apa yang sedang dicari kebenarannya. Setelah mengetahui hakikat realitas pengetahuan itu, maka penalaran selanjutnya adalah aspek epistemologi tentang darimana dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan yang kemudian diukur aksiologinya, untuk apa ilmu pengetahuan itu digunakan.
Ilmu pengetahuan ini didapatkan melalui riset dan tidak homogen karena dipengaruhi oleh paradigma dengan sudut pandang yang berbeda. Paradigma yang mendominasi perdebatan ilmu pengetahuan adalah paradigma positivisme, relativisme dan rekonsiliasiatori.
Pada mulanya teori sosial ditempatkan pada analisis subjektif sehingga dapat dibedakan dengan teori ilmu pasti yang lebih kaku dalam metodologinya. Kemudian pada 1950an, Auguste Comte menyatakan keyakinannya bahwa konsep dan metode ilmu pengetahuan alam yang juga dapat digunakan untuk menjelaskan alam kehidupan kolektif manusia (yang, seabad kemudian, oleh Kroeber dikatakan berada pada tataran supraorganik) . Hal inilah yang mengawali perubahan besar-besaran di dunia ilmu pengetahuan dimana terjadi standardisasi metodologi riset sehingga semua ilmu, tak terkecuali ilmu sosial, harus melalui standar-standar yang dimiliki oleh ilmu pasti. Keadaan ini dikenal dengan revolusi behavioral .
Setelah revolusi behavioral ini, terjadi perdebatan besar antara kaum tradisionalis dan behavioralis yang ingin menempatkan studi hubungan internasional (HI) pada fondasi analisis ilmiah. Paradigma ini kemudian disebut sebagai paradigma positivisme dimana studi HI menjadi penelitian objektif yang berhubungan dengan penemuan fakta-fakta yang dapat diuji dari world politics berdasarkan teknik penelitian ilmiah yang valid . Salah satu bukti sentuhan paradigma ini dalam studi HI adalah pengembangan neorealisme dari unsur-unsur realisme klasik pada era Perang Dingin.
Dalam memandang aspek ontologis ilmu pengetahuan, positivis memandang hakikat realitas – dalam hal ini hakikat dunia sosial mengingat studi HI sebagai ilmu sosial – sebagai suatu universalisme. Untuk mendapatkan realitas ini, secara epistemologis, peneliti harus membuat jarak dengan objek penelitiannya karena realitas yang objektif adalah realitas yang eksternal di luar peneliti. Jarak yang dibuat akan menguatkan objektivitas pengetahuan yang didapat sehingga secara aksiologis, peneliti berperan sebagai disinterested scientist yang tidak memasukkan unsur nilai, etika dan moral dalam proses penelitian.
Positivisme memiliki aspek empiris yang relatif lebih besar dibanding dengan dua paradigma lainnya sehingga lebih akurat , dapat diuji kebenarannya, dan dapat dipercaya. Selain itu, generalisasi yang diterapkan membuat pengambilan keputusan menjadi lebih cepat karena berdasar pada generalisasi keputusan sebelumnya. Metodologi yang komprehensif dan efisien mendorong pesatnya kemajuan bagi ilmu pengetahuan. Selain itu, penelitian juga lebih efisien karena tidak harus berinteraksi langsung dengan objek.
Namun di sisi lain, prinsip universalitas dalam positivisme tidak selalu cocok diterapkan dalam dunia yang memiliki perbedaan situasi dan karakteristik yang berbeda. Apalagi setelah kemunculan percabangan ilmu yang semakin partikular dengan paradigma berbeda, sehingga semakin tidak memungkinkan adanya generalisasi dan universalisme. Kemudian karena standardisasi dan legalitas otoritas menjadi syarat utama bagi pemproduksi pengetahuan, prinsip netralitas dalam positivisme malah tidak berlaku karena pengetahuan dijadikan instrumen kepentingan bagi pihak yang memiliki power untuk memproduksi pengetahuan. Sehingga seperti yang dikatakan oleh Horkheimer, postivisme membuat manusia harus bergantung pada pihak yang mempunyai power untuk memproduksi pengetahuan, masa yang disebut Weber sebagai ‘iron cage’ . Nilai yang dikesampingkan dalam pengetahuan juga lantas memberikan suatu dampak negatif yang besar terhadap aplikasi pengetahuan itu. Dalam kenyataannya, marxisme Soviet yang menerapkan positivisme absolut terhadap ajaran Lenin yang berakar dari Darwinisme adalah salah satu kebrutalan terhebat dalam sejarah. Selain itu, karena sifatnya yang preskriptif, pengetahuan yang dihasilkan tidak dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan berikutnya.
Kemapanan positivisme, dalam hal ini neorealisme dalam studi HI, kemudian coba didobrak oleh relativisme ala Foucoult dan Der Derian yang secara ontologis memandang realitas sebagai realitas semu (virtual reality) karena produksi pengetahuan adalah proses politis berdasar sejarah (historical realism) yang kental dengan nilai-nilai normatif sehingga realitas yang terbentuk adalah kekuatan sejarah dengan tarik-menarik aspek sosial, budaya dan politik. Dengan demikian, secara epistemologis relativisme menolak universalitas pengetahuan karena secara aksiologis, nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu penelitian (value mediated findings). Paradigma ini muncul sebagai reaksi atas absolutisme gereja dalam ilmu pengetahuan pada abad pertengahan di Eropa. Karena tujuannya inilah maka dalam studi HI paradigma ini dikenal dengan teori kritis (critical theory) yang bersifat emansipatoris.
Paradigma ini adalah kacamata yang tepat untuk menganalisis latar belakang pengambilan keputus an melalui pemahaman tentang sejarah, psikologi dan latar belakang sosial dari pengambil keputusan tersebut. Pengetahuan kemudian menjadi entitas yang historis dan partikular. Dampak positifnya adalah didapatkan pengetahuan yang dinamis. Namun di sisi lain, fleksibilitas pengetahuan ini tidak memungkinkan penarikan generalisasi untuk kasus lain yang sehingga tidak ada satu ilmu khusus yang ‘one for all’. Kemudian jika ilmu yang dihasilkan adalah manifestasi dari interaksi nilai dan pemikiran peneliti, maka pengetahuan yang didapatkan hanya merupakan tarik-menarik kepentingan dan hanya berwujud sekumpulan hasil pemikiran yang tidak dapat dimanfaatkan oleh aktor yang berbeda. Interaksi yang harus dilakukan secara langsung dengan objek membuat paradigma ini terkesan rumit untuk diterapkan bagi ilmu sosial.
Paradigma lainnya berakar dari pemikiran Weber yang berusaha menggabungkan kelebihan dua paradigma terdahulu sehingga dapat berposisi sebagai via media antara positivisme dan relativisme, yang dikenal sebagai rekonsiliatori. Secara ontologis, rekonsiliatori melihat realitas sebagai hasil dari konstruksi sosial. Oleh karena itu, dalam memahami masyarakat, diperlukan penggabungan tentang fakta dan nilai sekaligus . Komprehensivitas paradigma inilah yang menjadi nilai lebih pandangan tersebut. Karena konstruksi bagi sebuah kebenaran menjadi hal yang penting, maka secara epistemologis interaksi antara pelaku dengan objeknya adalah hal yang mutlak dilakukan. Nilai dan moral harus disertakan dalam proses penelitian yang secara aksiologis peneliti menjadi fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas objek.
Selain komprehensivitas, kelebihan paradigma ini juga terletak pada rasionalitas pengetahuan yang dihasilkan karena peneliti berusaha memahami nilai tanpa membuat penilaian terhadap nilai tersebut. Namun kemudian dual procedure yang diajukan oleh Weber ini menjadi cukup bias karena proses scientific yang diajukan oleh Weber hanya bertujuan untuk menyaring nilai eksternal dan bukan nilai internal itu sendiri. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana peneliti dapat membedakan nilai eksternal dan internal jika nilai itu saling berinteraksi dan mempengaruhi justifikasi peneliti.
Ditinjau dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing paradigma, maka menurut saya pribadi, rekonsilisiatori adalah kacamata yang paling tepat sebagai instrumen analisis tentang kajian HI. Bagaimana menggabungkan fakta dan nilai adalah skill yang harus dimiliki oleh akademisi maupun pengambil keputusan untuk membuat suatu kebijakan publik yang ‘ramah’ namun rasional. Walaupun kemungkinan untuk berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi objek sangat kecil, peneliti tetap dapat memahami nilai yang dikaji melalui studi literatur dan kepustakaan.
Kebenaran-kebenaran yang coba dikumpulkan melalui berbagai paradigma ini dapat disusun dalam kerangka ilmu pengetahuan dengan cara penarikan generalisasi. Jika riset didahului dengan observasi dan pengamatan indrawi, maka kebenaran partikular yang dihasilkan dapat digeneralisir ke dalam kesimpulan general . Hal inilah yang dimaksudkan dengan penarikan kesimpulan secara induksi. Disisi lain, hubungan antar variabel dapat disusun lebih dahulu untuk menghasilkan teori dan hipotesis umum yang selanjutnya ditarik dalam kesimpulan yang lebih khusus.

Referensi :
Hamersma, Harry, Pintu Masuk Ke Dunia Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1981
Kothari, C.R., Research Methodology ; Methods and Techniques, New age International Ltd, New Delhi,2004
Linklater, Andrew, ‘Critical theory’ in Martin Griffiths (ed), International Relations Theory for the Twenty-First Century, New York, Routledge, 2007
Naya Sujana, Nyoman, ‘Berpikir Ilmiah’ dalam Bagong Suyanto & Sutinah (eds), Metode Penelitian Sosial ; Berbagai Alternatif Pendekatan, Prenada Media Group, Jakarta, 2004, p.1
Sarjuni, Paradigma
Sorensen, Georg and Robert Jackson, Introduction to International Relations, Oxford University Press, New York, 1999
Walliman, Nicholas, Your Research Project ; A Step by Step Guide For The First-Time Reseacher, Sage Publications, London, 2001
Wignjosoebroto, Soetandyo, Positivisme : Paradigma Ke Arah Lahirnya Teori-teori Sosial ; Handout ‘Teori-Teori Sosial Untuk Kajian Hukum, 2009

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.