Kopiitudashat's Blog

July 14, 2009

Teori Konflik : Evolusi dan Hubungannya dengan Peace Research

Filed under: Uncategorized — kopiitudashat @ 8:18 am


Konflik dapat dipahami sebagai kondisi dimana sekelompok manusia terlibat dalam perlawanan secara sadar terhadap satu atau lebih sekelompok manusia lain karena perbedaan tujuan . Jadi, dapat disimpulkan bahwa konflik adalah pertentangan antar manusia dan bukan perjuangan manusia dalam lingkungan fisiknya. Yang membedakan konflik dengan kompetisi adalah upaya untuk mengurangi apa yang layak didapatkan oleh orang lain, yang tidak ada pada kompetisi. Konflik sosial meliputi perang, revolusi, kudeta, gerilyawan, sabotase, teror, huru hara, demonstrasi dan lain sebagainya.
Dalam mengkaji konflik berdasar ruang lingkupnya, teori konflik dapat dibedakan menjadi teori konflik mikro dan makro. Teori mikro melihat konflik sebagai sifat dasar manusia, dimana dalam kajian ini ilmu psikologi menjadi kerangka pikir dominan. Misalnya bagaimana sifat hawkish pengambil keputusan dipengaruhi oleh faktor ideosinkretisnya. Sedangkan teori makro lebih melihat konflik sebagai interaksi antar kelompok- baik institusi, negara ataupun organisasi- yang dapat dijelaskan dalam kerangka pemikiran sosiologi, hubungan internasional, dan lain sebagainya. Misalnya kajian hi dalam memandang invasi Irak oleh AS. Dalam memandang konflik, para scholar terbagi ke dalam dua sikap yang saling berseberangan. Apakah konflik dilihat sebagai fenomena rasional, konstruktif dan fungsional ataukah konflik lebih dipandang sebagai fenomena irasional, patologis dan disfungsional.
A. Evolusi Teori Konflik
1. The Older Theory of War
Dalam older theory, konflik dan perang dilihat dalam motivasi psikologis-religi yang umumnya menggunakan metodologi yang sederhana dengan data yang relatif minim. Teori ini mengkaji berbagai perang yang berlangsung sebelum jaman modern , terutama perang pada kebudayaan religi kuno, serta teori filosofis dalam periode negara-bangsa. Perang berbasis religi ini dapat ditemukan dalam berbagai perselisihan yang menggunakan ajaran agama sebagai pembenaran. Seperti jihad, perang suci berdasar etika Kristen, gerakan pembenaran Hindu, dan sebagainya. Perang berbasis religi mempunyai dimensi moral dan sosial yang normatif dimana perang dipandang sebagai sesuatu yang amoral, uncivilized dan harus dihindarkan.Walaupun bersifat klasik, teori ini tetap memiliki relevansi dengan situasi kontemporer karena merefleksikan motivasi secara sadar dan rasionalisasi perang sehingga lebih faktual daripada teori konflik kontemporer yang lebih menekankan pada pendekatan matematis yang abstrak. Dalam kaitannya dengan awal terbentuknya negara-bangsa pasca Perjanjian Westphalia, konflik lebih dimaknai sebagai manifestasi dari pertentangan kepentingan ekonomi dimana kolonialisme dan imperialism menjadi wajah baru konflik yang dilakukan oleh negara.
2. The Modern Pasifism
Teori ini menitikberatkan pada penolak legalisasi moral dari perang yang muncul setelah renaissance dengan tokohnya Dymond, Richard Cobden dan Norman Angell. Angell menjelaskan ancaman perang terhadap kesejahteraan ekonomi, jadi walaupun ada perdamaian, perdamaian itu bukan tercipta karena pertimbangan moral tapi lebih karena interdependensi ekonomi antar negara.
3. Bellicist Theories
Merupakan reaksi terhadap teori pasifisme. Teori ini menjelaskan berbagai strategi perang modern setelah Revolusi Perancis, salah satunya adalah strategi Clausewitz yang menegaskan ketidakmungkinan berlangsungnya perang absolute
4. Bellicist dan Pasifism Polarize
Teori yang dimotori oleh Vilfredo Pareto dan Gaetono Mosca ini lebih bersifat rasionalis-positivis. Mereka menjelaskan konsep aturan yang dibuat oleh elit, pentingnya instrumen koersif dalam pemeliharaan tatanan dan kesatuan sosial serta revolusi yang tidak dapat dihindari.
5. Anarkisme dan Sosialis Marxis
Pandangan marxis menekankan konflik sebagai fenomena yang tak dapat dihindari dalam dunia yang anarki.
6. Just War di era nuklir
Just war adalah serangkaian norma membatasi negara untuk mencegah negara melakukan aksi yang merugikan pihak lain demi mencapai kepentingannya. Teori ini adalah teori yang paling sesuai dengan keadaan kontemporer saat ini. Di sini just war theory menggambarkan ketiadaan institusi peacekeeping internasional yang efektif sehingga kedamaian total dunia juga sulit untuk diwujudkan. Selain itu teori ini juga memperbolehkan perang sebagai sarana mendapatkan kepentingan, walapun perang agresif tetap tidak disarankan. Selain itu, teori ini juga mempertimbangkan hukum sebagai salah satu elemen perang.

B. Argumentasi tentang Kekerasan dan Peace Research
Kekerasan dan damai adalah dua terminologi yang tidak dapat dipisahkan walaupun saling bertentangan. Pentingnya damai sebagai tujuan kemudian menandai pentingnya peace research sebagai suatu objek kajian. Peach research ini bertujuan untuk mewujudkan dunia damai atau setidak-setidaknya tanpa kekerasan. Asumsi dasarnya, kekerasan ada karena struktur, jadi teorinya bersifat struktural dan bukan actor-oriented . Kedamaian ini oleh Johan Galtung dalam Editorial to the founding edition of the Journal of Peace Research in 1964 digambarkan dengan istilah positive peace dan negative peace.
Kedua terminologi ini muncul untuk menyempurnakan teori konflik klasik yang fokus pada kekerasan langsung (direct violence). Teori konflik Galtung juga menganalisis kekerasan tak langsung (indirect violence) yang juga berkontribusi terhadap ketiadaan damai. Negative dan positive peace bersifat terpisah dan tidak dapat berdiri berdampingan. Negative peace ditunjukkan dengan ketiadaan kekerasan, dimana tatanan dunia dikuasai oleh satu negara ataupun oleh organisasi internasional seperti PBB yang menggunakan cara koersif untuk memaksakan suatu kebijakan, walaupun cara koersif itu digunakan untuk mencapai positive peace. Perdamaian ini bersifat pesimis dan solutif. Sedangkan positive peace adalah integrasi masyarakat yang diwujudkan dalam peace education, komunikasi, integrasi internasional dan lain sebagainya. Perdamaian ini bersifat optimis dan preventif.
Dalam melihat kekerasan, Galtung melihat kekerasan daalm tiga ranah yaitu budaya, struktural dan kekerasan langsung. Untuk mengatasi kekerasan itu, Galtung menghubungkan empat dimensi power yang berdampak pada positive dan negative peace yaitu budaya, ekonomi, militer dan politik. Power inilah yang akan digunakan untuk mewujudkan positive peace. Jika demikian, menurut saya pribadi maka akan terjadi kerancuan dan penyalahgunaan power yang menggunakan pembenaran perwujudan damai, namun kenyataannya hanya untuk meluaskan kepentingan hegemon dunia. Selain itu, teori konflik yang bersifat struktural ini tidak memberikan solusi konkret tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang aktor sebagai agent. Sifatnya terlalu pesimis dengan mem-prejudice bahwa sistem pada dasarnya memang buruk dan hanya menghasilkan konflik.

Referensi:
Dougherty, James E. & Robert Platzgraff. (1986). Contending Theories of International Relations: a Comprehensive Survey. New York, Longman
Grewal, Baljit Singh.2003.Positive and Negative Peace.pdf. Auckland University of
Technology

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.