Kopiitudashat's Blog

July 14, 2009

Neoliberalisme, Solusi atau Dependensi? : Studi Tentang Kegagalan Neoliberalisme di Amerika Latin Oleh Maria Elysabet Mena

Filed under: Uncategorized — kopiitudashat @ 7:26 am

Abstract:
This article evaluates how neoliberal economic strategy was applied in Latin America after the crisis in 1980s, especially the implications of neoliberal policy in Latin America’s economic stability. The article develops two interdisciplinary frameworks for the issue, included dependency theory and Marxism perspective that are based on some concepts like dependency, liberalization and crisis. The objectives of the article are to find whether neoliberal economic system is appropriate to applied in Latin America. Implications of the frameworks are discussed to emerging any alternative for the regime’s future, especially for nationalism economic system.

Keywords: liberalization, dependency, crisis, nationalism

Pendahuluan
Amerika Selatan merupakan kawasan yang terdiri dari 12 negara, dimana 10 diantaranya adalah negara Latin meliputi Argentina, Bolivia, Brazil, Chili, Kolombia, Ekuador, Paraguay, Peru, Uruguay, dan Venezuela . Oleh karena itu, Amerika Selatan juga lebih sering disebut sebagai Amerika Latin.

Negara-Negara Amerika Latin

Sumber:”Mercosur.”Microsoft® Student 2008 [DVD].Redmond,WA:Microsoft Corporation, 2007

Berbicara tentang Amerika Latin, maka umumnya yang pertama kali terlintas adalah kawasan dengan ketimpangan dan kesenjangan yang sangat tinggi. Selain itu, pengalaman historis negara-negara di kawasan ini dalam lima abad terakhir diwarnai dengan rezim oligarki yang sangat kuat, oleh karena itu banyak anggapan yang menyebutkan bahwa dekolonisasi Amerika Latin hanya merupakan pintu masuk bagi eksploitasi dari golongan oligarki. Lebih dari itu, intervensi dan eksploitasi juga datang dari pihak luar yang menginduksikan liberalisasi perdagangan dan pembangunan infrastruktur, terkait dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki negara-negara Amerika Latin. Venezuela, Argentina dan Brazil merupakan jalur pipa gas yang menuju Amerika Utara . Raksasa industri asing, seperti Amerika Serikat (AS) dan China berlomba-lomba untuk ‘menguasai’ kawasan ini namun sering mendapat hambatan dari pertentangan antar elit sehingga strategi pembangunan menjadi tidak konsisten dan tidak efektif .
Untuk mengatasi keterbelakangan pembangunan, negara-negara Amerika Latin dan Karibia memberlakukan strategi substistusi impor yang merupakan bentuk penerapan merkantilisme dimana intervensi pemerintah dalam pasar internasional dinilai merupakan jalan terbaik untuk mencapai kepentingan nasional. Merkantilisme ini tidak bertahan lama karena krisis yang terjadi pada awal 1980an membuat keyakinan negara akan perspektif neoliberalisme menguat. Krisis domestik ini diperparah oleh perlambatan ekonomi internasional yang mengiringi runtuhnya sistem Bretton Wood, dan sangat menghancurkan perekonomian Amerika Latin yang pada dekade 1970an menuai pendapatan yang tinggi dari sektor agrikultur dan manufaktur. Jika pada tahun 1972 total hutang luar negeri Amerika Latin mencapai 31,3 milyar dolar maka pada akhir 1980an, hutang-hutang itu telah mencapai 430 milyar dolar . Pelonjakan hutang ini membuat suku bunga meningkat drastis dan menimbulkan inflasi yang sangat tinggi, bahkan di Bolivia mencapai 12.000 % .
Dengan desakan International Monetary Fund (IMF), World Bank dan AS, Amerika Latin mengubah strategi ekonominya menjadi strategi neoliberalisme. Seluruh aspek ekonomi-politik yang ada kemudian akan berjalan dalam koridor prinsip-prinsip neoliberalisme yang tertuang dalam Washington Consensus, meliputi disiplin fiskal, pengurangan pajak, deregulasi kebijakan moneter, kebebasan bagi investor asing, pembebasan arus keuangan dan privatisasi . Inti dari semua kebijakan ini adalah bagaimana kesejahteraan manusia dapat diwujudkan melalui pembebasan individu dari setiap kekangan. Kemerdekaan individu dalam hal ini hanya bisa dijamin melalui kerangka kelembagaan yang ditandai dengan pengakuan terhadap hak milik pribadi, pasar bebas dan perdagangan bebas.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah neoliberalisme yang diterapkan sebagai pengganti merkantilisme merupakan solusi yang tepat bagi Amerika Latin untuk dapat keluar dari krisis yang menghancurkan perekonomian, sekaligus mengembangkan perekonomian Amerika Latin dalam dunia yang kapitalis. Dalam mengkaji permasalahan ini, penulis menggunakan teori dependensi yang dikembangkan oleh Fernando H. Cardoso, Faletto, dan Theotonio Dos Santos. Teori ini membagi dunia menjadi dua bagian, negara core yang menikmati dampak positif dari industrialisasi dan negara pheripery yang lebih sering dieksploitasi oleh negara core. Keterbelakangan (underdevelopment) bukan merupakan hasil dari masyarakat yang non-modern, tetapi keterbelakangan justru dikembangkan oleh ekspansi kapitalisme, terutama dalam kaitannya dengan negara pheripery . Negara pheripery mengalami underdeveloped karena development yang berlangsung di negara core. Teori ini juga diperkuat oleh pandangan konvensional Ekonomi Politik Internasional (EPI), marxisme, yang menjelaskan bahwa krisis merupakan hal yang biasa terjadi dalam sistem kapitalis dan selanjutnya akan menyebabkan terjadinya boom and bust cycle . Berdasarkan teori yang telah disampaikan, maka penulis memandang bahwa neoliberalisme bukan solusi yang tepat bagi Amerika Latin.

Penerapan Neoliberalisme di Amerika Latin

Teori dependensi merupakan kritik dari model kemiskinan ala Rostow yang menganggap bahwa uneven development merupakan akibat dari kurangnya keterlibatan suatu negara dalam perdagangan global . Jika merujuk pada model Rostow, maka seharusnya liberalisasi perdagangan yang dilakukan Amerika Latin, khususnya Brazil dan Argentina, akan dapat membawa negara-negara ini ke pembangunan yang berkelanjutan, mengentaskan masyarakatnya dari kemiskinan yang telah lama dialami sejak pendudukan kolonial dan eksploitasi kaum oligarki. Untuk menggambarkan bagaimana saran yang diajukan oleh model Rostow – yang secara tidak langsung merujuk pada saran neoliberalisme – penulis akan menguraikan lima kebijakan yang ditempuh Amerika Latin dan hasil yang didapatkan.
Kebijakan pertama adalah liberalisasi impor. Dengan substitusi impor, pemerintah mengenakan pembatasan impor yang sangat ketat. Perusahaan domestik dilindungi dari kompetisi luar negeri sehingga dapat mengatur harga komoditas dan mengakomodasi kenaikan upah buruh. Inilah yang menyebabkan inflasi. Dengan liberalisasi, korporasi diterjunkan dalam persaingan bebas sehingga pemerintah tidak bisa bebas mengatur harga, inflasi memang dapat diatasi namun buruh mengalami tekanan. Perusahaan lokal dengan modal yang tidak besar pun harus gulung tikar. Kesejahteraan yang diharapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan karena kesejahteraan buruh semakin tertindas.
Kebijakan kedua adalah exchange-rate overvaluation yang mengurangi harga mata uang lokal untuk komoditas impor. Konsumen memang diuntungkan karena barang impor dengan kualitas lebih baik dapat diperoleh dengan harga yang lebih murah daripada produk lokal namun dampaknya adalah ketidakseimbangan neraca pembayaran karena surplus impor menjadi meningkat sehingga mengurangi devisa. Kebijakan ketiga adalah liberalisasi keuangan domestik. Deregulasi sektor keuangan diharapkan dapat meningkatkan tabungan dan investasi namun yang terjadi justru sebaliknya. Di Argentina, tingkat tabungan menurun dari 22 % menjadi 17 % dalam 10 tahun pertama penerapan neoliberalisme .
Kebijakan keempat adalah reformasi fiskal (meningkatkan pajak dan memotong pengeluaran) untuk menyeimbangkan neraca pembayaran. Kebijakan ini memang berhasil menyeimbangkan neraca pembayaran, namun pembangunan yang diharapkan tidak berjalan karena pemerintah harus menekan pengeluaran, kesejahteraan sosial pun semakin tidak terwujud karena IMF menekankan pemotongan pos-pos yang dianggap meningkatkan pengeluaran, termasuk subsidi dan dana jaminan sosial. Kebijakan yang terakhir adalah liberalisasi arus modal. Tujuannya untuk menarik investor agar perekonomian dan industrialisasi dapat bangkit kembali, namun kombinasi dari kelima kebijakan ini malah memicu kehancuran yang semakin besar di Amerika Latin.
Ramalan yang telah disampaikan marxisme – pada kerangka analisis teori – terbukti, ekonomi yang merambat naik, walaupun disertai dengan ketimpangan dan kesenjangan, kembali diguncang oleh krisis yang tak lebih ringan dari krisis 1980an. Meksiko dan Argentina mengalaminya pada 1995, tidak lama kemudian Argentina mengalami krisis yang serupa pada 1998 dan 2002, tak jauh berbeda dengan Brazil yang juga dilanda krisis pada 1999. Hal ini membuktikan bahwa teori dependensi terjadi pada Amerika Latin yang merupakan negara berkembang dengan sumber daya yang kaya namun memiliki kesiapan yang minim dalam pelaksanaan liberalisasi. Dengan kesiapan yang minim ini, Amerika Latin terpaksa berkompetisi dengan negara-negara kapitalis yang mapan. Tentu saja yang terjadi kemudian, ketidaksamaan start ini membuat hasil yang didapat juga tidak seimbang.
Ketika Brazil, Argentina, Paraguay dan Uruguay sepakat menandatangani Traktat Asuncion 1991 untuk membentuk organisasi regional yang dinamakan Mercosur (Mercado Común del Sur), harapan awalnya adalah mendirikan institusi regional yang dapat meningkatkan competitiveness dalam perdagangan global. Nantinya peningkatan perdagangan – salah satu buah pemikiran neoliberalisme- diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masing-masing anggota. Namun penulis melihat bahwa Mercosur kemudian menjadi sarana eksploitasi baru dari negara core, dalam hal ini NAFTA, negara-negara Uni Eropa dan China, mengingat bahwa perdagangan intra regional hanya mencapai 15 % dari total perdagangan. Maka bisa dikatakan bahwa sebagian besar sisanya merupakan kerjasama dagang dengan tiga aktor tersebut, tentu saja dengan sebagian kecil interaksi dengan negara lainnya.
Paparan di atas menunjukkan bahwa dengan menerapkan neoliberalisme, eksploitasi yang dialami Amerika Latin bukannya berakhir, tetapi malah semakin ditingkatkan dengan yang apa disebut penulis sebagai ‘eksploitasi gaya baru’, yaitu eksploitasi institusi regional core (UE, NAFTA, Komunitas Andean dan lain sebagainya) kepada institusi regional pheripery, dalam hal ini Mercosur.
Pandangan pemerintah negara-negara Amerika Latin bahwa krisis yang dialami kawasan itu merupakan akibat dari kegagalan merkantilisme yang diterapkan melalui substitusi impor, adalah pandangan yang keliru, karena sebenarnya krisis 1980 adalah penetrasi dari krisis internasional, yaitu bagaimana kejatuhan sistem Bretton Wood membuat arus pertukaran mata uang menjadi sistem mata uang mengambang (floating exchange rate), dari yang semula sistem mata uang tetap (fixed exchange rate). Sistem mata uang mengambang ini membuat mata uang domestik menjadi rentan, karena kekuatan mata uang kini ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar. Jika kemudian substitusi impor gagal menstabilkan inflasi, kesalahan bukan terletak dari kebijakan substitusi ini, tetapi pada bagaimana pemerintah dan struktur yang rapuh karena tarik-menarik kepentingan elit oligarki gagal menjalankan kebijakan substitusi yang bersih.

Kembali ke Ekonomi Nasionalisme
Dengan berbagai krisis dan kesulitan yang diciptakan dengan penerapan neoliberalisme, maka penulis memandang bahwa jalan keluar paling tepat untuk Amerika Latin adalah penerapan sistem ekonomi nasionalisme. Karena dependensi erat kaitannya dengan kapitalisme, maka pemutusan rantai dependensi hanya dapat dilakukan melalui musuh dari kapitalisme itu sendiri, yaitu ekonomi nasionalisme. Sistem ekonomi nasionalisme, atau yang juga disebut sebagai merkantilisme, proteksionisme, dan statisme, meletakkan aktivitas ekonomi dalam kerangka kepentingan nasional . Dengan sistem ekonomi nasionalisme, Amerika Latin dapat memanfaatkan kekayaan sumber daya yang dimiliki, khususnya agrikultur dan minyak, tanpa harus mengalami eksploitasi dan ketergantungan yang dijelaskan dalam teori dependensi.
Sistem ini juga menekankan industrialisasi karena industri dipercaya mempunyai efek yang menyebar dalam pembangunan nasional secara keseluruhan. Selain itu, keberadaan industri dalam negeri dapat diartikan sebagai kemampuan pemenuhan kebutuhan sendiri dan otonomi politik. Apalagi industri merupakan dasar kekuatan militer dan keamanan nasional dalam dunia modern sekarang ini. Dalam kerangka sistem ini, Amerika Latin, khususnya Brazil dan Argentina, dapat melanjutkan industri manufaktur yang memang merupakan komoditas utamanya, tanpa harus merugikan buruh karena upah buruh tak lagi harus ditekan untuk meningkatkan competitiveness. Selain itu, yang juga penting dilakukan oleh Amerika Latin adalah nasionalisasi perusahaannya, terutama perusahaan minyak, untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap pihak asing.
Krisis yang terjadi pada awal 1980an maupun keterbelakangan pembangunan yang dialami oleh sebagian besar negara Mercosur telah menggambarkan kegagalan demokrasi dalam mewujudkan kesejahteraan Amerika Latin. Hal ini dapat terjadi karena demokrasi yang dikembangkan condong ke arah demokrasi liberal dimana kepemilikan pribadi dan akumulasi modal oleh sejumlah kecil golongan ternyata semakin memperparah ketidakmerataan distribusi pendapatan yang ada. Privatisasi pada sebagian besar perusahaan di Venezuela, Brazil, Chili, dan Argentina berujung pada peningkatan jumlah pengangguran yang kemudian memunculkan berbagai persoalan sosial baru . Oleh karena itu, yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah adalah nasionalisasi perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak melalui mekanisme sosialisasi yang terkoordinasi.
Dalam teori dependensinya, Cardosso dan Faletto juga menambahkan bahwa secara politik, kapitalisme akan membawa negara core ke kehidupan yang menjunjung tinggi demokrasi dan pengakuan hak-hak warga negara, tetapi kesejahteraan politik ini tidak akan dirasakan negara pheripery karena negara ini hanya akan menjelma menjadi negara yang represif dan totaliter karena ketergantungan terhadap negara kapitalis. Oleh karena itu, nasionalisme yang akan diterapkan kembali di Amerika Latin juga harus diiringi dengan penjaminan demokrasi, mengingat dengan penerapan neoliberalisme pun belum menjamin adanya demokrasi.
Bantuan neoliberal yang diberikan oleh Presiden John F. Kennedy dalam program Alliance for Progress pada 1970an pada awalnya memang dapat membawa reformasi ekonomi dan sosial di Amerika Latin, namun dampak negatifnya dapat dilihat pada 10 tahun sesudahnya dimana hampir semua negara Amerika Latin terjebak dalam ketergantungan terhadap utang luar negeri dan ketidakmampuan untuk menyelesaikan pembayaran sehingga jalan yang tersisa adalah menguras semua sumber daya alam yang ada. Yang harus dilakukan adalah kontrol self reliance yang kuat yang hanya dapat diwujudkan dalam sistem sosialisme, walaupun tidak kemudian mengisolasi diri dari pergaulan internasional.
Jalan menuju ekonomi nasionalisme memang sudah sangat terbuka bagi Amerika Latin, apalagi mengingat faktor ideosinkretis pemimpin negara-negara Amerika Latin yang keras menentang neoimperialisme asing. Gelombang tuntutan menentang neoliberalisme terjadi di Argentina, Bolivia, Brazil, Ekuador, Meksiko, Peru dan Venezuela. Pada tanggal 30 April 2007 Presiden Hugo Chavez mengumumkan rencananya untuk secara formal menarik keanggotaan Venezuela dari Bank Dunia dan IMF . Segera setelah berkuasa pada tahun 1999, Chavez telah membayar seluruh utang Venezuela kepada IMF. Venezuela juga telah melunasi utangnya kepada Bank Dunia lima tahun lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Venezuela juga menyuntikkan dana bagi negara-negara Amerika Latin lainnya dalam rangka pelunasan hutang negara-negara itu pada IMF dan World Bank untuk melepaskan dependensi regional Mercosur, menjadi Mercosur yang independen.

Kesimpulan
Pemaparan yang telah disampaikan menunjukkan bagaimana Amerika Latin telah memilih neoliberalisme sebagai solusi krisis yang dihadapinya, dan ternyata neoliberalisme tidak berhasil menyelamatkan negara-negara Amerika Latin keluar dari krisis, jikapun berhasil, sifatnya hanya sementara dan malah membawa krisis yang lebih sering dan lebih dalam. Pemaparan ini juga menunjukkan bagaimana rezim neoliberal – IMF dan World Bank – sudah berkurang kekuatannya dalam menyebarkan paham neoliberal ke negara-negara pheripery, dalam hal ini negara-negara Amerika Latin. Dengan rapuhnya rezim ini, maka tidaklah berlebihan bila penulis memprediksikan bahwa posisi neoliberal tidak akan lama lagi akan tergantikan, apalagi mengingat penolakan negara-negara berkembang terhadap praktik neoliberalisme itu.
Penolakan ini muncul karena teori dependensi Cardosso dan Faletto ternyata dengan tepat menggambarkan eksploitasi kapitalisme yang dibawa oleh neoliberalisme. Eksploitasi dan krisis yang dihadapi juga sesuai dengan ramalan marxisme terhadap liberalisme kapital. Oleh karena itu penulis mengajukan solusi lain bagi Amerika Latin, yaitu penerapan ekonomi nasionalisme tanpa mengisolasi diri dari perekonomian global. Dengan berbagai fakta dan data yang disampaikan sebelumnya berdasar teori dependensi dan perspektif marxisme, ditambah dengan ekonomi nasionalisme yang diajukan penulis sebagai solusi bagi Amerika Latin, maka dengan demikian tesis yang diajukan penulis bahwa neoliberalisme bukan solusi yang tepat bagi Amerika Latin dalam hal ini terbukti.

Daftar Pustaka

Anonym.Three Ideologies of Political Economy
Anonim.2008.Menyimak ”Gerakan Independensi” Amerika Latin terhadap AS dan Neoliberalisme.
Dodds, Klauss and David Atkinson. 2000. Geopolitical Tradition: A Century of Geopolitical Thought. London : Routledge.
G. Victor, David et al (eds).2006.Natural Gas and Geopolitics: From 1970 to 2040.New York: Cambridge University Press
Hiariej, Eric.2007.’Pemulihan Kekuasaan Kelas Dominan dan Politik Neoliberalisme’ in Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI. Global : Jurnal Politik Internasional. Depok : Tinta Creative Production
J. Cohen, Benjamin.2007.International Political Economy: An Intellectual History. New Jersey: Princeton University Press
J Robinson, David. “South America.” Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.
“Mercosur.” Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007

Nogueira, Uziel.2007.China-Latin America Relations In The XXI Century: Partners Or Rivals?.CRIS

Saad-Filho, Alfredo. 2005.’The Political Economy of Neoliberalism in Latin America’ in Alfredo Saad-Filho and Deborah Johnston (eds).Neoliberalism : A Critical Reader. London : Pluto Press

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.