Kopiitudashat's Blog

July 14, 2009

Konstruktivisme , Kritikan Terhadap Kerasionalitasan Aktor Hubungan Internasional

Filed under: Uncategorized — kopiitudashat @ 8:19 am


Dari judul di atas, terlihat jelas bahwa konstruktivisme hadir sebagai pengkritik rasionalisme. Segala sesuatu dapat dikatakan rasional bila sesuai dengan rasio atau akal pikiran manusia sebagai aktor, tentu saja tidak terlepas dari untung-rugi yang telah dijelaskan oleh teori pilihan rasional (rational choice theory). Sebagai kritikus, maka ada hal-hal yang muncul dalam rasionalisme yang tidak dapat diterima oleh konstruktivisme, walaupun tidak dapat disangkal bahwa tetap ada titik singgung antara keduanya.
Kemunculan rasionalisme sebagai kajian hubungan internasional berawal dari diskursus antara dua perspektif besar dalam studi hubungan internasional, yaitu realisme yang mengedepankan struggle for power dalam kaitannya dengan security suatu negara, dan idealisme atau yang oleh Wight disebut sebagai kosmopolitan yang memandang bahwa sudah selayaknyalah moral menjadi bahan pertimbangan perilaku domestik dan internasional. Kekakuan kedua teori ini kemudian coba dijembatani oleh rasionalisme, yaitu neorealisme yang menyempurnakan realisme dengan menerima kooperasi dalam sistem internasional, dan neoliberalisme yang telah menerima pandangan dunia anarki yang telah diabaikan oleh kenaifan liberalisme .
Dalam London School of Economics pada 1950an, Wight menganggap rasionalisme sebagai via media antara realisme dan revolusionisme, revolusionisme ini menurut Wight adalah cara berpikir idealis atau kosmopolitan . Rasionalisme tetap memandang sistem internasional sebagai keadaan yang anarki sehingga ia tetap menomor satukan keamanan nasional, namun demikian ia juga mengenal moral universal untuk mengontrol egoisme negara.
Rasionalisme memiliki tiga asumsi dasar. Pertama, Aktor-baik individu maupun negara- diasumsikan bergerak secara rasional dengan self interest. Ketika Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk melakukan invasi ke Irak, maka tindakan itu didasarkan atas kepentingannya terhadap minyak dan bukan karena tuntutan demokrasi dari dunia internasional. Kedua, kepentingan tiap aktor bersifat eksogen, kepentingan itu telah ada sebelum aktor memutuskan untuk masuk ke dalam suatu hubungan sosial. Ketiga, society adalah area pertemuan strategi para aktor yang berusaha memaksimalkan kepentingannya. Jadi, kelebihan dari rasionalisme adalah bagaimana teori ini dapat menghindari kekakuan dari realisme dan kenaifan idealisme. Kelemahannya, pandangan ini mengabaikan hubungan antara moral dengan teori politik serta gagal mengembangkan pendirian normatif yang cukup.
Kemudian muncullah teori yang mengkritisi argumen rasionalis itu yaitu teori kritis. Ketika rasionalis menganggap aktor bergerak secara atomistic egois , dengan kepentingan yang terbentuk sebelum mereka memasuki sebuah society dan menjadikan society itu sebagai area pertempuran strateginya guna mendapatkan kepentingan yang diinginkan, maka sebaliknya, para penganut teori kritis melihat aktor adalah makhluk sosial yang tak terpisahkan, dimana kepentingan aktor itu telah terkonstruksi secara sosial dan merupakan produk dari struktur sosial yang inter-subjective.
Dari kritikan itulah muncul konstruktivisme yang berbeda dengan teori kritis sebelumnya karena menitikberatkan pada analisis empiris. Konstruktivisme bukan sebuah teori tetapi merupakan kerangka analisis. Konstruktivisme muncul pada abad XVIII dari Glambattisca Vico dengan awalnya didasari oleh pandangan Friedrich Kratochwill, Nicholas Onuf, Alexander Wendt, John Ruggie. Dalam kerangka pikir konstruktivis, dunia sosial bukan fenomena yang muncul secara tiba-tiba tetapi lebih bersifat intersubjektif, karena dibentuk oleh masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. Untuk membentuk struktur sosial itu, menurut Wendt, masyarakat menggunakan tiga elemen yaitu pengetahuan bersama, sumber daya material, dan aksi . Misalnya yang terjadi dalam kasus sentimen negatif Korea Selatan (Korsel) terhadap nuklir Korea Utara (Korut). Pengetahuan yang dimiliki Korsel tentang pengalaman historisnya dengan Korut, juga pengetahuannya tentang kapasitas nuklir Korut menimbulkan suatu konstruksi dilema keamanan terhadap sumber daya material – dalam hal ini nuklir Korut – sehingga menimbulkan aksi yang diwujudkan dalam kebijakan luar negeri berupa pengecaman dan upaya merangkul dukungan dunia internasional. Oleh karena itu, anarki menurut konstruktivisme timbul karena negara yang memposisikan demikian. Dalam memandang keseluruhan agen dan struktur, konstruktivisme memiliki tiga pandangan, yaitu sistemik, unit dan holistik.
Konstruktivisme mengkritik neorealisme dalam tiga hal. Pertama, rasionalisme mementingkan elemen power secara materi, sedangkan konstruktivisme memandang materi dan norma atau ideasional sekaligus. Power yang sama tidak serta merta membuat dua negara melakukan aksi yang sama. Misalnya Kanada dan Kuba sama-sama mempunyai keseimbangan materi berupa militer, tetapi identitas seperti ideologi dan persepsi yang berbeda tentang kawan dan lawan membuat Kanada berada di pihak AS dan Kuba di pihak lawannya, Soviet. Selain sebagai penentu posisi dan arah kebijakan, norma dan ideasional juga penting karena membentuk identitas sosial aktor. Identitas sosial itu akan membentuk kepentingan melalui paksaan, komunikasi dan imajinasi. Jadi norma yang berlaku di sistem internasional akan membentuk perilaku negara sebagai entitas berdaulat.
Kritikan konstruktivisme yang kedua mempertanyakan rasionalisme yang hanya mementingkan bagaimana aktor mencapai kepentingannya, bukan pada bagaimana kepentingan itu terbentuk karena rasionalis percaya bahwa kepentingan itu telah ada sebelumnya. Sebaliknya, konstruktivisme menganggap penting untuk mengetahui bagaimana kepentingan itu terbentuk untuk dapat menjelaskan fenomena internasional. Inti dari pembentukan kepentingan inilah yang konstruktivis lihat sebagai identitas sosial. Bagi konstruktivis, tidak ada identitas yang universal, oleh karena itu tidak ada teori internasional. Ketiga, berbeda dengan rasionalisme, konstruktivisme melihat agen dan struktur berdiri bersama-sama.
Selain muncul sebagai kritik, konstruktivisme juga dapat dipandang sebagai kerangka analisis yang berbeda dan berdiri sendiri dari rasionalisme. Rasionalisme dapat dipahami sebagai pendekatan metodologis yang memberikan penempatan tentang apa dan bagaimana suatu fenomena harus berjalan. Sedangkan konstruktivisme adalah serangkaian argumen tentang penjelasan sosial. Jadi perdebatannya lebih ke bagaimana mempelajari hubungan internasional. Jika rasionalis lebih melihat ontologi secara individual maka konstruktivis lebih melihat secara keseluruhan. Rasionalisme lebih menitikberatkan materi daripada ideasional dan mencoba menerapkan teori pilihan rasional sehingga dapat dipahami sebagai metode lebih dari teori. Jika rasionalisme mempercayai bahwa segala tindakan memiliki pola dan alasan yang dapat dijelaskan, maka sebaliknya, konstruktivisme adalah alat analisis dan bukan teori substantif dalam hubungan internasional yang menekankan pada bagaimana objek dan praktek sosial dikonstruksikan. Secara singkat, perbedaan antara rasionalisme dan konstruktivisme dapat dilihat dalam tabel berikut,
Tabel Perbandingan Rasionalisme dan Konstruktivisme
No Pembeda Rasionalisme Konstruktivisme
1 Preferensi aktor Rasional, atomistic egois, Sosial
2 Kepentingan Eksogen Endogen
3 Memandang society Strategic Realm Constitutive Realm
4 Ontologi Individual Holistik
5 Fokus Materi Ideasional
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keduanya sama-sama merupakan pintu masuk untuk mempelajari hubungan internasional, perbedaannya hanya terletak pada bagaimana mempelajari kajian itu. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah rasionalisme dan konstruktivisme tidak dapat berdiri bersama-sama. Ketika AS mengkonstruksikan negaranya sebagai ‘we’ melawan negara Islam yang ‘others’ apakah tidak dapat dikatakan bahwa konstruksi AS itu terkait dengan pertimbangan tentang keuntungan apa yang bisa ia dapatkan dengan konstruksi itu, dan pengorbanan apa yang harus AS lakukan. Dengan demikian, saya pribadi berpendapat bahwa konstruksi yang dibuat aktor tidak akan terlepas dari rasionalitas yang dimiliki aktor itu dalam memandang strukturnya.
Referensi:
Burchill,Scott,et al.2005.Theories of International Relations-Third Edition.New York:Palgrave Macmillan
Linklater, Andrew.’Rationalism’ in Handbook of International Relations.Macmillan Press:London
Sorensen, Georg and Robert Jackson. 1999. Introduction to International Relations. New York: Oxford University Press

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.