Kopiitudashat's Blog

July 14, 2009

Deterrence dan Compellence sebagai Strategic of Military Defence

Filed under: Uncategorized — kopiitudashat @ 8:14 am


Berakhirnya Perang Dunia II memunculkan periode Perang Dingin yang diwarnai oleh virtual war dan proxy war. Proxy War menjadi salah satu strategi Perang Dingin dimana kedua belah pihak menggunakan pihak ketiga sebagai wilayah pertempuran. Strategi yang digunakan dalam Perang Vietnam dan Perang Korea ini dirasa cukup mahal secara ekonomis sehingga kemudian diperlukan strategi lain yang cukup efisien. Strategi ini dilakukan dengan mengembangkan nuklir yang dirasa lebih efisien, karena selain lebih memberikan efek teror, bagian kecil nuklir juga lebih efisien daripada sejumlah besar senjata konvensional . Efek teror ini memicu kedua negara superpower – AS dan Soviet – untuk sama-sama mengembangkan nuklir. Balance of Power yang diciptakan oleh Perang Dingin bergeser menjadi Balance of Terror yang didukung oleh perlombaan senjata.
Perlombaan senjata inilah yang merupakan strategi deterrence yang digunakan kedua negara. AS berusaha meningkatkan senjata yang dimiliki karena percaya hal ini dapat menghindarkan keinginan dan kemampuan lawan untuk menyerang AS. Menurut Alexander L George dan Richard Smoke, deterrence dapat diartikan sebagai serangkaian persuasi yang dilakukan oleh pihak pertama kepada pihak kedua untuk agar pihak pertama melakukan keinginan pihak kedua . Definisi ini dirangkum oleh Glenn Synder dengan kebijakan stick and carrot yang selama ini dipraktekkan oleh AS. Pihak yang satu mencegah pihak yang lain melakukan suatu aksi melalui ancaman baik implisit maupun eksplisit, dengan pemberian sanksi positif berupa hadiah jika pihak kedua menaati larangan pihak pertama dan pemberian sanksi negatif berupa hukuman jika pihak kedua berlaku sebaliknya. Deterrence hanya dapat dilakukan dalam keadaan damai walaupun damai yang dimakudkan adalah damai yang semu. Keadaan damai ini diperlukan agar teror yang dilancarkan dapat mencapai sasaran.
Terminologi ‘deterrence’ pertama kali dikemukakan oleh Bernard Brodic yang menganalisis konstelasi internasional pasca pengeboman Nagasaki-Hiroshima . Kehancuran yang dialami Jepang membuka mata para negarawan bahwa ketika senjata pemusnah massal diciptakan secara besar-besaran dan negara-negara mulai berlomba-lomba untuk memiliki senjata ini, maka perang total (total war) harus dihindarkan karena akibat dekstruktif yang dihasilkan. Dalam pelaksanaannya, deterrence sendiri terbagi ke dalam beberapa periode:
1. 1945-1949
Periode ini diwarnai oleh pengeboman Nagasaki-Hiroshima, kehancuran yang ditimbulkan baru terbaca, oleh karena itu belum ada strategi teori deterrence yang sistematis. Teori ini didahului oleh kebijakan containment yang merupakan reaksi dari ekspansi Soviet. AS sebagai pemenang Perang Dingin sekaligus negara yang pertama kali menggunakan nuklir menggunakan kemampuan militernya untuk memaksa negara lain mengikuti kepentingan AS melalui penyebaran teror.
2. Awal 1950an
Peride ini ditandai oleh pemerintahan Eisenhower pada 1950an yang menjadikan massive retaliation sebagai pola strategi utama. Selain untuk membendung serangan Soviet ke AS sendiri, nuklir juga digunakan untuk membendung pengaruh Soviet ke negara aliansi. Taktik ini juga dikenal sebagai countervalue targeting strategy sebab pola ini mencoba mengarahkan senjata-senjata AS kepada obyek-obyek yang dianggap vital oleh Soviet. Strategi lainnya adalah counterforce targeting strategy dimana senjata-senjata AS diarahkan kepada pangkalan militer dan pusat-pusat kekuatan militer Soviet.
Tujuan awal deterrence adalah sebagai strategi pertahanan (strategy of defense) untuk menghindari perilaku atau tindakan yang tidak dinginkan dari negara lain. Sifatnya preventif dan dinamis. Pola deterrence yang paling sering ditemui adalah dengan pemberian punishment tertentu untuk negara yang memberlakukan perilaku yang tidak diinginkan itu (undesirable behavior).
Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa keadaan yang memungkinkan terjadinya deterrence adalah keadaan dimana ada ketersediaan teknologi yang memungkinkan pengembangan senjata yang efektif untuk menakuti-nakuti lawan. Strategi ini memiliki beberapa tujuan diantaranya untuk memproteksi serangan – baik yang dilakukan dengan senjata nuklir maupun senjata konvensional- . Keadaan ini tidak terlepas dari strategi military defence yang menggunakan pertahanan melalui strategi deterrence dan compellence yang menggunakan elemen militer maupun non militer.
Compellence, pertama kali digunakan oleh Schelling untuk menyebut deterrence yang digunakan untuk memicu (induce) aktor lain untuk melakukan suatu aksi (behavior) . Jika deterrence digunakan untuk menekan behavior maka compellance bertujuan untuk memicu behavior walaupun keduanya biasanya digunakan secara bersamaan karena ketika aktor ingin menghindari keadaan tertentu maka ia akan memaksa aktor lain melakukan sesuatu untuk menghindari undesirable behavior itu. Menggunakan strategi kebijakan stick and carrot walaupun lalu yang lebih banyak digunakan adalah sanksi negatif, biasanya menggunakan sanksi ekonomi. Karena dapat digunakan secara bersamaan, maka terjadi suatu keambiguitasan. Antara melarang dengan memaksa pihak kedua menerima sanksi positif yang diberikan pihak pertama. Keambiguitasan ini semakin terasa ketika dalam satu kasus dapat dipandang sebagai deterrence dan compellence sekaligus tergantung perspektif yang memandang.
Ketika AS memaksa Iran menghentikan proyek proliferasi nuklirnya, AS akan memanfaatkan alasan perdamaian dunia untuk men-deterrence Iran. Bagi Iran, hal ini merupakan suatu compellence. Strategi pertahanan AS ini dapat dijelaskan dari teori strategi militer klasik – Sun Tzu- yang menitikberatkan pencapaian kemenangan tanpa perang. Dengan teror yang ditimbulkan oleh nuklir, AS dapat menjamin kemenangannya tanpa harus mengadu kekuatan militernya secara kontak langsung. Jika tak bisa dicapai, maka kemenangan ini dapat dicapai dengan menghancurkan kekuatan militer lawan maupun kemenangan paling buruk dengan menghancurkan kota dan rakyat sipil di dalamnya. Walaupun bisa dibilang bahwa dua kemenangan ini tidak dapat diraih karena ketidakmungkinan penggunaan nuklir untuk menghancurkan kekuatan lawan.

Referensi:
Dougherty, James and Manzginrtioz, Robert, Contending Theories of International Relations: A Comprehensive Study (4th edition),1996,New York : Longman
The Origins and Age of Deterrence.pdf dalam http://www.sagepublications.com
Wilson, Ward,The Myth of Nuclear Deterrence.pdf

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.