Kopiitudashat's Blog

June 12, 2009

Raksasa Uni Eropa dan Prospek ke Depannya : Dilema Antara Integrasi dan Perluasan Wilayah

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 10:26 am

Raksasa Uni Eropa dan Prospek ke Depannya : Dilema Antara Integrasi dan Perluasan Wilayah
Berakhirnya Perang Dingin memunculkan banyak perubahan besar dalam sistem internasional, terutama yang jelas terlihat adalah regionalisme dan regionalisasi yang terus bermunculan untuk menjawab tantangan integrasi ekonomi dalam globalisasi. Regionalisme terbesar yang banyak dijadikan panutan oleh regionalisme-regionalisme yang muncul belakangan adalah Uni Eropa (European Union:EU). Disebut terbesar selain karena jumlah negara anggotanya yang hingga tahun 2007 tercatat 27 negara, juga karena solidnya integrasi ekonomi-sosial budaya dan mapannya struktur organisasi yang ada. Pada 1997, impor antar negara intraregional mencapai 21% dan ekspornya 24 % , sungguh sebuah prestasi yang besar bagi sebuah organisasi regional dengan keanekaragaman budaya. Bandingkan dengan Timur Tengah yang kurang dari 5 % dan SAARC yang hanya mencapai 3.2 % . Kemapanan ini juga dapat dilihat dari tingginya tingkat keterlibatan EU dalam hubungan ke luarnya, baik dengan regionalisme lain ataupun dengan negara individu di luar EU. Karena itu, meminjam istilah Soderbaum, EU dapat dikatakan sebagai macro regionalism .
EU merupakan organisasi beranggotakan negara-negara Eropa yang didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan integrasi ekonomi dan kerjasama diantara anggotanya. Secara resmi, EU terbentuk pada 1 November 1993 dan mempunyai markas besar yang terletak di Brussel, Belgia . Dari tanggal pembentukannya, tampaknya EU ini jauh lebih muda daripada ASEAN yang sudah terbentuk sejak 1967. Walaupun baru terbentuk pada 1993, namun kerjasama dan integrasi Eropa telah lama berjalan. EU merupakan transformasi dari the European Community (EC), yang sebelumnya bernama the European Coal and Steel Community (ECSC). Berdirinya EC diprakarsai oleh Belgia, Perancis, Jerman Barat (yang kemudian menjadi Jerman Bersatu), Yunani, Itali, Luxemburg dan Belanda. Kemudian negara-negara yang tergabung dalam EC itu ditambah dengan Inggris, Denmark, Irlandia, Portugal dan Spanyol menandatangani Traktat Maastricht pada 1991 yang secara legal mentranformasi EC menjadi EU. Pada tahun-tahun berikutnya, jumlah negara anggota terus bertambah hingga menjadi 27 negara.
Dari sejarah pembentukan EU ini, dapat dilihat bahwa Perancis merupakan salah satu pemrakarsa utama dibentuknya cikal bakal EU modern. Oleh karena itu, dapat mengerti bahwa dalam hal ini Perancis mempunyai kepentingan serta kapasitas yang besar dalam EU. Terbukti dengan jabatan Presiden EU pada periode sebelumnya dipegang oleh kepala negara Perancis. Perancis juga merupakan eksportir komoditas otomotif, industri dan pertanian terbesar di EU.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa tujuan utama pendirian EU adalah integrasi dan kerjasama. Tujuan ini kemudian diwujudkan dalam bentuk borderless movement antar negara anggota. Masyarakat EU tidak memerlukan visa untuk pergi dari 1 tempat ke tempat lain dalam wilayah EU. Kerjasama dan integrasi ekonomi diperlihatkan dengan adanya Economic and Monetary Union (EMU), yang memperkenalkan dipakainya mata uang bersama, euro, untuk negara-negara angggotanya. Negara yang diperbolehkan menggunakan euro harus memenuhi kriteria yang ditetapkan mengenai tingkat inflasi, suku bunga dan hutang luar negeri. Sebenarnya wacana pembentukan mata uang bersama mendapat pertentangan dari banyak pihak terutama Inggris yang khawatir pembentukan mata uang bersama akan mengancam identitas nasional dan kedaulatan pemerintah. Oleh karena itu banyak di antara negara maju yang telah memenuhi syarat namun menunda pemberlakuan euro hingga tahun-tahun berikutnya.
Kerjasama ini tidak begitu saja terbentuk tetapi sudah mempunyai catatan historis yang panjang. Seperti misalnya The Benelux Customs Union (now the Benelux Economic Union) yang merupakan contoh awal dari organisasi ekonomi supranasional. Kemudian integrasi terus berkembang menjadi integrasi Eropa yang melibatkan banyak negara yaitu Eoropean Coal and Steel Community (ECSC) pada 1950 yang menyediakan pengaturan untuk penyediaan batubara dan baja untuk keperluan industri negara-negara Eropa, terutama industri persenjataan. Pada 1957 negara-negara anggota ECSC menandatangani Traktat Roma dan membentuk the European Economic Community (EEC). Organisasi-organisasi itu kemudian pada Juli 1967 menggabungkan diri menjadi the European Community (EC). Dalam organisasi ini semua tarif antar anggota berhasil dihilangkan. Pada 1985 the European Council memutuskan untuk membentuk the Single European Act (SEA). Pada akhir 1980an,komunisme mengalami keruntuhannya dan banyak negara-negara komunis meminta bantuan keuangan pada EC. EC setuju memberikan bantuan walaupun tidak memberi izin pada negara-negara itu untuk bergabung dengan EC kecuali Jerman Timur yang telah mengalami penyatuan dengan Jerman Barat.
Untuk menemukan solusi terbaik tentang keinginan Eropa Timur untuk bergabung, Jerman Barat dan Perancis memprakarsai intergovernmental conference (IGC) sebagai langkah awal persatuan Eropa. IGC ini kemudian yang melatarbelakangi Treaty on European Union. Keberatan beberapa negara anggota atas beberapa elemen Maastricht Treaty memunculkan persetujuan untuk membentuk the Amsterdam Treaty yang menggantikan traktat sebelumnya. Kemudian perluasan EU ditandatangani pada 2002 dinamakan the Treaty of Nice. Traktat ini mengatur pengurangan kewenangan the European Commission untuk kemudian mengatur pelaksanaan voting dalam pengambilan keputusan dan pegaturan realokasi kursi parlemen.
Selain integrasi ekonomi, salah satu tujuan lain EU adalah dicapainya satu suara dalam menghadapi isu yang ada. Oleh karena itu, pengaturan EU juga mencakup transformasi hukum dan kebiasaan dalam area sosial, kebijakan luar negeri, keamanan dan pertahanan, serta peradilan. Transformasi ini diatur oleh pilar-pilar EU antara lain European Community (EC), Common Foreign and Security Policy (CFSP) serta Justice and Home Affairs (JHA). Ketiga pilar ini disokong oleh European Council.yang berdiri secara legal. Selain itu, EU juga memiliki the European Commission, the Council of the European Union, the European Parliament, the European Court of Justice, the Court of Auditors serta komite yang lebih kecil seperti Economic and Social Committee, dan the Committee of the Regions.
Walaupun secara struktural EU memiliki banyak kelebihan, namun EU juga memiliki kekurangan dalam pencapaian salah satu tujuannya, yaitu tujuan untuk pengambilan sikap yang sama dalam menghadapi suatu isu. Ada beberapa kasus di mana negara-negara terpecah suara dan pandangannya, seperti pada Perang Teluk 1991, krisis Yugoslavia, keinginan Turki untuk bergabung serta pada prospek hubungan Rusia dan Eropa Timur. Selain mengalami hambatan dalam penyatuan suara untuk isu eksternal, negara-negara EU juga mengalami kesulitan untuk menghadapi permasalahan internal yang timbul. Pada 1995, hampir semua negara bekas komunis di Eropa telah menunjukkan minatnya untuk bergabung dengan EU. Di satu sisi, EU ingin menerima negara-negara itu karena komitmennya terhadap upaya demokratisasi dan penegakan HAM namun di sisi lain kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi negara kaya tentang peningkatan sumbangan yang harus diberikan, negara miskin pun khawatir terhadap kemungkinan pengurangan kontribusi agrikultur mereka.
Hubungan EU dengan negara industri lain di luar kawasan seperti Jepang dan AS mengalami pasang surut. EU berusaha menjaga kestabilan hubungan karena dua negara itu merupakan salah satu pasar terbesar mereka, seperti yang ditunjukkan oleh grafik di bawah ini. Namun hubungan ini sempat merenggang karena karena proteksi pertanian yang dikenakan EU.

Figure 2.3 EU-East Asia trade (1975–97)
Source: Eurostat.
Note: 1975 figures do not include Korea

Hubungan EU dengan negara berkembang bersifat dominatif. 1/3 ekspor EU ditujukan pada negara berkembang . Pada 2007, Ekspor EU ke Afrika mencapai 2.5%, 3,7 % ke Amerika Latin, dan 4.5% di pasar Timur Tengah. Bandingkan dengan impor Afrika ke EU yang hanya mencapai 2%, tidak jauh berbeda dengan impor dari Amerika Latin sebanyak 3.3% dan Timur Tengah 3.1% . Dalam kaitannya dengan prospek ke depan, permasalahan yang hingga data ini masih menjadi pekerjaan rumah EU adalah bagaimana mempertahankan euro dalam kaitannya dengan perluasan keanggotaan negara dan perwujudan pasar tunggal. Selain itu, perluasan keanggotaan juga menimbulkan masalah integrasi dan tuntuan restrukturisasi perwakilan di parlemen.
Sebenarnya permasalahan utama EU adalah bagaimana menciptakan identitas regional dalam hal budaya dan politik. Ketika PD II berakhir, identitas ‘we and other’ EU ditandai dengan identitas Eropa Barat vs Eropa Timur. Namun runtuhnya komunisme berhasil menggeser paradigma ini dan mewujudkan pembentukan Single European Market. Kemudian batas-batas negara bergeser berdasar Perjanjian Postdam dan Yalta, juga munculnya kekuatan multilateral di luar kawasan. Disintegrasi dari negara-negara komunis ini menciptakan peta baru Eropa sekaligus menimbulkan quasi-border Eropa barat dalam kaitannya dengan budaya yang membedakan dengan Eropa Timur . Selain itu, ancaman juga datang dari imigran ilegal dari timur dan selatan (Afrika), terutama pasca serangan 9/11. Selain itu juga terdapat gangguan keamanan dari gerakan separatis negara-negara anggotanya seperti Yugoslavia dan IRA di Irlandia. Selain batas geografis, EU juga menerapkan batas other khusus yaitu agama Balkan dan Turki. Batas ini disebut batas ‘quasi natural’ karena budayalah yang membatasi region itu.
Dalam memandang prospek EU ke depannya, menurut analisis saya, dinamika EU akan lebih dipengaruhi lagi oleh menguatnya APEC dan meningkatnya power Jepang di wilayah Asia. Single European Market yang diterapkan EU telah menimbulkan sejumlah proteksi yang akan diperhitungkan Jepang dan negara industri Asia lainnya, seperti Singapura, China dan Korea Selatan, bila akan menjalin kerjasama dengan EU. Selama ini, komoditas EU yang masuk ke pasar Jepang mencapai 7% dan China 3.4%, kondisi ini dirasa tidak adil karena komoditas impor Jepang ke EU hanya mencapai 6% akibat proteksi yang diterapkan EU. Kondisi ini akan membuat negara-negara Asia Timur akan beralih ke ASEAN karena prospek yang lebih menjajikan. Selain karena pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara yang semakin meningkat, besarnya populasi Asia Tenggara juga merupakan pasar yang menjajikan bagi negara-negara Asia Timur. Apalagi ditambah dengan kedekatan identitas budaya. Hal ini sudah dapat dilihat dari kerjasama ASEAN dengan Jepang, RRC dan Korsel. Oleh karena itu, bila EU tidak ingin kehilangan pasarnya dan tersaingi oleh kemajuan Asia Timur, maka EU harus mengurangi proteksinya sehingga barang-barang Asia Tenggara dan Asia Timur dapat bersaing di pasar Eropa. Jika ini terjadi maka Asia Timur dan Tenggara akan lebih ‘merelakan’ masuknya komoditas Eropa ke negaranya. Hal ini sekaligus dapat mencegah dua kekuatan Asia ini bergabung dan membentuk kekuatan baru yang mengungguli EU.

Referensi:
Dent, Christopher M.. 1999.The European Union and East Asia:An economic relationship.New York:Routledge.
IMF 1991:211 in The Middle East – exception or embryonic regionalism. Göteborg University: Department of Peace and Development Research
Panagariya, Arvind. South Asia: Does Preferential Trade Liberalization Make Sense?.College Park: Department of Economics University of Maryland
Soderbaum, Fredrik.2005.’Exploring The Link Between Micro Regionalism and Macro Regionalism’,in Mary Farrell,Bjorn Hettme and Luk Van Langenhove(eds),Global Politics of Regionalism,Pluto Press,London
W Urwin, Derek. 2007.”European Union.” Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation.
Busch, Brigitta and Michał Krzyzanowski. 2007. ‘Inside/outside the European Union Enlargement, migration policy and the search for Europe’s identity’ in Warwick Armstrong and James Anderson (ed).Geopolitics of European Union Enlargement :The fortress empire. New York:Routledge.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: