Kopiitudashat's Blog

June 12, 2009

NAFTA dan Permasalahan Yang Ditimbulkannya

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 10:20 am

NAFTA dan Permasalahan Yang Ditimbulkannya
NAFTA, atau North American Free Trade Agreement (Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara) , adalah kesepakatan tiga negara -Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko- pada 1 Januari 1944 untuk membentuk zona perdagangan yang secara berkala dapat mengurangi hambatan dan memungkinkan pergerakan bebas barang, jasa, modal, dan tenaga kerja di kawasan Amerika Utara. NAFTA disebut-sebut sebagai zona free trade area terbesar kedua sedunia, setelah European Economic Area dengan 365 juta konsumen di AS, Kanada dan Meksiko . Walaupun berhasil menggerakkan roda perekonomian dengan arus investasi yang besar, NAFTA dapat dikatakan masih belum terlepas dari problem besar yang masih menjadi kendala hingga saat ini. Arus barang yang bebas dari free trade nya regionalisme menimbulkan masalah baru yaitu tentang rendahnya upah buruh, minimnya jaminan keselamatan kerja dan diskriminasi gender serta eksploitasi pekerja di bawah umur . Pembahasan selanjutnya akan dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu dinamika kontemporer, perspektif AS terhadap NAFTA dan perspektif Meksiko terhadap NAFTA.
A. Dinamika Kontemporer
Dinamika NAFTA dapat dilihat dari hubungan pendirinya, terutama hubungan antara hegemoni AS dengan Kanada dan Meksiko. NAFTA adalah hasil dari keinginan tiga negara untuk mewujudkan free trade area di Amerika Utara dan hingga kini kemajuan yang ada lebih bersifat ekonomi daripada integrasi politik. Awalnya free trade yang terbentuk hanya merupakan perjanjian bilateral antara AS-Kanada dengan tidak melibatkan Meksiko. Dalam American Summit di Chili April 1988 , kedua negara sepakat bahwa budaya, perdagangan, perjalanan, ikatan keluarga, dan cyberspace telah menjadi bagian dari society sehingga kerjasama kedua negara harus ditingkatkan.
Keberhasilan kerjasama bilateral itu, ditambah dengan keinginan Meksiko untuk membuka pasarnya dan memperbaiki ekonomi negerinya, mengarahkan kerjasama menjadi hubungan trilateral. Pada September 1998 di New York, Menteri Luar Negeri AS, Kanada dan Meksiko menandatangani Declaration and Memorandum of Understanding untuk perkembangan dan kooperasi internasional . Hal ini dilanjutkan dengan pertemuan pada Agustus 2000 untuk mendiskusikan pentingnya kerjasama tiga negara untuk penanganan masalah bersama seperti pendidikan dan pencegahan bencana alam. Dalam rencana pembangunan nasionalnya, Presiden Meksiko, Ficente Fox, berusaha mengembangkan Meksiko untuk lebih aktif dalam percaturan ekonomi internasional, oleh karena itu Fox mengajak Bush untuk membentuk institusi baru yang menyokong pergerakan bebas modal, barang, jasa, dan manusia dengan saran dari Kanada.
Serangan terorisme 9/11 kemudian mengubah semua rencana yang telah tersusun rapi. Tragedi itu mengalihkan perhatian tiga negara dari bidang ekonomi menjadi kerjasama pada bidang yang berbau militer dan keamanan. Perubahan terutama pada fokus perhatian AS. Karena banyaknya korban yang berjatuhan, AS lalu berambisi untuk meningkatkan keamanan wilayahnya sekaligus menumpas terorisme dengan atau tanpa dukungan dari negara tetangganya. Meksiko dan Kanada, karena pengaruh kedekatan geografis, juga merasakan ancaman yang sama sehingga mempertimbangkan kerjasama tiga negara untuk meningkatkan kontrol perbatasan, kontrol ini merupakan inisiatif Meksiko yang mencetuskan pembentukan North American Security Area. Namun seperti kerjasama yang sebelumnya, hubungan ini lebih bersifat bilateral daripada trilateral secara mutual. Awalnya AS-Kanada membentuk 30 poin Smart Border Declaration, hal ini disusul oleh penandatanganan 22 butir Border Partnership Agreement oleh AS-Meksiko.
Hubungan kerjasama ini tidak selalu berjalan secara progresif tetapi beberapa kali mengalami stagnasi. Setelah Quebec Summit, proses integrasi tiga negara yang pada awalnya telah berjalan dengan baik di bidang keamanan dan ekonomi mengalami diskontinuitas, hal ini disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu proses politik internal, serangan 9/11, dan invasi AS ke Irak. Proses politik internal, dalam hal ini pemilihan umum yang hampir bersamaan diadakan di masing-masing negara anggota menyita perhatian masing-masing kepala negara dari persoalan luar negeri menjadi permasalahan untuk meraih kembali tampuk kekuasaan di dalam negeri. Faktor kedua adalah serangan 9/11 yang merekonstruksi ulang defenisi AS tentang kawan dan lawan. Ketika AS semakin meningkatkan keamanan dalam negerinya dan memberikan perhatian yang positif, maka hubungan AS-Kanada pun tetap berlanjut dengan hangat. Namun AS tidak merasa Meksiko cukup membantu sehingga hubungan keduanya menjadi renggang. Faktor terakhir yang menyebabkan mundurnya integrasi adalah invasi AS ke Irak yang tidak mendapat dukungan dari Kanada dan Meksiko karena posisi kedua negara dalam PBB sebagai penjaga perdamaian dan resolusi konflik, juga dikarenakan biaya yang sangat mahal jika tetap mendukung perang itu. Karena tidak mendapat dukungan yang diharapkan, hubungan AS dengan Kanada dan Meksiko pun merenggang.
Empat tahun setelah Quebec Statement, yaitu pada tahun 2005, tiga negara mempertimbangkan kembali integrasi yang beberapa waktu sempat tersendat dan mendirikan The Security and Prosperity Partnership of North America (SPP). SPP ini berhasil menumbuhkan 300 inisiatif dan kerjasama baru dalam kerangka bilateral dan multilateral. Namun, SPP lebih merupakan gabungan dari berbagai kerjasama dan tidak menimbulkan institusi supranasional baru ataupun kerangka legislatif sehingga hanya dapat dikatakan sebagai agenda atau forum dan tidak dapat menggunakan terminologi integrasi ataupun komunitas. Walaupun dibentuk untuk meningkatkan keamanan dan kesejahteraan tiga negara, namun mayoritas aktivitasnya dilakukan secara independen.
Walaupun tanpa kerangka legislatif, SPP ini tetap memberikan kontribusi yang signifikan pada integrasi NAFTA yaitu membangun kembali agenda untuk pertemuan trilateral.
Jadi, jika merujuk pada sukses atau tidaknya NAFTA sebagai organisasi regional, NAFTA bisa dibilang sukses karena jika dilihat dari perdagangan substansialnya, pertumbuhan investasi, dan hasil ekonomi menunjukkan angka yang positif. Selain itu, keberhasilan NAFTA juga dapat dilihat dari pembentukan penyelesaian perselisihan secara formal di 6 wilayah. Namun, NAFTA juga memiliki beberapa kelemahan adalah kurangnya manajemen dalam mengatur hubungan perdagangan dan meningkatkan ekonomi anggotanya secara individu. Selain itu, integrasi yang dimiliki juga kurang kuat karena kurangnya kerangka institusional dan model hubungan yang intermittent (muncul dan hilang dalam waktu yang singkat). Selain itu, walaupun beranggotakan tiga negara namun kerjasama yang dilakukan lebih banyak merupakan hubungan bilateral dan tidak menyentuh aspek integrasi trilateral yang dalam.

B. Perspektif dan Meksiko terhadap NAFTA
Meksiko merupakan negara yang besar dengan penduduk sekitar 85 juta jiwa. Kondisi ini tidak didukung dengan infrastruktur dan lapangan pekerjaan yang memadai. Oleh karena itu, jumlah pengangguran dan kemiskinan di Meksiko tergolong sangat tinggi. Meksiko juga terikat dengan hutang luar negeri yang sangat besar jumlahnya. Kondisi ini membuat Carlos Salinas de Gortari, Presiden Meksiko pada 1992, berupaya keras untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negerinya dengan cara meningkatkan investasi yang akan diwujudkan dalam perdagangan bebas, atau yang biasa disebut sebagai apartura . Oleh karena itu, Meksiko gencar mengambil inisiatif dalam hubungan kerjasama, khususnya yang menyangkut perdagangan ekonomi, dengan negara tetangganya.
Masalah yang kemudian muncul di Meksiko terkait dengan disahkannya NAFTA adalah masalah polusi lingkungan yang besar. Sebenarnya telah ada hukum yang mengatur tentang perlindungan lingkungan hidup oleh pabrik di sana, namun himpitan ekonomi membuat perusahaan kecil mengalami kesulitan untuk meningkatkan proteksinya terhadap lingkungan. Kerjasama NAFTA juga mengalihkan produksi perusahaan AS ke tempat dengan upah pekerja lebih murah. Hal inilah yang menyebabkan negara-negara sekitarnya, termasuk Meksiko, berupaya menurunkan upah pekerjanya sehingga semakin memperburuk kesejahteraan buruh. Selain itu, masalah perburuhan di Meksiko semakin diperparah dengan ketiadaan lembaga yang dapat mengadvokasi pekerja. Hanya kurang dari 1/5 dari keseluruhan pekerja di Meksiko yang tercover oleh perserikatan, perserikatan itu sendiri lebih merupakan sumber dukungan bagi Institutional Revolutionary Party daripada untuk kesejahteraan buruh Meksiko. Selain masalah perburuhan, pengaruh yang disebabkan oleh keanggotaan Meksiko di NAFTA adalah masalah perbankan. Meksiko membuka banknya untuk investasi luar negeri karena kerjasamanya dalam NAFTA, namun kemudian bank ini banyak yang tidak efisien dan mengalami kesulitan likuiditas karena hutang yang terlalu tinggi dan tidak dapat dibayar oleh para nasabahnya.
C. Perspektif AS terhadap NAFTA
Signifikansi NAFTA terhadap kepentingan ekonomi AS terletak pada pengurangan hampir setengah dari pajak komoditas AS di Meksiko. Oleh karena itu, NAFTA lebih merupakan perluasan hegemoni AS daripada kerangka kerjasama yang menguntungkan semua anggotanya. Walaupun terbukti menguntungkan bagi AS, namun pengesahan NAFTA oleh ketiga kepala negara tidak serta merta mendapat persetujuan oleh legislasi masing-masing negara anggota. Di AS, debat antara pro kontra pengesahan NAFTA berlangsung antara Partai Demokrat dan Partai Republik dengan pertentangan yang kuat dari kelompok pekerja dan pemerhati lingkungan. Kelompok pekerja khawatir jika NAFTA benar-benar disahkan, maka akan terjadi perpindahan faktor-faktor produksi ke Meksiko yang upahnya lebih murah sehingga mengakibatkan pengangguran di AS. Di sisi lain, kelompok lingkungan mempermasalahkan polusi yang diakibatkan ketidakmampuan perusahaan Meksiko untuk memberikan proteksi pada lingkungannya. Upah pekerja yang terlalu rendah di Meksiko dalam upayanya untuk bersaing dalam investasi, juga dikhawatirkan akan memperbanyak imigran gelap yang datang ke AS dan meningkatkan permasalahan sosial di negara itu.
Dari paparan tentang NAFTA di atas, dapat dilihat bahwa sebagai rezim yang memberikan tuntunan norma dan aturan pada anggotanya, NAFTA hanya merupakan perluasan hegemoni AS. Kerjasama NAFTA hanya dapat berlangsung dengan ‘kesediaan’ dari AS. Jika AS sudah tidak berkenan menjalin hubungan ekonomi dan mengalihkan perhatiannya ke bidang lain, maka kerjasama NAFTA tidak akan berjalan. Hal ini dapat dilihat dari sifat kerjasama yang ‘muncul-tenggelam’ dan ketiadaan kerjasama langsung antara Meksiko-Kanada. Oleh karena itu, menurut saya pribadi, solusi utama terhadap kemajuan integrasi NAFTA adalah kemauan Meksiko-Kanada untuk mengambil inisiatif dengan atau tanpa AS serta dibentuknya suatu kerangka institusi yang lebih formal dan mengikat.

Referensi:
Anonym,Introduction: Labour, Trade and Regionalism
Celorio, Marcela.,2006,The North American “Security and Prosperity Partnership”: An Evaluation,American University: Center For North American Studies
D’Acquino, Thomas.,1990,A North American Free Trade Agreement:The Case for Canadian Partisipation,Mexico City
Vogel, David.,2008,”North American Free Trade Agreement.” Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: