Kopiitudashat's Blog

June 12, 2009

Meluasnya Regionalism dalam Globalisasi

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 9:32 am

Meluasnya Regionalism dalam Globalisasi

A. Makna dan Sejarah Regionalism

Berakhirnya Perang Dingin (Cold War) memunculkan perubahan besar bagi dunia internasional, antara lain meluasnya regionalism, perubahan tata ekonomi global serta transformasi sistem internasional. Regionalism berakar dari kata region yang oleh Ravenhill disebut sebagai konstruksi sosial yang mempunyai anggota resmi dan definisi batas yang jelas . Batasan itu sendiri tidak harus berupa lingkup geografis, contohnya Turki yang merupakan negara Timur Tengah tetapi diakui sebagai anggota Uni Eropa. Joseph Nye menyebut asosiasi itu sebagai international region dimana sejumlah negara yang terhubung secara geografis menunjukkan interdependensi yang tinggi . Region ini kemudian ter-regionalisasi, ditunjukkan oleh peningkatan tingkat ketergantungan ekonomi dengan batas-batas geografis yang jelas, dan menjadi suatu entitas yang disebut regionalism. Regionalism sendiri adalah formasi negara-negara berdasarkan wilayah atau proses formal dari kolaborasi antar pemerintah 2 negara atau lebih.

Regionalism muncul pada akhir Perang Dunia II karena Great Depression pada 1930an serta ekspansi dan transformasi masyarakat international (international society). Periode pasca PD II ini memunculkan realis sebagai aliran utama dalam HI menggantikan idealis dimana para realis yang pesimis terhadap regionalism menganggap organisasi internasional tak lebih sebagai institusi antar negara yang hanya memainkan sedikit peran dimana cakupan global atau regional nya tidak terlalu penting karena bagaimanapun HI adalah tentang struggle for power. Kondisi ini membuat regionalism tidak berhasil berkembang. Pada 1960 sempat muncul kembali dengan terbentuknya EEC. Namun kerjasama antar negara di awal Perang Dingin ini hanya makin memperkuat argument realis karena PBB sebagai organisasi internasional terbukti tidak mampu mewujudkan collective security. Organisasi regional lainnya pun didesain untuk sekedar mengakomodasi kepentingan 2 negara superpower.

B. Faktor Pemicu Kemunculan Regionalism Baru

• Berakhirnya Perang Dingin

Perang Dingin yang berakhir pada awal 1990 membuka semua hambatan perdagangan dan kerjasama semasa Perang Dingin, yang kemudian diikuti oleh perubahan sikap negara-negara dunia

1. Sikap baru menuju kerjasama internasional

Pihak yang paling diuntungkan dari peredaan ketegangan adalah PBB dimana kepercayaan pada PBB meningkat dengan meluasnya regionalism

2. Desentralisasi sistem internasional

Kedua blok mempunyai keinginan yang sama untuk memperluas regionalism. AS dengan ‘open regionalism’ nya dan Rusia yang mengusung visi ‘common European home’. Pada masa ini superpower tidak terlalu dominan sehingga kekuatan lokal bebas membuat FP nya dan memilih dengan siapa ia bekerja sama. Bagi negara maju, regionalism adalah jaminan ekonomi dan keamanan sedangkan bagi negara berkembang, regionalism berarti bebas dari marginalisasi ekonomi.

• Perubahan ekonomi

1. Keberhasilan European Community

2. Tren Global

Faktor yang mendasari tren global menurut Andrew Wyatt – Walter adalah akhir Perang Dingin, pergeseran keseimbangan power ekonomi dunia serta pergeseran orientasi kebijakan negara-negara berkembang.

• Pudarnya Solidaritas Dunia Ketiga

Kemunduran solidaritas kolektif dan berkurangnya collective bargaining power. Kolonialisme yang pernah dialami membawa negara-negara berkembang ke kecenderungan untuk bekerjasama hanya dengan partner seregion. Selain itu terdapat kecenderungan solidaritas kolektif dimana satu negara tidak akan bekerja sama dengan musuh dari tetangganya. Kondisi ini berubah pada awal abad XX dimana negara berkembang bebas bekerja sama dengan negara yang diinginkan sesuai kepentingan.

• Demokratisasi

Demokrasi meningkatkan interdependensi di level regional dan global walaupun demokrasi bukan syarat terciptanya regionalism karena negara non-demokrasi juga memungkinkan menjalin kerjasama regional.

C. Why Regionalism?

Secara ekonomi, regional economic agreement berarti berkurangnya kesejahteraan ekonomi tapi dari sudut pandang politik, regional economic agreement adalah efisien. Oleh karena itu regional economic agreement lebih didasarkan pada pertimbangan politis.

1. Motif Politik

• Membangun kepercayaan demi terwujudnya perdamaian

• Agenda keamanan yang baru

• Alat bargaining

Meningkatkan posisi tawar melalui TNC (Transnational Corporation) dan partner perdagangan. Juga untuk memperoleh bantuan dana dan teknologi dari organisasi dan negara donor dan memperoleh posisi strategis dalam organisasi internasional. Keuntungan ini tidak hanya berlaku bagi negara berkembang tetapi juga negara maju.

• Pengunci perubahan

Regional trade agreement meningkatkan kredibilitas perubahan ekonomi dalam negeri dan menarik investor. Regional lebih menarik investor daripada global karena kesetiaan lebih terjamin, jumlah anggota yang harus dikontrol lebih sedikit dan efek dari kesepakatan lebih terasa.

• Memuaskan pemilih dalam politik dalam negeri

• Mempermudah proses negosiasi dan implementasi kesepakatan

Semakin banyak peserta, semakin sulit negosiasi berlangsung karena benturan kepentingan. Karena itu, kerjasama regional lebih menguntungkan daripada kerjasama global.

2. Motivasi Ekonomi

Motif ekonomi untuk mengembangkan regionalism adalah alasan mengapa pemerintah lebih memilih regionalism daripada multilateralism dan status quo

1. Memilih regionalism daripada multilateralism

• Regionalism melindungi hal-hal yang tak dapat dilindungi di level global

Karena desakan kelompok kepentingan yang lebih percaya pada regulasi regional daripada global. Juga sebagai batu loncatan untuk mempromosikan perubahan domestik ke level global

• Menyediakan kesempatan untuk integrasi lebih dalam

Isu politik yang sensitif lebih mudah diselesaikan antar negara dengan karakteristik yang sama seperti kesamaan tingkat ekonomi.

2. Regionalisme daripada status quo

Menyediakan pasar internasional dan domestik yang lebih luas dengan investasi lebih besar serta meningkatkan efisiensi.

Dari paparan di atas, terlihat bahwa hingga saat ini batasan pasti tentang regionalism apakah murni ekonomi atau keamanan masih belum jelas. Juga terdapat silang pendapat para ahli tentang apakah sebenarnya geografis ataukah kepentingan yang mendasari terbentuknya regionalism. Louis Cantori dan Steven Spiegel mendefinisikan kawasan sebagai dua atau lebih negara yang saling berinteraksi dan memiliki kedekatan geografis, kesamaan etnis, bahasa, budaya, keterikatan sosial dan sejarah dan perasaan identitas yang seringkali meningkat disebabkan adanya aksi dan tindakan dari negara-negara luar kawasan . Hal ini dapat dilihat pada Agresi Israel ke Palestina beberapa bulan lalu. Lebanon sebagai negara tetangga serta merta mengutuk serangan itu dengan berbagai cara.

Saya pribadi berpendapat bahwa dasar politis utama terbentuknya regionalism adalah kepentingan walaupun ada banyak alasan lain yang menyertai mengapa pemerintah lebih memilih organisasi regional daripada global. Selain alasan-alasan yang telah disebutkan di atas seperti efektivitas yang didapat karena keterbatasan jumlah anggota dan integrasi maksimum yang dapat diwujudkan oleh kerjasama regional, kesamaan karakteristik juga menjadi pertimbangan penting bagi negarawan untuk mewujudkan kerjasama regional. Karakteristik yang dimaksud bisa jadi adalah ideologi – ekonomi maupun politik- , masalah domestik yang dihadapi dalam negeri serta kultur dan kesamaan demografi. Hal ini tidak terlepas dari tuntutan dari dalam negeri yang cenderung lebih mendukung kerjasama dengan ‘sesama tetangga’ yang dipercaya.Walaupun tidak berarti pemerintah tidak akan mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan ‘asing’ selama kepentingan nasional dapat diraih.

Solidaritas yang ditimbulkan oleh kerjasama regional ini seperti mata koin yang mempunyai 2 sisi, di satu sisi ia membantu menjaga perdamaian di kawasan tetapi di sisi lain ia dapat membuat 1 masalah internal salah satu negara anggota menjadi lebih besar karena keterlibatan negara lain. Hampir sama dengan prinsip aliansi. Walaupun kerjasama ini hanya bergerak di bidang tukar-menukar barang dan faktor produksi, namun pertimbangan utama kerjasama regional tetap politis sehingga menurut saya pribadi yang diperlukan dalam kerjasama regional adalah perjanjian yang terlegitimasi mengenai kesamarataan kedudukan setiap anggota.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.