Kopiitudashat's Blog

June 12, 2009

Kajian Micro Region dalam Pembentukan Regionalitas

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 9:59 am

Kajian Micro Region dalam Pembentukan Regionalitas
A. Macro Region dan Micro Region
Regionalisme berakar dari bahasa Latin ‘region’ yang berarti arah atau petunjuk . Para scholar kemudian mempunyai pandangan yang berbeda tentang definisi regionalisme sendiri. Ravenhill menyebut regionalisme sebagai konstruksi sosial yang mempunyai anggota resmi dan definisi batas yang jelas . Louis Cantori dan Steven Spiegel mendefinisikan regional sebagai dua atau lebih negara yang saling berinteraksi dan memiliki kedekatan geografis, kesamaan etnis, bahasa, budaya, keterikatan sosial dan sejarah serta identitas yang seringkali meningkat disebabkan adanya aksi dan tindakan dari negara-negara luar regional . Terakhir, Joseph Nye menyebut asosiasi itu sebagai international region dimana sejumlah negara yang terhubung secara geografis menunjukkan interdependensi yang tinggi .
Karena karakteristik geografis, Soderbaum dalam artikelnya ‘Exploring The Link Between Micro Regionalism and Macro Regionalism’ membagi region menjadi 3 level teritorial yaitu macro region, sub region dan micro region. Macro region disebut juga world region karena mengcover unit wilayah yang luas yaitu antar negara di level global (sub sistem) dengan negara sebagai aktor utamanya. Contoh regional yang tergolong makro adalah European Union (EU). Dalam EU, otoritas pengambilan keputusan tersebar ke dalam berbagai level teritorial misalnya Eropa, nasional dan micro regional. Penyebaran pengambilan keputusan ini menunjukkan kompleksitas aktor yang terlibat, tidak hanya negara sebagai pelaku utama tetapi juga aktor selain negara. Sub region hanya dapat dijelaskan dalam hubungannya dengan macro region sehingga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan regionalisme. Contoh sub region misalnya The Nordic Region dalam Eropa Barat atau The Mano River Union di Afrika Barat. Lebih lanjut penulis akan menitikberatkan pada pembahasan micro region.
Level regional domestik, atau micro region, memiliki batas-batas yang lebih jelas karena terletak dalam batas teritorial di negara-bangsa tertentu (sub nasional) yang tidak mencakup keseluruhan wilayah nasional, misalnya Flanders di Belgia yang akan penulis uraikan lebih lanjut kemudian. Dalam perkembangannya, micro region telah menjadi tujuan strategis dalam pengembangan perdagangan dan optimalisasi produksi tiap negara. Inilah yang membuat region berkembang menjadi aktivitas transnasional. Hal ini menimbulkan ambiguitas tentang batasan makro dan mikro sebuah region sehingga lebih mudah bila kita melihat lingkup region dalam perbandingannya dengan region yang lain. Sebuah region dikatakan sebagai macro region bila didalamnya ada aktivitas regionalisme yang lebih kecil (micro region). Misalnya ASEAN sebagai salah satu macro region memiliki SIJORI sebagai micro region di dalamnya.
Berdasarkan sifat dan sejarah pembentukannya, micro region dapat diklasifikasikan ke dalam 5 golongan:
1. Regionalisme fisik atau geografis
Paparan geografis seperti gunung, jalan, sungai dan sebagainya yang difasilitasi oleh kemajuan alat transportasi menciptakan interaksi antar penduduk membentuk dasar sebuah micro region. Contohnya peradaban di sekitar sungai Amazon,Mekong dan Great Lakes.
2. Regionalisme Budaya
Keadaan geografis yang dijelaskan pada poin no 1 mengelompokkan masyarakat yang memiliki kesamaan identitas seperti budaya, sejarah, bahasa dan agama. Seperti bangsa Kurdi di Timur Tengah, Quebec yang berbahasa Perancis di Kanada dan Flanders di Belgia. Micro region yang berada di dalam suatu negara mengkondisikan integritas minoritas yang terkukung dalam suatu area yang luas. Kondisi ini dapat memicu permasalahan dengan pemerintah seperti gerakan separatisme.
3. Regionalisme Ekonomi
Region ini dapat dilihat dari isu area yang menunjukkan orientasi ekonomi suatu region. Misalnya wilayah industri, perkotaan, pariwisata , tambang, dan sebagainya. Dalam perkembangannya, micro region transnasional lebih menunjukkan karakteristik globalisasi ekonomi, perubahan teknologi dan pertukaran faktor-faktor produksi.
4. Regionalisme Administratif
Region ini dibentuk dengan tujuan efisiensi pengambilan keputusan maupun pembuatan kebijakan publik. Umumnya mempunyai hak yang kurang dinamis karena tidak terhubung oleh kesamaan geografis, budaya, ekonomi dan fungsi politik.Contohnya region yang ada di Perancis,Itali,dan Belgia. Negara-negara Eropa ini memungkinkan timbulnya regionalisme administratif karena bentuk negaranya yang federal sehingga terjadi desentralisasi kekuasaan.
5. Regionalisme Politik
Yang membedakan dengan regionalisme administratif adalah regionalisme politik mempunyai dewan yang terpilih secara demokratis serta badan pelaksana yang akuntabel. Mirip seperti pemerintahan resmi dalam suatu negara. Seperti India, Somalia, Rusia, serta tahta suci Vatikan di Roma.
Karena perbedaan karakteristik tiap region, hubungan antara micro region dan macro region juga tidak bisa ditentukan secara absolut. Hubungan ini bisa bersifat saling membutuhkan, menguntungkan maupun berlawanan. Kemunculan macro region dapat diikuti oleh kemunculan micro region atau sebaliknya. Misalnya Flanders di Belgia yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya EU. Di satu sisi, macro region juga dapat menyediakan institusi yang dapat digunakan bersama dengan micro region seperti kerjasama growth triangle antara Singapura, Johor (Malaysia) dan Riau (Indonesia) yang lalu diakomodasi oleh keberadaan ASEAN. Tak jarang pula area isu kedua region itu saling tumpang tindih. Misalnya pada 1958 Liga Arab mencurigai intervensi di Lebanon sebelum menyerahkan urusan itu pada DK PBB. Sebaliknya, pada January 1964 DK PBB ikut campur dalam perselisihan antara AS dan Panama sebelum OAS (Organization of American States) bertindak.
Jika ditanya mana yang paling berpengaruh dalam pembentukan regionalisme, micro region ataukah macro region, maka penulis memandang micro region sebagai pengaruh yang paling signifikan karena faktor-faktor yang terdapat dalam micro region akan merangsang terbentuknya identitas yang mempengaruhi perilaku aktornya sendiri seperti geografis dan budaya. Micro region yang berhasil terbentuk dalam suatu wilayah sub nasional akan mendorong terbentuknya micro region lain yang bisa jadi dapat mendorong terbentuknya region dengan skala lebih besar yaitu macro region.
Penulis melihat banyak keunggulan yang dimiliki micro region bila dibandingkan dengan macro region. Dengan keanggotaan yang lebih kecil serta lingkup area yang lebih luas, maka memungkinkan micro region untuk menjalin integrasi lebih dalam dengan para anggota di setiap area isu. Selain itu, proses pengambilan keputusan juga jauh lebih cepat dan efisien karena kesamaan karakteristik yang lebih kental, entah itu karena letak geografis, bahasa maupun politik dan administrasi yang memastikan kepentingan anggotanya tidak terdispersi. Misalnya dibandingkan dengan NATO yang 15 anggotanya memiliki kepentingan berbenturan, regionalisme Quebec di Kanada relatif homogen dan lebih stabil dalam pemerintahan Kanada itu sendiri.
Namun di sini, penulis kurang menangkap dengan jelas batasan dan definisi Soderbaum tentang sejauh apa suatu region dapat dikatakan mikro ataupun makro mengingat aktivitas micro region pun lintas batas negara dan melibatkan aktor negara sebagai pelaku utamanya. Macro region pun dengan mudah mengaburkan batasan antara institusi regional dengan institusi global. Oleh karena itu, untuk memutuskan ada tidaknya region dalam suatu wilayah, digunakan indikator yang terlihat jelas seperti tingkat integrasi dalam perbedaan aea isu wilayah tersebut. Misalnya suatu negara mempunyai area isu di sektor pertanian dan yang lain sektor industri. 2 sektor inilah yang dijadikan sebagai “leading sector” bagi kebijakan politik luar negerinya .
B. Flanders sebagai Micro Region
Penulis menyebut Flanders sebagai micro region karena merupakan bagian dari region yang lebih besar, yaitu Uni Eropa. Flanders termasuk ke dalam regionalisme geografis, administratif, politik dan bahasa secara tumpang tindih yang terletak di daerah Belgia Utara. Flanders memiliki 5 provinsi yaitu Flanders Barat, Flanders Timur, Antwerpen, Limburg, dan Flemish Brabant. Bagian barat Flanders menggambarkan sejarah Flanders yang diwarnai oleh kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat Eropa abad pertengahan. Regionalisme ini menghasilkan sekelompok orang dengan berbagai bahasa misalnya Flemings yang selain berbahasa Flemings juga berbahasa Belanda serta sekelompok yang menggunakan bahasa Perancis.
Flanders adalah salah satu pusat ekonomi Eropa karena merupakan pusat perdagangan dan tekstil internasional. Sejak abad XIX, kota besar di Flanders seperti Ghent, Antwerp, dan Kortrijk menjadi pusat industri dan tambang batu bara yang penting. Prospek inilah yang kemudian memunculkan integrasi pertama Eropa di bidang batu bara dan baja. Belgia merdeka pada 1830, dan membuat region-region tersendiri berdasarkan sejarah bahasa yang sekarang menjadi provinsi Flander Barat dan Timur di Belgia, provinsi Zeeland Selatan di Belanda dan Nord Department di Perancis. Kemudian ketika tahun 1970 Belgia diubah menjadi negara federal yang lalu memerintah Flanders. Flanders diperintah oleh Dewan Flemish yang anggotanya terdiri dari parlemen Belgia dan masyarakat Flanders berbahasa Belanda.
Dari sini dapat dilihat bahwa integrasi ekonomi di bidang ekspor batu bara antar kota besar di Flanders menjadi tonggak awal terjadinya proses integrasi EEC (European Economic Community) yang pada akhirnya semakin terintegrasi ke dalam Eropa Bersatu (EU). Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa micro region merupakan fase terpenting dalam timbulnya regionalisme itu sendiri.
Referensi:
Fisip-anthonius3.pdf
Microsoft ® Encarta ® 2008. © 1993-2007.Microsoft Corporation
Soderbaum,Fredrik.,2005,’Exploring The Link Between Micro Regionalism and Macro Regionalism’,in Mary Farrell,Bjorn Hettme and Luk Van Langenhove(eds),Global Politics of Regionalism,Pluto Press,London
Wyatt, Andrew and Walter,”Regionalism,Globalization,and World Economic Order”,(eds) in Fawcett, Louise and Andrew Hurrel,Regionalism in World Politics,Oxford University Press,1995

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: