Kopiitudashat's Blog

June 12, 2009

Kajian Berbagai Teori dalam Studi Tentang Regionalisme

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 9:42 am

Kajian Berbagai Teori dalam Studi Tentang Regionalisme
Akhir Perang Dingin dan meluasnya globalisasi membuat studi tentang regionalisme yang mencoba menempatkan general theory ke dalam kerangka regional menjadi kajian penting dalam studi Hubungan Internasional (HI). Teori HI klasik yang meletakkan fokusnya pada power dan konstelasi politik antar negara kemudian memerlukan beberapa penyempurnaan karena keadaan global telah diwarnai dengan berkurangnya kapasitas negara berkurang serta kaburnya batas-batas kedaulatan negara memunculkan pola politik baru yang mengasosiasikan kepentingan nasional ke dalam kepentingan regional.
Dalam mengkaji regionalisme dan interaksi yang terjadi di dalamnya, diperlukan adanya teori-teori yang dapat menjelaskan proses yang terjadi secara keseluruhan. Menurut Hurrell, teori dapat di pahami sebagai kerangka berpikir untuk memperoleh penjelasan logis tentang suatu permasalahan serta menempatkan masalah itu ke dalam serangkaian penjelasan yang lebih luas . Teori memiliki arti penting dalam membuat berbagai proses dan perkembangan dalam regionalism -seperti proses regionalisasi ekonomi dan sosial, pertumbuhan identitas regional, formasi dari institusi antar regional dan kemunculan blok politik regional- menjadi lebih mudah dimengerti sekaligus menggunakan teori tersebut dalam studi kasus.
Dalam menjelaskan regionalisme kemudian, ada beberapa teori yang dapat digunakan
A. Teori Sistem
Teori ini menggarisbawahi pentingnya struktur ekonomi dan politik yang lebih luas serta dampak yang dapat diberikan oleh pihak luar terhadap region itu sendiri. Teori ini memiliki 2 pandangan utama. Pandangan pertama, neorealisme, menitikberatkan pada sistem internasional yang anarki serta pentingnya kompetisi power dan politik. Neorealisme juga concern terhadap ancaman dan pengaruh pihak eksternal terhadap suatu region. Aliran ini tidak terlalu memikirkan apakah regionalisme berjalan dalam ranah politik atau ekonomi karena para neorealis melihat politik dan kompetisi ekonomi merkantilis sebagai pembentuk power yang dibutuhkan dalam dunia tanpa pemerintahan (anarki). Karena dunia adalah anarki, maka neorealis menganggap pentingnya hegemoni yang dapat diwujudkan dalam institusi regional. Hegemoni menguat dalam kerangka institusi. Hal ini diperkuat oleh theory of hegemonic stability dimana pembentukan kerjasama institutional bergantung pada ketidakmerataan power dalam keberadaan hegemoni. Bila negara dengan power lebih besar berusaha menjadikan institusi regional sebagai sarana hegemoni legal, maka negara dengan power lebih kecil menggunakan institusi regional sebagai senjata perlawanan terhasap dominasi negara superpower.
Kelebihan aliran neorealisme ini terletak pada kemampuannya menjelaskan pentingnya kekuatan eksternal dan kuatnya hegemoni. Aliran ini juga menjelaskan dengan baik bagaimana logika tentang interaksi strategis para aktor dalam kerangka institusi regional. Namun kelemahannya aliran ini hanya berbicara sedikit tentang berbagai karakter kerjasama regional sebagai ciri khusus yang membedakan regionalisme dari komunitas lain seperti aliansi dan organisasi internasional.
Pandangan kedua, interdependensi struktural dan globalisasi, yang muncul sebagai kritik terhadap diabaikannya dinamika perubahan struktur oleh neorealis. Para penganut aliran interdependensi struktural dan globalisasi -Nye, Keohane dan Morse- mengemukakan pandangan mereka tentang perubahan mendasar yang terjadi dalam sistem internasional, yaitu meluasnya globalisasi sejak era 1990an. Para penstudi memandang regionalisme sama kompleksnya dengan konstelasi global karena sifat multidimensi dalam regionalisme tidak hanya membahas negara tetapi juga semua unsur-unsur kekuatan di dalamnya seperti perusahaan dan kelompok sosial. Para penstudi lain memandang regionalisme sebagai kritikan untuk globalisasi serta terhadap strategi yang dilakukan aktor untuk menghadapi globalisasi. Mereka juga menekankan pentingnya sistem politik yang mengatur distribution of power yang merupakan faktor penting untuk menjelaskan pola regionalisme antar waktu.
Kaum realis menganggap ketidakmerataan power memunculkan pemikiran otonom yang tidak bisa diatasi oleh pasar kapitalis dan civil society. Globalisasi memunculkan perubahan di bidang regulasi massive dalam supra-state level dan memunculkan administrative government.
Globalisasi menempatkan batas region lebih berarti daripada batas negara. Dalam hubungannya dengan institusi regionalis ala kaum liberalis, ada kalanya globalisasi bertentangan dengan regionalisme dan ada kalanya keduanya saling mendukung. Regionalisme bertentangan dengan globalisasi ketika globalisasi menyebabkan interdependensi antar negara meluas dan memunculkan masalah-masalah yang membutuhkan perhatian global seperti pengungsian dan kejahatan kemanusiaan. Dalam isu global ini, peranan organisasi internasional lebih diperlukan daripada organisasi regional. Selain itu penyebaran organisasi regional juga dirasa lebih ‘kebarat-baratan’ sehingga norma dan identitas organisasi regional menjadi kabur. Globalisasi dapat menjadi katalis regionalisme ketika kebutuhan untuk mengadakan integrasi dalam kawasan meningkat. Selain itu organisasi regionalis dibutuhkan untuk menangkal efek kapitalisme yang dibawa oleh globalisasi yang mengancam perekonomian.
B. Regionalisme dan Interdependensi
Akhir Perang Dunia membuat dominasi superpower hilang sehingga kekuatan regional mulai mencoba mendominasi. Interdependensi antar region memunculkan konflik keamanan dari dalam sekaligus ancaman intervensi dari luar. Keadaan ini memunculkan kebutuhan untuk keamanan politik walaupun usaha ini diselubungi dengan ‘wajah’ institusi ekonomi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, interdependensi adalah ciri khusus yang jelas terlihat dalam regionalisme. Teori ini menyertai 3 pandangan utama tentang interdependensi dan kerjasama. Pandangan pertama, neofungsionalisme berpendapat bahwa peningkatan interdependensi akan memunculkan kerjasama yang pada akhirnya membuahkan integrasi politik. Pandangan lain, neoliberal-institusionalisme memandang keberadaan institusi sebagai jawaban atas kebutuhan collective action. Institusi ini penting mengingat banyaknya keuntungan yang dapat diberikan kepada negara-negara yang tergabung di dalamnya. Pandangan ini kemudian fokus pada pola interaksi strategis yang dilakukan para aktor untuk meningkatkan kerjasama. Pandangan terakhir menitikberatkan pada identitas regional sehingga lebih memandang regionalisme dari tatanan sosial daripada ekonomi. Aliran ini disebut kontruktivisme, membangun konstruksi sosial untuk meningkatkan integrasi dan kohesi regional.
C. Teori Intra Regional
Teori ini memasukkan teori Heartland karya Mackinder yang pada awalnya bertujuan untuk menciptakan pasar bersama dalam kepentingan ekonomi transnasional. Regionalisme Institusi regional dipandang sebagai solusi yang ditujukan untuk berbagai masalah collective action yang ditimbulkan oleh interdependensi karena institusi mempengaruhi pembuatan keputusan dalam perhitungan cost and benefit, mengurangi biaya transaksi, menyediakan informasi dan transparansi serta memfasilitasi pelaksanaan.
D. Teori dalam level domestik
Dalam level domestik, organisasi regional dilihat dari kesamaan internal yang dimiliki negara anggota seperti sejarah, tradisi, bahasa, etnis, dsb. Fokusnya adalah melihat regionalisme dari kacamata hubungan regionalisme dengan koherensi negara serta tipe rezim dan demokratisasi.
Saya pribadi melihat teori domestik ini kurang relevan diterapkan dalam negara berkembang yang mayoritas memiliki pluraritas kependudukan. Bila teori domestik menganggap bahwa kesamaan internal merupakan aspek penting dalam regionalisme dimana kemudian teori ini dapat dihubungkan dengan konstruktivisme dalam kaitannya dengan identitas regional, maka negara berkembang yang rata-rata merupakan bekas daerah kolonial dimana unsur-unsur barat juga melebur dalam budaya mereka, tidak sesuai dengan teori domestik ini, Karena walaupun katakanlah ASEAN, memiliki ketidaksamaan internal, namun ternyata organisasi regional ini dapat diperhitungkan sebagai kekuatan potensial yang mendorong Jepang, Cina dan Korea bergabung dalam ASEAN + 3.
Saya juga mempertanyakan penekanan para penulis tentang institusi yang kerjasama yang erat kaitannya dengan liberalisme politik dan ekonomi. Lalu apakah kemudian penganut komunisme tidak mempunyai wadah sendiri dalam menyalurkan kepentingan regional mengingat Commonwealth of Independent States(CIS) yang merupakan gabungan negara-negara bekas Uni Soviet juga menurut saya dapat dipertimbangkan sebagai organisasi regional.
Terakhir, hegemoni legal yang diselubungi oleh norma institusi hasil kepentingan negara dominan dalam organisasi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan penting untuk mengadakan restrukturasi dalam organisasi regional demi menghindarkan teori dependensi Wallerstein benar-benar terjadi. Apalagi kerjasama ekonomi regional nantinya akan mengarah pada interaksi dan integrasi politik antar negara dalam kawasan serta antar kawasan itu sendiri.

Referensi:
Farrel,Mary and Bjorn Hette.2005.Global Politics of Regionalism.Pluto Press.pp.38-53
Fawcett,Louise,and Andrew Hurrel.2002.Regionalism in World Politics.Oxford University Press.pp.7-36

1 Comment »

  1. wah… serujuga baca blog nya…
    success yah….

    Comment by ivenxadytia — July 17, 2009 @ 11:21 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: