Kopiitudashat's Blog

June 12, 2009

Dinamika Persaudaraan ‘Minyak’ Timur Tengah

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 10:23 am

Dinamika Persaudaraan ‘Minyak’ Timur Tengah
Timur Tengah merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menyebutkan kawasan yang terletak di sepanjang Asia Barat dan Afrika Utara. Terminologi Timur Tengah ini awalnya ditemukan oleh pelaut AS, Alfred Thayer Mahan pada 1902 untuk merujuk pada daerah di selatan laut Hitam antara laut Mediteranian dan India . Negara-negara yang termasuk dalam kawasan ini adalah Bahrain, Siprus, Iran, Irak, Israel (dan Tepi Barat yang diduduki oleh Israel), Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Siria, Turki, Uni Emirat Arab, Yaman serta Mesir. Identitas budaya kemudian memperluas cakupan kawasan meliputi negara Islam Maroko, Algeria, Tunisia, Libya, Sudan, Afghanistan, dan Pakistan.
Berbicara tentang Timur Tengah, tak akan terlepas dari permasalahan minyak dan Islam. Judul yang saya ambil pun sedikit banyak menggambarkan kuatnya solidaritas sesama negara Islam Arab yang kemudian memunculkan pertanyaan baru apakah solidaritas itu murni sebagai identitas bersama ataukah merupakan pragmatisme karena kebutuhan minyak. Sejarah kawasan yang secara demografis mayoritas penduduknya merupakan bangsa Arab ini memiliki serangkaian panjang konflik yang tak berkesudahan, selain karena perselisihan internal juga karena kepentingan asing atas wilayah yang mengandung 65 % cadangan minyak dunia ini . Oleh karena kekayaan minyak yang luar biasa melimpah, beberapa negara Timur Tengah merupakan negara yang cukup kaya kecuali Mesir dan Yaman yang merupakan negara miskin minyak dengan populasi penduduk yang cukup tinggi. Pembahasan selanjutnya akan dibagi menjadi beberapa bagian yaitu dinamika internal, pengaruh eksternal serta arti penting Timur Tengah bagi dunia.
A. Dinamika Internal
Timur Tengah merupakan suatu anomali dalam proses regionalisasinya. Proses yang disebut kemunculan regionalisme ini ditandai dengan upaya peace making-peace building- peace keeping yang diikuti dengan peningkatan berbagai kerjasama ekonomi dan sosial budaya. Usaha pertama untuk peningkatan kerjasama regional di Timur Tengah dimulai dari pembentukan Liga Arab pada 1945. Sebagai organisasi regional, Liga Arab ternyata gagal membentuk integrasi regional dan lebih merupakan wadah administratif hubungan antar negara sekawasan. Karena itulah negara-negara Timur Tengah juga tidak pernah mengenal kata sepakat untuk mencapai sebuah common market. Integrasi investasi dan perdagangan internal juga sangat rendah karena negara-negara Arab fokus menjalin perdagangan dengan negara non Arab dan Uni Eropa (UE). Pada 1984-89,perdagangan intra regional hanya mencapai 6% dari seluruh perdagangan total regional dan kurang dari 5 % pada 1990 . Selain minyak, komoditas terpenting dalam kerjasama ekonomi Timur Tengah adalah pengiriman tenaga kerja.
Ketiadaan integrasi regional inilah yang membuat kerjaasama subregional menjadi solusi penting bagi ekonomi Timur Tengah. Salah satu kerjasama subregional paling berpengaruh adalah The Gulf Cooperation Council (GCC) yang merupakan rezim keamanan yang dibentuk oleh Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab pada 1981 sebagai respon atas berbagai krisis yang terjadi di Timur Tengah seperti Revolusi Iran, Perang Teluk dan Perang Iran-Irak . Namun kerjasama ini tidak dapat dipertahankan lebih lama karena kurangnya sumber daya militer sehingga tergantung pada bantuan militer asing serta konflik internal antar negara-negara anggotanya. Regional Timur Tengah juga membentuk kerjasama ekonomi yaitu the Gulf Organization for Industrial Consulting (GOIC) pada 1976. Selain itu, juga dibentuk rezim politik-ekonomi-keamanan sekaligus yaitu the Arab Maghreb Union (AMU) pada 1989. Integrasi Timur Tengah tidak pernah terwujud karena konflik kepentingan dan politik yang fundamental serta hegemoni ekonomi dari negara kaya.Selain itu juga terdapat konflik ideologi antara kaum radikal dan konservatif.
Secara makro, proses perdamaian dan kerjasama yang terjalin hanya terbatas pada negara-negara Arab tanpa melibatkan Israel, Iran dan Turki. Hingga proses perdamaian tahun 1990, negara-negara Arab tidak mempunyai hubungan resmi dengan Israel, kecuali Mesir setelah persetujuan Camp David. Sulitnya kerjasama antara Arab-Israel disebabkan oleh boikot dari negara Arab sebagai protes atas kependudukan Israel di tanah Palestina dan wilayah Arab lainnya. Era baru kemudian ditandai oleh The Declaration of Principles antara PLO dan Israel pada September 1993 dimana Arab menerima Israel dan Israel menerima PLO sebagai perwakilan Palestina. Di bidang ekonomi, kerjasama subregional menghasilkan workshop multilateral MENA (the Middle East and North Africa) di Casablanca, Amman, Kairo dan Doha yang merupakan instrumen untuk membentuk integrasi antara pemerintah dan pengusaha. Prospek integrasi ini tidak terlepas dari kecemasan akan kesenjangan ekonomi antara Israel dengan negara-negara Arab serta sangat dipengaruhi oleh tingkat ketegangan hubungan Arab-Israel yang pasang surut sehingga hanya sebagian kecil dari hasil kerjasama ini yang benar-benar terealisasi. Di bidang keamanan, Timur Tengah cenderung mencontoh proyek UE, terutama seperti yang dapat dilihat dalam Traktat Perdamaian Israel-Yordania tahun 1995. Namun sama seperti kerjasama ekonomi, kerjasama keamanan ini juga tidak mempunyai umur yang panjang, terutama karena pergeseran ancaman keamanan, dari konflik antar negara Arab seperti konflik Irak-Kuwait menjadi konflik antara Arab dengan Israel.
Dari paparan tentang karakteristik kerjasama ekonomi dan keamanan di atas, terlihat kecenderungan untuk mengubah identitas sosial Timur Tengah menjadi identitas nasional Arab dimana sense of belonging masyarakatnya mengalami penyempitan. Bukan lagi memandang komunitas regional berdasar negara-negara yang secara geografis termasuk ke dalam Asia Barat, namun komunitas ini telah terbatas hanya pada negara-negara Arab. Hal ini dapat dilihat dari inisiatif Mesir untuk membentuk Arab Common Market dalam waktu 10 tahun dari 1998.
Jika secara makro Israel tidak memiliki akses kerjasama ekonomi dengan negara Arab lainnya, maka secara subregional Israel sedikit banyak mempengaruhi perekonomian negara tetangganya, terutama bagi perekonomian Palestina. Sejak kependudukan Isreal di Tepi Barat dan Gaza pada 1967, ekonomi kedua wilayah itu terintegrasi pada Israel. Awalnya, arus barang dari Israel ke Palestina dan sebaliknya sangat bebas seperti yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Gaza-Yerikho pada 1994 dan Perjanjian Paris. Namun kemudian Israel menutup pintu perbatasan dan mengisolasi Tepi Barat dan Gaza karena meningkatnya intensitas bom bunuh diri serta roket yang diluncurkan HAMAS ke wilayah pemukiman Israel. Akibatnya, pengangguran meningkat drastis dari 18 % pada 1993 menjadi 31 % pada 1996 . Hal ini diikuti oleh penurunan investasi swasta dan GDP Palestina. Dari sinilah maka ekonomi kedua negara mulai terpisah.
Dari deskripsi tentang dinamika internal Timur Tengah, maka dapat diketahui faktor-faktor pembentuk regionalisme di kawasan tersebut. Andrew Hurrel dalam tulisannya ‘Regionalism in Theoretical Perspective’, menyebutkan 5 faktor pembentuk regionalisme. Yang pertama adalah regionalisasi. Regionalisasi di Timur Tengah dapat dikatakan kuat karena terdapat pertumbuhan integrasi sosial dan interaksi ekonomi, seperti yang dapat dilihat dalam Liga Arab, GCC, AMU, serta perjanjian ekonomi lainnya. Selain itu, regionalisasi ini juga dapat dilihat dari adanya migrasi tenaga kerja dan lalu lintas perdagangan yang menciptakan batas-batasnya sendiri. Tidak lagi Timur Tengah secara keseluruhan tetapi terspesifikasi menjadi subregional negara Arab. Seperti yang dapat dilihat dalam absennya institusi regional yang kuat di Timur Tengah, maka regionalisasi yang ada tidak berdasar pada conscious policy negara atau kelompok negara serta tidak menghasilkan perubahan apapun pada interaksi antar negara. Misalnya Liga Arab tidak menciptakan hal yang istimewa dalam hubungan perdagangan Irak-Mesir. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai integrasi informal atau soft regionalism .
Faktor kedua, identitas dan kesadaran regional, merupakan sense of belonging komunitas serta persepsi kesamaan ancaman atau musuh bersama. Di sini, integrasi yang terbentuk di Timur Tengah merupakan buah dari nasionalisme Arab sehingga ancaman keamanan yang dihadapi juga tidak terlepas dari identitas Arab. Jika awalnya konflik internal seperti Irak-Kuwait ataupun Yaman-Yordania menjadi ancaman bersama maka identitas ini semakin menguat ketika menghadapi Israel sebagai musuh bersama. Selain itu, identitas dan solidaritas juga muncul ketika menghadapi pengaruh asing seperti AS, Soviet dan China.
Faktor ketiga adalah kerjasama antar kawasan. Faktor inilah yang tidak ditemui secara kuat di Timur Tengah. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, perdagangan yang dilakukan negara-negara Timur Tengah menitikberatkan negara ataupun region di luar kawasan dan hanya menyisakan perdagangan intra regional yang sangat minim, kecuali untuk komoditas minyak. Faktor keempat adalah integrasi regional yang juga tidak terlihat dalam hubungan antar negara di kawasan Timur Tengah. Integrasi regional yang dimaksud adalah sejumlah aturan yang dibuat oleh pemerintah masing-masing negara anggota untuk menghilangkan hambatan dalam perdagangan. Aturan ini tidak begitu menonjol mengingat tidak adanya integrasi perdagangan seperti free trade area maupun common market di sana.
Yang terakhir adalah kohesi regional yang dapat dilihat ketika region itu memainkan peranan yang penting dalam hubungan antar negara serta proses kebijakan yang diambil dalam menghadapi suatu isu. Di sini dapat disimpulkan bahwa kohesi regional yang dimiliki Timur Tengah ada namun sangat rendah. Kohesi terlihat ketika sebagai solidaritas, semua negara Arab tidak mengadakan hubungan diplomatik dengan Israel. Namun kohesi ini melemah ketika menghadapi aktor luar regional yang memiliki arti penting bagi kepentingan nasional salah satu negara anggota. Misalnya, Arab Saudi dan Irak sama-sama merupakan anggota Liga Arab namun mempunyai kebijakan berbeda dalam menyikapi AS dimana Arab Saudi merupakan ‘anak emas’ AS yang ditunjang ekonomi dan militernya oleh AS.
B. Pengaruh Eksternal
Soviet merupakan salah satu pemasok senjata terbesar di Timur Tengah dan mengalami pasang surut hubungan dengan kawasan itu, terutama dalam kaitannya dengan rivalnya, AS. Soviet sempat menjalin hubungan yang erat dengan Mesir namun kemudian terputus karena ketidakkomitmenannya dalam Perang Arab 1973 . Hubungan kedua negara membaik kembali paska ditandatanganinya perjanjian Camp David 1979 yang membuat Mesir dan AS terkucil dari negara Arab. Namun invasi Soviet terhadap Afghanistan pada tahun tahun yang sama membuat Soviet mendapat kecaman keras dari negara Arab. Soviet juga berperan ganda dalam membantu kekuatan militer Irak dan Iran, terutama saat kedua negara ini terlibat dalam Perang Teluk.
Selain Soviet, China juga merupakan salah satu pemasok senjata di Timur Tengah. China mendukung penuh kemerdekaan Palestina dan menolak membuka hubungan dengan Israel. Dalam Perang Arab-Israel, Beijing mendukung Arab namun pada Perang Teluk I dan II memilih netral karena Beijing adalah pemasok senjata ke Irak , Kuwait dan Iran. Keterlibatan China tidak terlepas dari hubungan baiknya dengan Iran. Salah satu negara yang memiliki keterkaitan erat dengan Timur Tengah adalah AS dimana AS adalah penjamin keamanan Arab Saudi sekaligus memainkan peran strategis dalam mendukung eksistensi Israel di Timur Tengah, upaya penegakan demokrasi yang diikuti dengan penggulingan Saddam Husein di Irak serta operasi pemberantasan terorisme di Afghanistan. AS juga merupakan konsumen minyak Timur Tengah yang terbesar.
UE adalah mitra ekspor terbesar Liga Arab sementara AMU menjadikan Eropa barat sebagai mitra ekspor utamanya. Namun hubungan dengan region ini tetap terkendala masalah pajak yang dibebankan UE. Hubungan AMU dengan Eropa juga berkaitan dengan masalah migrasi Afrika Utara ke Eropa.
C. Pengaruh regionalisme Timur Tengah bagi dunia
Timur Tengah merupakan kunci perekonomian negara industri karena minyaknya. Kebijakan yang diambil oleh negara-negara Timur Tengah berkaitan dengan konflik yang tengah terjadi akan berakibat pada meningkatnya harga minyak sehingga mengancam kepentingan nasional negara industri dan ketahanan moneter negara secara global. Pada 1973, negara-negara Timur Tengah melakukan embargo minyak ke negara-negara yang dinilai sebagai sekutu Israel, walaupun hanya setahun tetapi menjadikan pergoncangan di perdagangan global dan negara sasaran . Ketika Perang Arab-Israel tahun 1973 pun , penghasil minyak Arab memotong produksi minyaknya dan melakukan embargo ke AS dan Belanda. Walaupun pemotongan ini kurang dari 7% suplai dunia namun menimbulkan kepanikan di pemerintah, perusahaan minyak dan industri serta konsumen rumah tangga sehingga negara-negara OPEC menaikkan harga minyak menjadi 8 kali lipat. Revolusi Iran pada 1979 dan Perang Irak-Iran pada 1980 membuat krisis yang sama sehingga pada akhir 1980 harga minyak menjadi 19 kali lebih tinggi daripada pada tahun 1970. Juga invasi Irak ke Kuwait pada 1990 .
Dari dinamika internal maupun eksternal yang telah saya singgung sebelumnya, maka terlihat bahwa konflik adalah karakteristik dominan dalam hubungan antar negara sekawasan Timur Tengah. Walaupun identitas supranasional Arab di sana memang sangat kental dan dominan, tetapi saya memandang bahwa kerjasama yang ada terutama timbul karena pragmatisme nasional. Yaitu kebutuhan akan bantuan yang diberikan oleh negara kaya di selatan pada negara miskin di utara. Juga kebutuhan untuk tetap menjaga keseimbangkan produksi dan harga minyak dunia yang hanya dapat dicapai melalui stabilitas keamanan Timur Tengah. Pragmatisme ini terlihat jelas dalam keputusan Arab Saudi untuk menjalin hubungan yang erat dengan AS padahal negara Arab lainnya mendengungkan gerakan anti Barat.

Referensi:
Andrew Hurrell. 2002. ‘Regionalism in Theoretical Perspective’ in Regionalism in World Politics.Oxford University Press. pp 37-73

Embargo.” Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.

IMF (1991:211) in Lindholm-Schulz, Helena & Michael Schulz. The Middle East – exception or embryonic regionalism. Göteborg University: Department of Peace and Development Research

Lindholm-Schulz, Helena & Michael Schulz. The Middle East – exception or embryonic regionalism. Göteborg University: Department of Peace and Development Research

Sluglett, Peter. “Middle East.” Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.

Sihbudi, Riza et al.1993.Konflik dan Diplomasi di Timur Tengah.Bandung:PT Eresco

Yergin, Daniel, et al. “World Energy Supply.” Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.

1 Comment »

  1. Rekaman Khotbah Osama Bin Laden

    Rekaman Khotbah Osama Bin Laden, dalam membangkitkan semangat para mujahidin
    untuk berjihad di Palestina, Iraq dan Afghanistan dalam berjuang melawan bangsa
    kafir. Rekaman yang berasal dari stasiun TV Al-Jazeera ini dapat di download
    secara gratis di http://www.ziddu.com/download/5155755/Rekaman_Khotbah_Osama_Bin_Laden.zip.html

    Comment by James Lee — June 14, 2009 @ 1:03 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: