Kopiitudashat's Blog

January 19, 2009

Situasi Kondisi dan Pilihan Etis dalam Taktik Negosiasi

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 6:34 am

Aliansi perdagangan beberapa negara dalam globalisasi dan free trade kini melahirkan tantangan baru yaitu bagaimana memahami dan memanajemen perbedaan gaya berbisnis berdasarkan faktor ekonomi dan budaya. Perbedaan-perbedaan ini mencakup kepentingan yang ditempatkan dalam perkembangan hubungan, strategi negosiasi, metode pengambilan keputusan, orientasi waktu dan ruangan, praktik kesepakatan serta perilaku tidak jujur seperti penyuapan. Pemahaman mengenai negosiasi lintas budaya ini ditujukan untuk menghindari keterkejutan dan kesalahpahaman serta berfokus pada situasi yang lunak dalam menilai persamaan dan perbedaan budaya.

Negosiasi yang dipengaruhi oleh era perdagangan bebas ini memiliki ciri-ciri khusus , meliputi lawan, isu dan lokasi yang spesifik dan sangat dipengaruhi oleh sikap, perilaku dan hasil dari negosiasi. Jadi,dapat dipahami bahwa situasi dan keadaan adalah faktor yang paling penting dalam memahami proses negosiasi. Kondisi yang menentukan antara lain tingkat esensi hasil negosiasi, tantangan berasal dari pihak lawan serta konteks situasi yang meliputi lokasi, kesadaran kolega, dan tekanan waktu. Pemahaman mengenai hal ini dapat dikategorikan ke dalam 5 hal, kompetisi penawaran secara tradisional, kesalahpahaman dalam menangkap informasi, gertakan, pengumpulan informasi, dan cara mempengaruhi jaringan profesional lawan.

Etika dapat dipahami sebagai nilai-nilai moral yang menguasai sekelompok manusia. Etika ini juga berpengaruh terhadap perilaku bisnis yang telah melahirkan perdebatan antara dua pemikiran, absolutist school dan relativist school. Absolutist school berpikiran bahwa seluruh bangsa harus memberlakukan nilai-nilai etika yang universal agar perdagangan dunia dapat berjalan secara efektif dan efisien. Sebaliknya, relativist school berpandangan bahwa nilai-nilai etika harus ditentukan oleh kelompok yang bersangkutan tanpa ada nilai-nilai moral yang ditentukan secara universal, jadi penilaian moral ditentukan oleh kesepakatan dalam budaya setempat. Dalam negosiasi, sebuah transaksi bisa dikatakan sebagai anomali karena perbuatan yang dikategorikan tidak etis tidak akan dikenai sanksi bila perbuatan itu sesuai dengan konvensi yang berlaku dalam masyarakat.

Menurut Lewicki dan Robinson, ada beberapa macam teknik negosiasi yang menjadikan etika sebagai bahan pertimbangan, termasuk dalam kategori ini perilaku tawar-menawar kompetitif yang bersifat tradisional da negosiasi distributif, maupun teknik yang menggunakan cara tidak layak seperti gertakan, pemberian informasi yang salah dan mempengaruhi jaringan profesional lawan.

Perbedaan ekonomi dan budaya antara negara satu dengan lainnya juga mempengaruhi perilaku negosiator dalam proses negosiasi. Dari segi kebudayaan, ada 4 dimensi yang mempengaruhi proses negosiasi. Dimensi yang pertama adalah power distance yang merujuk pada seberapa besar toleransi yang diberikan oleh sebuah komunitas terhadap kesenjangan tingkat ekonomi. Dimensi yang kedua adalah pandangan individualist yang fokus pada kebebasan individu vs pandangan collectivism yang orientasinya lebih kepada kepentingan organisasi dan komunitas. Dimensi yang ketiga disebut uncertainty avoidance yang menjelaskan tentang penerimaan budaya terhadap ketidakpastian, resiko dan budaya yang tidak konvensional. Dimensi yang terakhir adalah budaya masculine yang mementingkan penampilan dan keadilan dengan sikap agresif dan kompetitif sebagai karakternya vs budaya feminine menanamkan nilai-nilai relation-building, kepercayaan, dan kualitas hidup.

Dimensi-dimensi budaya itu sendiri tidak dapat menentukan sikap, tujuan dan perilaku negosiator. Proses dan hasil dari negosiasi itu sendiri juga sangat ditentukan oleh faktor ekonomi. Insting seseorang untuk bertahan hidup biasanya merupakan alasan utama bagi seseorang untuk mengambil langkah-langkah yang mungkin bertentangan dengan kebiasaan di komunitasnya, termasuk perilaku tidak etis yang lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri daripada kepentingan orang banyak terutama dalam hal ekonomi, misalnya tindak korupsi yang belakangan ini ramai diberitakan oleh media.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa keadaan ekonomi dan budaya secara bersamaan merupakan dua faktor yang mempenaruhi proses dan hasil dari negosiasi. Negara yang ekonominya stabil cenderung mempunyai standar budaya negosiasi yang lebih tinggi dan akan menggunakan prinsip moralitas sebagai bahan pertimbangan. Sebaliknya, negara dengan kondisi ekonomi yang kurang stabil cenderung menginterpretasi nilai-nilai etika lebih bebas sehingga sering menghalalkan segala cara demi mencapai motif ekonominya.

Namun juga sering ditemui situasi budaya yang menuntut moralitas tinggi namun kekacauan di bidang ekonomi menjadikan seseorang menempuh perilaku yang tidak etis. Di sini lah muncul tanda tanya besar, manakah yang lebih mempengaruhi perilaku negosiator, apa yang harus mereka lakukan (dari segi budaya) atau yang akanbila pelaksanaan negosiasi berjalan dengan benar dan sesuai etika maka akan memperlancar proses negosiasi tersebut pada masa yang akan datang. Apabila negosiasi dilakukan dengan tidak etis maka pada masa yang akan datang akan mengakibatkan negosiasi menjadi sukar,merusak hubungan kedua belah pihak, rusaknya reputasi kita serta hilangnya peluang untuk mendapatkan benefit lebih dari lawan. mereka lakukan (dari segi ekonomi). Gets dan Volkema mengemukakan bahwa dimensi ekonomi cenderung akan mengarah pada penyuapan dan korupsi, sedangkan dimensi budaya lah yang dapat mengikis hubungan ini. Menurut saya, kebutuhan ekonomi memang merupakan hal yang natural dalam diri manusia tetapi yang terpenting adalah bagaimana etika dapat menyempurnakan kelemahan kebutuhan ekonomi tersebut karena

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: