Kopiitudashat's Blog

January 19, 2009

Is There Any Postmodern Strategy?

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 6:28 am

Is There Any Postmodern Strategy?

Maria EM – 070710023


Munculnya Pemikiran Postmodern

Dalam dunia sastra, politik, seni dan filsafat terdapat suatu perubahan besar yang merombak ulang seluruh struktur modernisme yang selama beberapa puluh tahun mendominasi pemikiran bidang-bidang kehidupan sejak renasaissance. Pemikiran baru dan mendobrak ini menamakan dirinya postmodern, memfokuskan diri pada teori kritis yang berbasis adalah kemajuan dan emansipasi. Kemajuan dan emansipasi adalah dua hal yang saling berkaitan, seperti yang dinyatakan oleh Habermas bahwa keberadaan demokrasi ditunjang oleh sains dan teknologi. Hal ini berarti, suatu komunitas yang mengalami keterhambatan dalam teknologi juga tidak akan berhasil dalam mengembangkan prinsip-prinsip demokrasi. Asumsi ini merupakan rekrontruksi tradisi klasik dari proyek enlightenment yang menyatakan bahwa demokrasi dan tata sosial merupakan produk dari modernisasi. Pemikiran ini berpandangan bahwa pengetahuan politis dapat diperoleh dalam kondisi dengan ketiadaan distorsi dari kepentingan dan kekuasaan. Jadi, power dan pengetahuan adalah terpisah satu sama lain dan merupakan aksi yang berbeda.

Sebaliknya, Foucault menyatakan bahwa power dan pengetahuan tidak dapat dipisahkan. Dalam edisi pertama The History of Sexuality ia menjelaskan bagaimana sains dapat membentuk pandangan dan perilaku seseorang dalam usaha meraih power. Lyotard dalam The Post Modern Condition:a report of knowledge juga menolak metanaratif yang telah mendistorsi kemampuan untuk melihat kebenaran situasi dengan memperkaya persepsi tentang emansipasi, kemajuan dan keadilan.

Dalam strategi modern, para pembuat keputusan menilai segala sesuatu dari efisiensi tujuan. Ini berarti semua hal dapat dihitung dan diprediksi, untung atau rugi dalam mencapai tujuan tersebut. Dalam kaitannya dengan perang dan militer, asumsi ini mengindikasikan keberadaan dan ketiadaan teror, baik soft maupun hard sebagai hal yang signifikan. Dalam strategi postmodern, legitimasi sebauh tindakan tidak muncul dari homologi aturan yang konvensional, tetapi berasal dari paralogi dan subjektivitas penemu, hal inilah yang kemudian memunculkan pola-pola strategi baru dari inisiatif ketidakpatuhan terhadap konsensus dan orang-orang yang mengubah aturan main.1

Selain berkembang secara pesat dalam dunia filsafat, seni dan politik, pemikiran postmodern juga telah menjadi konsep grand theory bagi para strategis dalam dunia peperangan. Peperangan ini, yang kemudian dikenal dengan perang Postmodern (Postmodern Warfare) diwarnai dengan beberapa perubahan dalam strategi yang digunakan serta ketidakseragaman variasi dari pihak yang berpartisipasi. Mengingat bahwa kemunculan strategi pertama kali adalah di bidang perang dan militer, maka kemudian pembicaraan strategi dalam postmodern juga difokuskan pada strategi dalam peperangan. Kondisi ini kemudian memunculkan tanda tanya besar, apakah kemudian muncul strategi baru menggantikan strategi klasik yang kemudian disebut sebagai strategi postmodern. Dalam menjawab pertanyaan yang telah menjadi perdebatan panjang di atas, penulis akan menguraikan apakah yang dimaksud dengan perang postmodern dan karakteristik yang menandai suatu perang disebut sebagai perang postmodern.

Istilah “postmodern war” telah menjadi bahan kajian banyak teoritis seperti Chris Gray, Baudrillar, Paul Virilio, Michael Ignatieff. Istilah ini mempunyai pandangan yang berbeda untuk masing-masing penstudi, tapi kemudian perbedaan ini merangkum suatu ciri khusus, antara lain:

o Perbedaan yang tipis antara tentara dan sipil dalam medan perang

o Hal yang menjadi sumber utama keberhasilan dalam perang adalah ketersediaan informasi

o Perang bukan lagi merupakan hal yang unik yang dipertontonkan oleh media, tapi merupakan suatu hal yang biasa

o Ketidakjelasan antara perang yang benar-benar nyata dan perang virtual

o Rasa kemustahilan

Perang Postmodern adalah perang yang banyak melibatkan hasil penemuan teknologi mutakhir (The “Revolution in Military Affairs”) seperti pelayaran misil, JDAM, satelit, GPS dan senjata bertenaga laser dengan mengadopsi beberapa ciri khusus berkaitan dengan medan perang dan alat pemobilisasinya. Dalam kondisi medan area tempurnya, perang ini tidak mengenal perbedaan yang nyata antara garis depan dan area lain tempat warga sipil. Sedangkan yang menjadi alat pemobilisasi adalah fokus perang itu sendiri dimana yang terpenting adalah bagaimana membuat korban yang berjatuhan di sisi lawan lebih banyak dari di pihak kita.2

Selain penggunaan senjata berat dalam pertempuran, penggunaan media seperti teks, gambar dan retorika menjadi senjata yang nyata, dari sanalah pihak yang mempuntai kepentingan untuk perang ini mengobarkan semangat perang kepada pihak-pihak lain sehingga pihak-pihak itu saling berperang demi kepentingan pihak pemrakarsa tanpa menimbulkan korban di pihak pemrakarsa sendiri. Perang inilah yang kemudian berkembang luas menjadi virtual war dan proxy war. Pola-pola interaksi baru ini dinamakan sebagai era postmodern,sebagai sebuah era baru yang meninggalkan pola-pola hubungan masyarakat modern dengan menitik beratkan pada beberapa permasalahan yaitu perkembangan teknologi infomasi, transformasi dan kemajuan ekonomi.

Dalam istilah postmodern itu sendiri, sangat penting untuk memberikan definisi untuk membedakan istilah postmodern secara waktu atau secara pemikiran. Dalam kaitannya dengan waktu, postmodern menggambarkan suatu masa setelah masa modern yang ditandai dengan terbentuknya pola-pola baru. Sedangkan secara pemikiran, postmodern lebih didefinisikan pada munculnya pemikiran-pemikiran baru yang memberikan kritik terhadap teori modern dengan mengartikan kata post sebagai “an” atau “tidak” modern. Postmodern dalam sisi ini melakukan dekonstruksi terhadap apa yang disebut negara, sistem internasional, wacana melalui dekonstruksi teks literatur dan mengungkapkan makna tersembunyi dari istilah-istilah tersebut. Dan karena perang asimetris adalah perang secara politik maka pemenang hanya dapat melukai tanpa mengalahkan.

Berdasarkan arti dan karakteristik perang postmodern di atas maka penulis berpendapat bahwa strategi baru yang dikenal dengan strategi postmodern memang benar ada dan keberadaannya menggantikan strategi perang klasik.


Yang Berubah dalam Perang Postmodern

Karakteristik perang dalam postmodern adalah perang yang terbatas, destabilisasi, revolusi dan konflik yang midintensif. Terbatas karena bukan perang yang dapat mengerahkan kekuatan secara total dengan akibat kehancuran dunia dan kergian secara material. Destabilisasi karena dunia postmodern ditandai dengan ketiadaan situasi yang benar-benar damai tanpa konflik, walaupun juga tidak benar-benar berperang secara total., karena itu konflik ini juga disebut sebagai konflik midintensif. Dalam gerakannya, postmodern terbiasa menggunakan cara-cara yang tidak konvensional dan bersifat revolusioner.

Strategi berperang dengan cara bergerilya atau melakukan gerakan revolusioner ini dipakai karena yang dapat menandingi senjata-senjata canggih milik ’pihak resmi’ adalah dengan menekan faktor politik dan psikologi. Karena secara kasat mata, postmodern bukan lah perang yang terang-terangan terjadi antara dua pihak yang berkonflik, postmodern sering dikatakan berada di antara dua pilihan yang tak mungkin yaitu kehancuran total dan damai yang utopian. Kehancuran total karena pada kenyataannya ’perang’ postmodern lebih sering bukan merupakan perang secara langsung. Tapi keadaan tanpa perang ini juga tidak dapat disebut sebagai kondisi damai karena pada kenyataannya tidak ada hubungan antar dua pihak yang luput dari persaingan, konflik, atau perselisihan. Kedamaian yang ada antara dua pihak adalah kedamaian yang semu (utopian) karena dibalik perdamaian itu pasti ada interest-interest yang mendasarinya. Karena sifatnya yang tidak blak-blakan ini kemudian dibutuhkan suatu fragmentasi dalam struktur perang itu sendiri. Kondisi ini kemudian memunculkan beberapa paradoks, antara lain:

  • Justifikasi moral utama untuk perang adalah damai, jadi perang ada untuk menciptakan kedamaian

  • Tindakan represi dilakukan untuk usaha pembebasan

  • Keamanan dicapai dengan memberikan resiko pada alam

  • Penggunaan mesin dan robot dalam peperangan sebagai pengganti manusia

  • Semua ruang kosong adalah arena pertempuran, tidak ada perbedaan signifikan antara garis depan dan ruang warga sipil

  • Waktu dan jangkauan perang sangat luas dan tidak terbatas karena tidak dinampakkan secara terang-terangan.

  • Setiap keputusan perang adalah hasil justifikasi dan legitimasi dari keputusan politik

  • Keterlibatan wanita dalam perang

  • Penghindaran atas genosida secara blak-blakan karena berkaitan dengan kampanye Hak Asasi Manusia yang menjadi kajian penting usai PD II

  • Korban lebih banyak dialami oleh pihak sipil daripada prajurit3 karena kaburnya batasan yang jelas antara garis depan dan ruang sipil itu sendiri


Musuh utama dari perang postmodern adalah perang itu sendiri, yang memunculkan taktik baru, variansi dan penggunaan mesin dalam perang. Koherensi dalam perang ini tidak secara struktural tetapi retorikal. Perang ini mengakibatkan konflik dengan intensitas yang rendah ( bukan damai dan bukan perang). Taktik baru yang dimunculkan adalah teknologi karena teknologi sekarang mempunyai andil yang sangat besar dalam penentuan politik ahl ini ditandai dengan penggunaan hasil teknologi mutakhir seperti nuklir dan robot. Perang terbagi dalam dunia nyata dan pikiran, oleh karena itu batas kapan dan dimana kedua pihak berperang juga tidak dapat ditentukan secara pasti. Selain teknologi, pemanfaatan faktor geopolitik dan cuaca dan sumber daya baik alam maupun manusia memainkan peran yang tak kalah penting. Keterlibatan birokrasi juga termasuk senjata yang dapat digunakan secara politik. Selain berusaha mematahkan laan, sebenarnya tujuan awal dari perang ini adalah dengan memainkan persepsi lawan untuk bergabung dengan kita karena mengajak seseorang untuk bergabung adalah lebih mudah dan murah daripada membunuhnya. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa senjata dalam perang postmodern adalah estimasi, persepsi, definisi karena itu media merupakan senjata yang penting dalam perang postmodern.

Perang Postmodern juga sering disebut sebagai ’perang yang tak umum’ (Irregular war) serperi gerilya,terorisme,cyber war,gerakan revolusi,dll. Beberapa tipe perang ini seperti perang gerilya dan terorisme akan dijelaskan sebagai berikut untuk membedakannya dengan perang konvensional :


  1. Perang gerilya

Berbeda dengan perang konvensional yang melakukan pertempuran secara besar-besaran, taktik perang gerilya bergerak dengan pemberontakan-pemberontakan kecil namun intens untuk menekan pihak lawan. Taktik ini sering dilakukan oleh etnis minoritas yang memberontak pada penguasa, kelompok separatisme yang ingin memisahkan diri dari negara induk, dan pejuang pembebasan yang melawan pihak-pihak penjajah. Tekanan yang dilakukan terhadap pemerintah yang berkuasa juga bervariasi, tergantung dari seberapa besar permasalahan yang ada dan tentara nasional dari pemerintah sendiri. Tekanan yang diberikan juga dipengaruhi oleh legitimasi rakyat sipil terhadap gerakan kaum gerilyawan tersebut. Dalam menjalankan gerakannya, para gerilyawan memiliki pasukan medium (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar), terdiri atas platon dan batalyon. Karena tekanan yang tidak langsung membombardir sasaran, gerilyawan melakukan serangan dalam jangka waktu yang lama dengan persiapan panjang. Mereka tidak mempunyai legal domestic (legitimasi gerakan secara resmi). Karena fokusnya pada satu kepentingan ,gerilyawan memfokuskan serangan pada daerah tertentu, biasanya pada alat-alat politik dan infrastruktur untuk menekan pemerintah. Kadang-kadang gerilyawan menggunakan pakaian yang seragam untuk menandai keberadaan kelompok ini.


  1. Terorisme:

Sama halnya dengan kelompok gerilyawan, teroris juga menujukan tekanannya terhadap pemerintah. Berbeda dengan gerilyawan yang berkelompok dan perang konvensional yang bergerak dengan jumlah besar, pelaku teroris biasanya hanya melibatkan satu orang ataupun kelompok kecil dengan anggota kurang dari 10 orang. Jumlah yang kecil ini memungkinkan mereka dapat bergerak secara bebas, tidak adanya struktur hirarki yang rumit dalam suatu organisasi membuat gerakan mereka menjadi sulit untuk dideteksi. Kalaupun ada hirarki kepemimpinan, keberadaannya lebih merupakan pembagian tanggung jawab daripada kekuasaan secara nyata. Walaupun juga banyak kelompok teroris yang menyelubungi kegiatannya dengan organisasi tertentu.

Biasanya kepentingan yang mendasari gerakan terorisme adalah kepentingan yang dianggap esensial seperti perbedaan ideologi, agama dan ketidakpuasan yang diakibatkan oleh ketidakadilan dan tidak adanya kesejahteraan yang mendorong orang-orang ini melakukan tindak terorisme. Seperti halnya dengan perang gerilyawan di atas, intensitas tekanan yang dilakukan juga tidak terlalu tinggi, waalupun dapat dikatakan bahwa dampak dari tekanan itu bisa jadi luar biasa. Itulah yang menjadi fokus para teroris, serangan sedikit namun berdampak luar biasa besar untuk menekan pihak-pihak yang menjadi obkek kepentingan secara efektif.

Dalam melakukan serangan yang hampir selalu berdampak besar ini, mereka selalu melakukan persiapan panjang untuk menghindari kegagalan yang dapat berujung pada ditumpasnya gerakan ini sampai tak tersisa. Karena merupakan orang / kelompok yang tak resmi dengan persenjataan dan jumlah personal yang tak seimbang dengan tentara pemerintah, mereka memfokuskan tekanan pada serangan psikologis dengan cara menyerang siapapun dengan jumlah korban sebesar mungkin walaupun korban-korban itu sendiri tidak berkaitan langsung dengan lawan, tujuannya adalah menyebarkan teror dan menekan lawan secara psikologis. Saat sedang melakukan serangan, teroris tidak menggunakan seragam untuk menghindari rencana aksinya diketahui publik. Mereka tidak memiliki zona-zona kekuasaan sebagaimana yang dimiliki oleh para gerilyawan dan serangannya sering melewati batas negara. Selain baku hantam langsung dengan senapan, teroris juga sering memilih taktik dengan penggunaan bom. Baik melakukan peledakan suatu tempat maupun bom bunuh diri. Mereka juga kadang-kadang menculik korbannya untuk mendesak pihak alwan memberikan kepentingan yang dikehendaki teroris.4


Selain berperang secara fisik, para postmodernis juga melakukan ’perang’nya melalui pikiran dengan kritikan-kritikan dan propaganda. Kritikan mereka biasanya mengandung nihilisme dengan ketiadaan solusi tetapi selalu mengkritik dan mengkritik. Perang Postmodern dalam pikiran yang merupakan kritik pada dasarnya diturunkan dari keberadaan postmodern sendiri yang merupakan kritik dari enlightenment dan perang modern yang dilakukan oleh negara, seperti pada Perang Napoleon. Perang dalam pikiran ini memanfaatkan keberadaan simbol dan tradisi untuk menekan pihak lawan secara psikis maupun mengobarkan perang fisik itu sendiri pada pihak lain. Mereka juga suka merekonstruksi hal-hal yang telah ditinggalkan oleh sebagian besar orang karena ketidakpuasan mereka atas hal-hal konvensional yang terjadi.

Perang postmodern ini oleh beberapa ahli juga sering disebut sebagai cara baru dalam berperang dimana perang yang terjadi adalah perang secara asimetris. Perang secara asimetris (asymmetric warfare) menurut the National Defense University adalah versi dari perang yang tidak adil, disebut tidak adil karena tidak mematuhi aturan perang seperti yang telah banyak digariskan, pembangakngan ini termasuk penggunaan kejutan-kejutan dan dimensi strategi serta penggunaan senjata yang tidak direncanakan sebelumnya seperti penggunaan nuklir ataupun senjata kimia dan biologis. Hal ini terjadi dalam perang Somalis 1993 dan Perang Irak pada 1991. Perang asimetris ini kemudian memunculkan terorisme sebagai responnya. Isu terorisme ini sendiri makin menyita perhatian negara, U.S. Commission on National Security dalam laporannya memandang kegiatan terorisme di masa depan sebagai kegiatan yang kurang terstruktur namun mengalami peningkatan dalam membangun jaringannya. Tidak tersrukturnya gerakan mereka dapat membuat lawan sulit mengendus gerakan mereka, namun kelicinan ini sekaligus berhasil mengumpulkan massa dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kebanyakan dari mereka sekarang tidak dengan terang-terangan berafiliasi dengan negara atau organisasi agama dan ideologi tertentu sehingga keberadaan mereka lebih sulit dilacak.5

Dalam perang Irak, strategi yang dilakukan adalah tujuan perang untuk mengubah pandangan lawan untuk sejalan dengan pandangan kita. Jika ini tidak berhasil, maka langkah terakhir adalah bunuh lawan dan semua pendukungnya . Kebijakan perang sebelum PD II adalah membangun kekuatan menyerang saat konflik dan mengakhirinya saat konflik usai, sehingga memelihara kekuatan militer setelah PD II itu tidak berguna lagi. Di masa depan , pemimpin harus membubarkan kekuatan tentara dan membangun kembali saat dibutuhkan sehingga mereka merasa dibutuhkan untuk kondisi yang khusus. Dalam perang ini, Kiszely memandang sebagai perang ide dimana medan perangnya adalah persepsi sehingga sumber daya bukan lagi menjadi penentu kemenangan. Inilah yang disebut Kiszely dengan “post-modern warfare”: dimana perang tidak terhampar secara beruntun dalam ruang dan waktu yang jelas, tetapi homefront dan battleground menjadi kabur , tidak jelas kapan dimulai dan diakhiri. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kesadaran budaya (cultural awareness).6

Perang postmodern adalah perang tanpa kejujuran, pengetahuan, realiltas, moralitas, justifikasi dan tujuan yang jelas. Pemakaian kata ’tujuan’ ini juga menimbulakan ketidakjelasan. Jika yang dimaksudkan dengan tujuan adalah standar dan nilai yang bebas dari protokol lainnya, bisa dikatakan bahwa perang postmodern tetap memiliki suatu tujuan. Tetapi jika tujuan yang dimaksud adalah konsep tujuan yang masih terikat dengan aturan konvensional maka dapat dikatakan perang postmodernism tidak mempunyai tujuan yang jelas. Perang ini bukan perang agama, walaupun banyak pihak mempergunakan agama sebagai alasannya namun sebenarnya tindakan mereka tidak mencerminkan agama yang mereka bela.7

Perbedaan strategi Perang Postmodern dan strategi klasik dijelaskan dalam tabel berikut:


Tabel Perbedaan Strategi Perang Postmodern dan Strategi Klasik

No

Pembeda

Strategi Klasik

Strategi Postmodern

1

Bidang

Militer

Psikologi lebih kuat dari militer

2

Pemimpin

Jenderal

Siapa saja yang berpikiran irregular

3

Keterlibatan Jenderal

Praktis (turun ke lapangan)

Dari balik layar

4

Gabungan peserta

Tidak menghasilkan hal baru

Dapat menciptakan aliansi

5

Kepemimpinan

Wisdom (commonsense dan bakat)

Prudence (analitis, teknologi dan kompetensi)

6

Kekuatan Militer

Troops Deployment

Arms control dan cyber and machine deployment

7

Skala perang

Total war

Limited war and virtual war, destabilization, revolution, odd mid intensity conflict

8

Fungsi perang

survival

Security

9

Cara perang

Konventional

Gerilya dan gerakan revolusioner

10

Korban

Tentara

Sipil

11

Gender

Laki-laki

Tidak mengenal perbedaan gender

12

Yang berperan penting

Sumber daya, posisi

Media, teknologi

Sumber: diolah dari berbagai sumber


Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa strategi perang postmodern berbeda dengan strategi klasik yang mengutamakan serangan secara militer. Perang postmodern menitikberatkan pada tekanan psikologis sebagai senjata ampuh menandingi teknologi mutakhir yang banyak digunakan oleh pihak yang berlegitimasi. Tekanan ini diwujudkan dengan penggunaan berbagai macam cara yang kemudian menjadikan media sebagai alat penting dalam perang ini. Tekanan ini dapat diwujudkan dengan cara menyebarkan teror dan propaganda yang memanfaatkan keberadaan media, khusunya media televisi untuk menginformasikan tekanan mereka pada pihak yang menjai sasaran utama. Tujuannya untuk menekan psikologis lawan tanpa harus melukai lawan secara fisik yang pasti membutuhkan biaya yang lebih besar. Jadi dapat dikatakan bahwa pihak yang menang adalah pihak yang dapat menguasai perhatian media, sehingga sumber daya dan posisi geopopolitik yang menjadi andalan strategi klasik kini bukan merupakan senjata utama, walaupun peranan keduanya bukanlah hilang sama sekali. Peranan mereka direduksi oleh kemajuan teknologi khususnya media yang membentuk opini publik untuk melegitimasi gerakan. Juga untuk menginformasikan tekanan pada lawan.

Jika strategi klasik menjadikan jenderal sebagai satu-satunya orang yang berhak menentukan strategi, kelompok-kelompok pelaku perang postmodern membagikan tanggung jawab yang sama ke semua anggota, tidak mutlak harus ada pemimpin yang berkuasa. Walaupun keberadaan pemimpin tetap ditemui tetapi pemimpin ini lebih merupakan pemberi komando dan koordinasi daripada pimpinan dengan posisi ‘sakral’. Kepemimpinannya pun bukan lagi mengandalkan wisdom yang common sense dengan karisma kepada anak buah, tetapi mengutamakan prudensce dengan penguasaan yang tinggi di bidang teknologi dan pembentukan strategi-strategi yang tak konvensional agar tak mudah dipatahkan.

Karena militer bukan lagi medan tempur utama, pengerahan pasukan dalam strategi klasik kini telah digeser oleh robot, mesin dan bagaimana masing-masing pihak dapat mempergunakan kekuatannya dengan efisien tanpa melukai diri sendiri. Di sini prinsip ekonomi dan jumlah korban merupakan pertimbangan utama. Hal ini juga bertujuan untuk mencegah kerusakan bumi yang parah seperti yang diakibatkan oleh perang-perang sebelumnya. Jadi, mengalahkan lawan tanpa mengakibatkan kerusakan. Selain pergeseran kekuatan manusia menjadi kekuatan robot, tentara dalam postmodern juga menambahkan adiksi pada tentara dalam strategi klasik. Tentara dalam perang postmodern kini tidak memandang pria dan wanita sehingga perang ini juga melibatkan wanita. Hal ini terkait dengan kritikan postmodern sendiri tentang emansipasi dan kesamaan gender.

Keinginan untuk menjaga bumi ini juga didasari oleh penggunaan senjata dalam peperangan itu sendiri. Dikembangkannya nuklir dan senjata pemusnah masal lainnya mengakibatkan perang secara total seperti perang nuklir menjadi tidak mungkin dilakukan. Kemudian satu-satunya pilihan adalah perang terbatas yang berlarut-larut tetapi tidak muncul secara nyata ke permukaan. Senjata canggih yang dimiliki lawan memaksa mereka melakukan perang yang tak sesuai dengan aturan perang konvensional, yaitu perang tanpa aba-aba melalui gerilyawan dan terorisme.



Referensi:


Farganis,James,Reading in social theory, The McGraw Hill Companies,1996


Fish,Stanley,Postmodern Warfare:The Ignorance of Our Warrior Intellectuals, Harper’s Magazine <http://web.pdx.edu/~tothm/religion/postmodern%20warfare.htm> diakses pada 22 Desember 2008


Isenberg,David,Welcome to the Postmodern Warfare Era, <http://www.speakout.com/activism/opinions/2973-1.html> diakses pada 22 Desember 2008


Journal The systems of postmodern war


Postmodern War (AfterVietnam_PostmodernWar.pdf <http://ocw.mit.edu/NR/rdonlyres/Anthropology/21A-217Fall-2004/B2EABF61-4952-44D9-A83B-76C6F90C98C3/0/AfterVietnam_PostmodernWar.pdf >diakses pada 22 Desember 2008


Sutanto,Joko,Postmodern Strategy,power point yang dipresentasikan dalam kuliah Strategi, Fisip, Universitas Airlangga


Theofarrell, Learning Post-Modern Warfare, <http://kingsofwar.wordpress.com/2007/11/16/learning-post-modern-warfare/> diakses pada 22 Desember 2008






1 James Farganis,Reading in social theory, The McGraw Hill Companies,1996


2 AfterVietnam_PostmodernWar.pdf <http://ocw.mit.edu/>

3 Journal The systems of postmodern war

4 Joko Sutanto,Postmodern Strategy,power point yang dipresentasikan dalam kuliah Strategi, Fisip, Universitas Airlangga

5David Isenberg,Welcome to the Postmodern Warfare Era, <http://www.speakout.com&gt;

6Theofarrell,Learning Post-Modern Warfare,<http://kingsofwar.wordpress.com&gt;

7Stanley Fish,Postmodern Warfare:The Ignorance of Our Warrior Intellectuals, Harper’s Magazine<http://web.pdx.edu/>


Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: