Kopiitudashat's Blog

October 8, 2009

Tarik Menarik Kepentingan Kekuatan Besar di Timur Tengah ; Dari Imperialisme Menuju Nasionalisme Buatan

Filed under: IR stuff — kopiitudashat @ 6:45 am

Lenin dalam teorinya menuliskan bahwa kapitalisme telah memasuki era baru dengan terbentuknya ‘monopoli kapitalisme’ . Keadaan yang dimaksud adalah bagaimana pasar dalam negeri mengalami kejenuhan sehingga negara kapitalis mencari area baru sebagai pasar sekaligus pemasok bahan baku. Negara-negara industri kemudian berupaya mencari dan atau membagi-bagi daerah-daerah yang dianggap strategis. Daerah yang hingga dewasa ini sebagai ‘daerah panas’ adalah wilayah Asia Barat – lebih dikenal dengan nama Timur Tengah – yang menjadi tarik-menarik kekuatan Barat, terutama kekuatan besar (great powers) yaitu Inggris, Perancis, Jerman dan Rusia. Tarik-menarik ini diwujudkan dengan imperialisme yang dapat dipahami sebagai proses dominasi suatu negara terhadap negara lain yang pelaksanaan pemberian pengaruh dapat secara langsung ataupun melalui perantara (proxy) . Proses dominasi ini dapat meliputi aspek politik, budaya maupun ekonomi.
Imperialisme dapat terjadi karena adanya disparitas antara satu wilayah negara-bangsa dengan negara-bangsa lainnya. Perkembangan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan di Eropa, khususnya pada tahun 1400 SM – 1700 M membawa Eropa ke dalam suatu kemajuan komunikasi dan transportasi yang luas biasa. Terutama setelah revolusi industri pada abad XVIII yang menjadikan sektor industri sebagai sumber pemasukan utama negara-negara Eropa. Lambat laun, sumber daya di negara asal dirasa sudah tidak mencukupi kebutuhan untuk produksi industri. Di sisi lain, negara-negara ini membutuhkan pasar untuk komoditas produksinya. Karena itulah mereka membutuhkan wilayah-wilayah yang kaya akan sumber daya namun belum memiliki kemajuan peradaban yang menyamai Eropa sehingga bisa menjadi wilayah pemasok bahan baku sekaligus pasar bagi produknya.
Titik awal kedatangan bangsa Eropa di Asia adalah pelayaran Vasco da Gama ke ujung selatan Afrika dan India pada 1498 yang menandai jalur pelayaran baru ke Asia sekaligus membuka jalur perdagangan dunia secara maritim, menggantikan jalur darat yang sudah dirasa tidak efisien lagi. Keunggulan produk Eropa secara kualitas dan teknologi kemudian membuat produk lokal dari wilayah-wilayah Asia, terutama Timur Tengah tidak dapat bersaing di pasaran sehingga melemahkan ekonomi lokal. Hal inilah yang menandai imperialisme ekonomi Eropa terhadap Timur Tengah, apalagi didukung oleh militer Eropa yang sangat kuat.
Salah satu kekaisaran besar di Timur Tengah yang menemui kejatuhannya akibat imperialisme Eropa adalah kekaisaran Ottoman yang wilayah kekuasaannya sangat luas, meliputi seluruh Asia Kecil dan sebagian Eropa hingga ke Laut Hitam . Imperialisme Eropa terutama sangat terasa di bidang politik dan budaya sehingga kemudian hampir semua aspek kehidupan mengadopsi nilai dan kebiasaan Eropa, dikenal dengan Periode Tulip (1718-1730). Perubahan ini kemudian menimbulkan gerakan nasionalisme yang menentang reformasi kebudayaan Ottoman. Revolusi ini digerakkan oleh Selim III yang menjadi cikal bakal revolusi selanjutnya. Gerakan revolusi ini mendapat pertentangan dari kaum Janissaries yang lalu ditumpas habis oleh rezim Sultan Mahmud II dan kemudian menandai periode reformasi yang lebih dikenal dengan periode Tanzimat.
Reformasi yang digerakkan pada periode ini bertujuan untuk mewujudkan sentralisasi pemerintahan demi menekan pajak yang sangat tinggi di tiap-tiap wilayah propinsi sekaligus mencegah gerakan yang tidak royal terhadap sultan akibat pemberian otonomi yang terdesentralisasi. Secara tidak langsung, reformasi ini menjadi titik penting bagi kekuasaan Ottoman karena memunculkan golongan teknokrat dengan intelektualitas tinggi dan menjadi sangat tergantung kepada Eropa karena kebutuhan akan pendidikan itu. Golongan ini juga menyerap paham nasionalisme dan demokrasi dari pendidikan yang diterimanya. Reformasi ini dimanfaatkan oleh great powers yang berkepentingan untuk mengatur politik internal di wilayah Ottoman dengan strategi ganda. Great powers memberikan bantuan-bantuan keuangan untuk menjaga wilayah ini agar tetap ‘hidup’ sehingga tetap dapat menjadi pemasok sumber daya. Namun dalam waktu yang bersamaan, mereka mendorong berbagai gerakan instabilitas dalam negeri untuk memperlemah kekaisaran. Imperialisme Barat pada akhirnya memunculkan semangat dan gerakan nasionalisme yang dipimpin oleh Kemal Ataturk pada 1908 dan memunculkan Turki sebagai negara yang berdaulat.
Jika di Ottoman terdapat tarik-menarik kekuatan empat negara, maka imperialis utama di Mesir adalah Perancis yang melihat Mesir sebagai lumbung padi, pengontrol militer dan perdagangan Timur Tengah serta basis militer untuk melawan Inggris di India. Penguasaan Perancis ditandai oleh invasi Napoleon pada 1798 yang menggulingkan pemerintahan Mameluks di Mesir yang dilanjutkan dengan invasi ke Palestina dan Syria pada 1799. Namun kedua invasi ini gagal dan menyebabkan keluarnya Perancis dari wilayah itu. Invasi Barat ini memberikan pelajaran kepada Muhammad Ali bahwa untuk lepas dari imperialisme, mereka harus mampu mensejajarkan diri terhadap pengetahuan dan kekuatan ekonomi serta militer Eropa. Karena itulah pemerintah Mesir benar-benar menggalakkan pendidikan dan membangun angkatan militer yang kuat. Sumber pembiayaannya didapatkan dari restrukturisasi aturan pajak dan pertanahan serta pembudidayaan kapas di lembah sungai Nil. Di bawah pemerintahan Muhammad Ali, Mesir dapat melepaskan dirinya dari kekuasaan Ottoman sekaligus mengusir suku ekspasionis Arab, Wahhabis.
Zona kenyamanan ini kemudian kembali diruntuhkan oleh tarik-menarik great powers, terutama pertentangan Inggris dan Perancis yang membuat Inggris memutuskan untuk menggulingkan penguasa Mesir guna memperlemah aliansi Perancis, sekaligus mencegah Rusia menguasai wilayah Ottoman yang telah melemah. Dominasi Eropa terlihat jelas dalam pembangunan Terusan Suez oleh Ferdinand de Lessep pada 1854 yang mengeruk sebagian besar kekayaan Mesir. Keadaan diperparah oleh Perang Sipil di AS yang menyebabkan ketidakstabilan harga kapas yang merupakan komoditas utama Mesir. Inggris semakin bersemangat menaklukkan Mesir karena negara yang terletak di lembah Sungai Nil ini adalah jembatan utama Inggris menuju India, wilayah koloninya. Inggris kemudian memperluas wilayah kekuasaannya ke Jazirah Arab untuk mempertahankan India dari pengaruh Perancis, Rusia, dan Jerman serta sebagai penghubung ke Aden dan Gibraltar. Wilayah yang diduduki umumnya wilayah pantai, meliputi Pulau Perim dan Teluk Aden yang bernilai strategis untuk persediaan air sekaligus jalur transportasi perdagangan. Tahun 1833-1887 menandai usaha intensif Inggris untuk menguasai jalan air dan darat dari Mesopotamia ke India .

Pada 1850an, perhatian great powers beralih ke Persia, atau yang kini dikenal dengan nama Iran. Wilayah ini mempunyai arti penting bagi Inggris untuk mempertahankan India dari Rusia karena ambisi Rusia untuk menguasai Samudra Hindia. Pada Dinasti Qajar, pemerintahan Persia berusaha menjaga kestabilan ekonomi wilayahnya demi menjaga ketertarikan Eropa untuk memicu perkembangan dan pembangunan di wilayah itu. Komitmen pemerintah Persia untuk bekerjasama dengan imperialisme Barat terus berlanjut hingga konsesi dengan Reuter pada 1872 semakin mempertegas ‘penjualan’ wilayah ini pada Eropa karena Reuter menyanggupi pembangunan kereta api, pertambangan, irigasi, industri, telepon, jalan raya secara monopoli dengan imbalan sejumlah pembayaran dan pembagian keuntungan dengan kalangan bangsawan. Monopoli tembakau oleh Inggris pada 1890 memicu campur tangan Rusia untuk mendukung pemerintahan Jemal al-Din al-Afghani yang menggerakkan sejumlah protes dan gerakan nasionalisme yang sangat luas di Persia sehingga berhasil menggagalkan konsesi tembakau.
Pembatalan ini menimbulkan kerugian yang sangat besar di pihak Shah sehingga kemudian Inggris memberikan pinjamannya yang juga diikuti oleh pemberian pinjaman oleh Rusia. Pengaruh Inggris semakin besar sejak ditemukannya petroleum di Persia pada 1908. Tarik-menarik ini membagi Persia menjadi dua bagian, wilayah utara di bawah pengaruh Rusia dan Selatan di bawah pengaruh Inggris. Keadaan tetap berlangsung hingga pergantian kekuasaan Shah Reza kepada putranya, Mohammed Reza Pahlevi pada 1941.
Dari deskripsi ini ada beberapa poin yang ingin saya kemukakan. Pertama, selain karena kekuatan militer dan ekonomi Inggris yang cukup kuat, salah satu faktor penyebab lamanya jangka waktu kekuasaannya terhadap wilayah imperialisnya adalah kemampuan Inggris untuk menerapkan strategi ganda dengan usaha untuk memakmurkan daerah jajahan sekaligus mencegah daerah itu mencapai kekuatannya yang membawa pada kemerdekaan negara-negara bekas kekuasaan Ottoman seperti Serbia, Yunani, Rumania, Montenegro dan Bulgaria.
Kedua, seiring dengan strategi ganda Eropa ini, imperialisme yang dilancarkan ternyata menimbulkan nasionalisme dan gerakan perjuangan kemerdekaan, baik karena kesadaran sendiri maupun karena provokasi Eropa. Seperti misalnya gerakan Zimmermann oleh Jerman untuk mendorong tumbuhnya nasionalisme di India, baik terhadap umat Hindu maupun Islam. Dari sini maka kemudian muncul pertanyaan, apakah negara-bangsa yang berdaulat saat ini adalah murni bentuk kesatuan nation (sekumpulan orang dengan kesamaan nasib, tujuan atau cita-cita) atau apakah negara-bangsa saat ini lebih merupakan ‘hadiah’ dari Barat sehingga inilah yang kemudian memicu timbulnya neoimperialisme dewasa ini.
Referensi :
Lenczowski, George, Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia ; Edisi Ketiga, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 1992
Linklater, Andrew.Marxism in Booth,Ken.International Theory : Positivism and Beyond “The Interstate Structure of The Modern World System”
“Western Imperialism 1800-1914” in Anderson, Roy R.et, al, 1998, Politics and Change in The Middle East, New Jersey : Prentice Hall, pp 52-56

About these ads

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: